Artikel ke-5: Bahaya Khuruj (Melawan) terhadap Pemerintah

Oleh: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari1

Gerakan khuruj (pemberontakan) dan inqilab (melancarkan kudeta) terhadap suatu pemerintahan (yang sah) bukanlah sarana untuk memperbaiki masyarakat. Bahkan justru memicu timbulnya kerusakan di tengah masyarakat.

Khuruj terhadap pemerintah Muslim, bagaimanapun tingkat kezhalimannya, merupakan bentuk penyimpangan dari manhaj Ahlus-Sunnah (wal-Jama’ah). Ada dua macam bentuk khuruj; (1) Khuruj dengan memanggul senjata, (2) Khuruj dengan perkataan dan lisan.

Mereka yang selalu memunculkan perpecahan, pertikaian, dan pergolakan terhadap pemerintahan Muslim, pada hakikatnya telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan tersebut. Padahal, Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk bersabar, sebagaimana sabda beliau (yang artinya):

Kecuali engkau melihat suatu ke-kufur-an yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allaah.” (Hadits Muttafaq ‘alaih)

Renungkanlah perkataan Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam;Kecuali engkau melihat suatu kekufuran.” Penuturan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak terhenti sampai disitu saja, tetapi diiringi dengan keterangan “ke-kufur-an yang sangat jelas.” Lantas beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menambahkan keterangan lebih lanjut “yang dapat engkau buktikan tentang itu di sisi Allaah.

Di dalam hadits ini, beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan lima buah penekanan untuk mencegah orang dari khuruj dan takfir (mengkafirkan pemerintah ataupun individu Muslim) yang merupakan perbuatan sangat buruk dan berbahaya. Karena dapat mengakibatkan kerusakan dan kehancuran ditengah masyarakat.

Bahkan Imam Ibnul-Qayyim rahimahullaah berkata didalam kitabnya, I’lamul Muwaqqi’in: “Tidak ada satu pemberontakan pun terhadap pemerintah Muslim yang membawa kebaikan terhadap umat pada masa kapan pun.

Begitu juga hujatan terhadap pemerintah. Manakala sebagian orang menjadikan hujatan terhadap pemerintah sebagai materi ceramah dan “nasihat-nasihat” yang mereka sampaikan untuk memperoleh simpati manusia. Manusia pada dasarnya menyukai hujatan terhadap pemerintah, juga terhadap para penguasa dan pemimpin, serta kepada setiap orang yang mempunyai posisi lebih tinggi dari mereka. Seakan-akan hujatan dan celaan tersebut sebagai hiburan yang dapat menyenangkan hati mereka.

Sungguh suatu fenomena yang sangat menyedihkan ketika kita menyaksikan hujatan, makian, serta cercaan terhadap pemerintah, saat ini menjadi materi-materi ceramah dan “masukan” bagi sebagian da’i zaman sekarang, khususnya pada waktu terjadinya fitnah. Hingga materi yang mereka sampaikan akan membuat orang-orang berkomentar: ”Masyaa Allaah, Syaikh ini orang yang berani, atau Syaikh ini orang yang kuat.” Padahal fakta ini sesungguhnya tidak mendatangkan manfaat apapun, melainkan hanya akan menghasut dan mengotori jiwa.

Sebagian orang justru mengira, tindakan tersebut merupakan bentuk upaya menasehati pemerintah. Padahal terdapat metode dan prosedur dalam menasehati pemerintah, seperti termaktub dalam sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):

Barangsiapa di antara kalian yang ingin menasehati penguasa, maka hendaklah dia pergi kepadanya, dan merahasiakan nasihatnya itu.

Hadits Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini menjelaskan bahwa nasihat kepada para penguasa atau pemerintah, hendaklah disampaikan secara rahasia. Karena bila ditempuh secara terang-terangan akan menimbulkan gejolak hati, yang merusak hati.

Kalau di antara kita –para penuntut ilmu- ada yang terjatuh kedalam suatu kesalahan, kemudian salah seorang menasihatinya di depan umum, ia langsung akan berkata: “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allaah. Janganlah kamu membuka aibku di depan umum. Kalau engkau ingin menasihatiku, maka lakukanlah dengan empat mata.

Kalau para penuntut ilmu, para da’i yang mengajak manusia kepada Kitabullaah dan Sunnah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam –yang mengetahui keutamaan ilmu, keutamaan al-haq dan kembali kepadanya (setelah mengalami kekeliruan)- tidak menyukai metode seperti ini dalam memberikan suatu nasihat, maka bagaimana mungkin para penguasa yang memiliki kedudukan, kekuasaan, senjata, serta tentara yang banyak –bagaimana mungkin mereka- akan dapat menerima nasihat dengan cara yang tidak simpatik ini. Justru yang lebih utama, tidak menasihati mereka di depan umum; kalaupun hal ini tidak mendatangkan maslahat bagi pemerintah, paling tidak akan memberi maslahat bagi diri kita sendiri. Hal ini, tentunya apabila mereka (para penguasa) adalah orang-orang Muslim.

Batasan yang paling rendah untuk menghukumi mereka sebagai seorang Muslim, ialah apabila mereka tunduk dan mengakui kebenaran agama Islam. Meskipun mereka melakukan suatu penyelewengan, mempunyai kesalahan yang banyak dan berbuat dosa-dosa besar. Dan ini semua tidak menjadikan mereka sebagai orang kafir, karena Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allaah.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih)

Kemudian Syaikh Muqbil rahimahullaah berkata: “Kami tidak memandang kudeta sebagai jalan untuk membenahi masyarakat. Bahkan gerakan tersebut, justru menimbulkan kerusakan dalam masyarakat.

Marilah kita simak sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim, dari hadits Arfajah Radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

Barangsiapa yang datang kepada kalian, ketika kalian bersatu dibawah satu pimpinan, dia berkeinginan untuk memecah belah persatuan kalian, maka bunuhlah dia.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa pemberontakan terhadap suatu pemerintah, yang dapat menimbulkan suatu perpecahan di kalangan masyarakat merupakan salah satu hal yang mewajibkan seseorang untuk dibunuh. Akan tetapi, perlu diingat, bahwa yang dapat menjatuhkan sanksi ini adalah waliyyul-amr, pemerintah yang memegang kekuasaan.

Dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit Radhiyallaahu ‘anhu, ia menceritakan (yang artinya):

Kami berbaiat kepada Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu patuh dan taat, baik terhadap apa yang kami suka maupun yang tidak kami suka, dan dalam keadaan sulit maupun lapang, dan untuk mendahulukan apa yang diperintahkan (diatas segala kehendak kami), dan untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpin yang sah. Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih)

Akan tetapi, ketaatan ini tidak boleh berlawanan dengan ketaatan kepada Allaah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):

Sesungguhnya ketaatan itu hanya terhadap perkara yang ma’ruf (baik) saja.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih)

Dan sebagaimana sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain (yang artinya):

Tidak boleh taat kepada makhluk di dalam maksiat kepada al-Khaliq.” (HR. Thabrani di dalam al-Mu’jamul Kabir)

Kalau mau merenung sejenak, niscaya kita akan memperoleh fakta bahwa dalam sejarah Islam, tidak ada satu pemberontakanpun yang berhasil. Lain halnya dengan orang-orang kafir, kebanyakan pemberontakan yang mereka gerakkan berakhir dengan keberhasilan. Di sini seakan-akan Allaah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki, supaya kita mau melihat dan memperhatikan bahwa cara seperti ini, bukanlah metode syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menginginkan kita supaya menempuh metode syar’i yang telah digariskan oleh-Nya, sebagaimana firman Allaah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya (yang artinya):

Sesungguhnya Allaah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d : 11)

Jika kamu menolong (agama) Allaah, niscaya Dia akan menolongmu.” (QS. Muhammad : 7)

Allaah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allaah Mahakuat, Mahaperkasa.” (QS. al-Hajj : 40)

Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa metode syar’i adalah tidak keluar dari Kitabullaah dan Sunnah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-An’am : 153)

Dari ‘Abdullaah bin Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata; ”Suatu hari Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam membuat suatu garis, kemudian beliau berkata; “Ini adalah jalan Allaah,” kemudian beliau membuat garis-garis yang banyak di bagian kanan dan bagian kirinya, lalu beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ini adalah jalan-jalan (yang dimaksud oleh Allaah), dan pada setiap jalan terdapat setan yang menyeru kepadanya,” kemudian beliau membaca ayat: “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”””

Dari sini jelaslah bagi kita, bahwa tidak ada jalan untuk memperbaiki kondisi masyarakat melainkan dengan mengikuti Sunnah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala macam bentuk bid’ah. Mari kita simak firman Allah ‘Azza wa Jalla yang sangat agung berikut ini (yang artinya):

Dan adakalanya kami memperlihatkan kepadamu (Muhammad) sebagian dari (siksaan) yang Kami janjikan kepada mereka, atau Kami wafatkan engkau (sebelum itu).” (QS. Yunus : 46)

Banyak diantara manusia yang berkata; “Kami belum melihat kejayaan Islam.” Ketahuilah! Bahwa tidaklah mesti kita melihat segala apa yang telah dijanjikan Allaah kepada kita, karena Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melihat segala apa yang di janjikan oleh Allaah. Coba kita menyimak firman Allaah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan janji-Nya kepada orang-orang beriman (yang artinya):

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai bagi mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Asalkan mereka (tetap) semata-mata beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan suatupun.” (QS. an-Nuur : 55)

Sungguh ini merupakan janji Allaah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kita dapat merealisasikan perintah Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan merealisasikan apa yang telah Dia janjikan kepada orang-orang yang beriman diantara kita.

Wallaahu ‘alam, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihii wa shahbihi wa sallam.

CATATAN KAKI:

  1. ^ Diterjemahkan oleh Ustadz Ahmad Danil dari penjelasan Syaikh Ali Hasan al-Halabi terhadap risalah Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullaah yang berjudul “Hadzihi Da’watuna wa Aqidatuna.”

SUMBER:

Artikel ini disalin dari Majalah as-Sunnah edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Alamat: Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. Telp. 0271-5891016.

Iklan