Artikel Ke-4: Cinta Palsu Syi’ah untuk Ahli Bait

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Sekelompok orang menamakan diri sebagai pecinta Ahli Bait. Setiap tahun, terutama di bulan Muharram, mereka mempunyai acara khusus terkait dengannya. Betulkah mereka mencintai Ahli Bait?

Istilah Ahli Bait bukanlah sesuatu yang asing di telinga umat Islam. Begitu disebut Ahli Bait, yang tergambar dalam (benak seseorang) adalah seseorang yang mempunyai tali kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Siapa Ahli Bait?

Ahlul-Bait adalah orang-orang yang sah pertalian nasabnya sampai kepada Hasyim bin Abdi Manaf (Bani Hasyim) baik lelaki (sering disebut dengan syarif) atau wanita (sering disebut syarifah) yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggal dunia dalam keadaan beriman.

Sebagian Ahlul-Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

  1. Para istri Rasul, berdasarkan (al-Qur’an) surat al-Ahzab : 33.
  2. Seluruh putra-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tidak khusus bagi Fathimah).
  3. ‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib dan keturunannya.
  4. al-Harits bin ‘Abdul-Muththalib dan keturunannya.
  5. ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (tidak sebatas pada al-Hasan dan al-Husain saja).
  6. Ja’far bin Abi Thalib dan keturunannya.
  7. Aqil bin Abi Thalib dan keturunannya.

Rinciannya bisa dilihat dalam Minhajus- Sunnah an-Nabawiyyah.

Kedudukan Ahlul-Bait

Kedudukan Ahlul-Bait di sisi Allah dan Rasul-Nya amat mulia. Diantara kemuliaan itu adalah:

  1. Allah bersihkan Ahlul Bait dari kejelekan. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):“Hanyalah Allah menginginkan untuk membersihkan kalian (wahai) Ahlul-Bait dari kejelekan dan benar-benar menginginkan untuk mensucikan kalian.” (QS. al-Ahzab : 33)
  2. Perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpegang dengan bimbingan mereka.Dari Jabir bin ‘Abdillah, berkata; “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat haji pada hari Arafah, beliau berada diatas untanya, si al-Qashwa, sambil berkhutbah. Aku mendengar beliau berkata; ‘Wahai manusia sesungguh(nya) aku telah meninggalkan sesuatu untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan Ahlul-Baitku.’”Oleh karena itu tidaklah ragu lagi, bahwa Ahlul-Bait memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah dan Rasul-Nya.Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata; “Tidak diragukan lagi bahwa mencintai Ahlul-Bait adalah wajib.” al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata; “Termasuk memuliakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunannya.”Para sahabat sangat memuliakan Ahlul-Bait, baik yang dari kalangan Sahabat maupun Tabi’in. Demikianlah hendaknya sikap seorang Muslim. Wajib mencintai, menghormati, memuliakan, dan tidak menyakiti Ahlul-Bait.

    Tolok ukur kecintaan terhadap mereka semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa iman tidak akan bermanfaat kekerabatan seseorang terhadap Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

    Yaitu di hari (hari kiamat) yang harta dan anak keturunan tidak lagi bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Allah dengan hati yang lurus.” (QS. asy-Syu’ara` : 88-89)

    Bila ada Ahlul-Bait yang jauh dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, martabatnya di bawah orang yang berpegang teguh dengan Sunnah Rasul, walaupun bukan Ahlul-Bait. Allah berfirman (yang artinya):

    Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat : 13)

Ahlul-Bait Menurut Syi’ah

Syi’ah memang terpecah-belah dalam banyak kelompok. Yang termasuk ghulat (berlebihan dalam kesesatan, red) adalah Syi’ah Rafidhah. Mereka punya pandangan tersendiri tentang Ahlul-Bait, sangat bathil dan zhalim, yaitu:

  • Ahlul-Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbatas pada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.
  • Putra-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain Fathimah didepak dari lingkaran Ahlul-Bait.
  • Didepak pula semua istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali Khadijah, dari lingkaran Ahlul-Bait.
  • Dua belas putra Ali, selain Hasan dan Husain, dan 18 atau 19 putrinya tidak diakui sebagai Ahlul-Bait.
  • Putra-putri Hasan, cicit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dianggap sebagai bagian dari Ahlul-Bait.
  • Hanya keturunan Husain-lah yang mereka akui sebagai Ahlul-Bait. Itu pun sebagian keturunan Husain dikeluarkan dari lingkaran Ahlul-Bait karena tidak mencocoki hawa nafsu kaum Rafidhah. Sebagian keturunan Husain dilemparinya dengan kedustaan, kejahatan dan kefasikan, bahkan vonis kafir dan murtad pun dijatuhkan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!

Syi’ah mempunyai dua sikap yang saling bertolak belakang terhadap sesama Ahli Bait. Dalam satu sisi begitu berlebihan dalam mencintai (ifrath) Ahli Bait, sementara kepada sebagian Ahli Bait mereka sangat membencinya (tafrith).

Sikap Ifrath

al-Kulaini didalam al-Ushul min al-Kafi 19/197 membuat kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib, tulisnya; “Sesungguhnya aku diberi beberapa sifat yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku -sekalipun para Nabi. Aku mengetahui seluruh kenikmatan, musibah, nasab, dan keputusan hukum pada manusia. Tidaklah luput dariku perkara yang telah lampau dan tidaklah tersembunyi dariku perkara yang samar.

Didalam kitab al-Irsyad hal. 252 karya al-Mufid bin Muhammad an-Nu’man ditulis; “Ziarah kepada kubur Husain radhiyallahu ‘anhu bagaikan 100 kali haji mabrur dan 100 kali umrah.

Kedustaan mereka semakin menjadi-jadi saat menulis secara dusta sebuah ucapan yang mereka klaim sebagai perkataan Baqir bin Zainal Abidin rahimahullah; “Dan tidaklah keluar setetes air mata pun untuk meratapi kematian Husain, melainkan Allah akan mengampuni dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” Dalam riwayat lain ada tambahan lafal; “dan mendapatkan surga.” (Jala’ul’‘Uyun II hal. 464 dan 468 karya al-Majlisi al-Farisi)

Kecintaan kaum Syi’ah Rafidhah kepada beberapa Ahlul-Bait lebih bersifat kultus, bahkan menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai sekutu bagi Allah!

Sikap Tafrith

Diriwayatkan di dalam kitab Rijalul-Kasysyi hal. 54, karya al-Kasysyi, Allah berfirman (yang artinya);

Dialah sejelek-jelek penolong dan sejelek-jelek keluarga.” (al-Hajj:13) ayat ini turun tentang perihal ‘Abbas (paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Sementara salah satu anak ‘Abbas bin Abdul-Muthalib, ‘Abdullah, dicela dan difitnah. al-Qahbani dalam kitab Majma’ur-Rijal 4/143 mengatakan; “Sesungguhnya orang ini telah mengkhianati Ali dan telah mengambil harta (shadaqah) dari baitul-mal di kota Bashrah.

Kecurangan Syi’ah semakin kentara saat ingin mencela dan memfitnah Ummul-Mukminin ‘Aisyah, mereka secara dusta membuat pernyataan yang disandarkan kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas, orang yang sebelumnya dicaci. “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan Rasulullah…” (Ikhtiyar Ma’rifatur-Rijal karya ath-Thusi hal. 57-60)

Para Imam Ahlul-Bait Mencela Syi’ah Rafidhah

Orang-orang Syiah, mengklaim para imam Ahli Bait sebagai imam mereka. Klaim penuh dusta ini didustakan oleh para imam itu sendiri.

Ali bin Abi Thalib berkata; “Orang yang mengutamakan aku melebihi dua syaikh (Abu Bakar dan Umar) akan aku dera sebagai pendusta.

Muhammad bin Ali (al-Baqir) rahimahullah berkata; “Keluarga Fathimah telah bersepakat untuk memuji Abu Bakar dan Umar dengan sebaik-baik pujian.

Ja’far bin Muhammad (ash-Shadiq) rahimahullah berkata; “Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci siapa saja yang membenci Abu Bakar dan Umar.

Sungguh barangsiapa mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak Ahlul-Bait namun ternyata berlepas diri dari orang-orang yang dicintai Ahlul-Bait, maka yang ada hanya kedustaan belaka. Cinta mereka adalah cinta palsu. Ahlul-Bait mana yang mereka ikuti?! Sungguh indah perkataan penyair Arab:

Setiap lelaki mengaku kekasih Laila. Namun Laila tidak pernah mengakuinya.

Terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu tidak lepas dari penipuan Syi’ah Rafidhah, mereka beramai-ramai meninggalkan Husain dan keluarganya saat dikepung oleh pasukan Ziyad.

Ternyata Syi’ah Rafidhah menyimpan kebencian terhadap Ahlul-Bait. Kebencian itu tidak hanya berupa ucapan atau tulisan belaka. Mereka wujudkan dalam perbuatan, andilnya mereka dalam peristiwa terbunuhnya Husain. Terlalu panjang untuk mengungkap peristiwa menyedihkan itu, namun cukuplah tulisan para ulama mereka sendiri sebagai bukti atas kejahatan mereka.

Didalam kitab al-Irsyad hal. 241 karya al-Mufid diriwayatkan bahwa al-Husain pernah mengatakan; “Ya Allah jika engkau memanjangkan hidup mereka (Syi’ah Rafidhah) maka porak-porandakanlah barisan mereka, jadikanlah mereka terpecah-belah dan janganlah engkau ridhai pemimpin-pemimpin mereka, selama-lamanya. Mereka mengajak orang untuk membela kami, namun ternyata justru memusuhi dan membunuh kami.

Didalam kitab al-Ihtijaj 2/29 karya Abu Manshur ath-Thibrisi diriwayatkan bahwa Ali bin Husain, dikenal dengan Zainal Abidin, pernah berkata tentang kaum Syi’ah Rafidhah di negeri Irak, “Mereka menangisi kematian kami, padahal siapakah yang membunuh kami kalau bukan mereka?!

Hadits Palsu dan Lemah tentang Ahli Bait

Hadits yang disandarkan pada ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Perumpamaan Ahlul-Bait-ku seperti kapal Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya pasti dia selamat dan barangsiapa yang enggan untuk menaikinya, maka dia akan tenggelam (binasa).

Hadits ini dha’if (lemah) walaupun diriwayatkan dari beberapa jalan. Beberapa ulama pakar hadits seperti al-Imam Yahya bin Ma’in, al-Bukhari, an-Nasa’i, ad-Daruquthni, adz-Dzahabi, dan beberapa ulama lainnya telah mengkritik beberapa orang yang meriwayatkan hadits tersebut. (Silsilah al-Ahaditsi adh-Dha’ifah no. 4503 karya al-Albani)

Orang yang mengaku cinta memang belum pasti mencintai sesungguh hati, betapa banyak cinta bertebaran di dunia ini. Cinta palsu tidak akan terbukti selamanya. Begitu pula klaim kaum Syi’ah Rafidhah tentang cinta kepada Ahli Bait hanyalah klaim palsu. Tak lebih untuk mendapatkan keuntungan kelompoknya. Karena itulah mereka tidak bisa bersikap adil terhadap semua Ahli Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bish-shawab.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari majalah Fatawa, volume III, nomor 6, Mei 2007 M/Rabiul-Akhir 1428 H, halaman 24-26.