Artikel Ke-7: Peristiwa Karbala dalam Pandangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

Oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Urgensi Sanad

Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan dalam kitab Aqidah al-Wasithiyyah: “Ahlus-Sunnah menahan lidah dari permasalahan atau pertikaian yang terjadi diantara para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dan mereka juga mengatakan: ‘Sesungguhnya riwayat-riwayat yang dibawakan dan sampai kepada kita tentang keburukan-keburukan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum (pertikaian atau peperangan) ada yang dusta dan ada juga yang ditambah, dikurangi dan dirubah dari aslinya (serta ada pula yang shahih-pen). Riwayat yang shahih menyatakan, bahwa para Sahabat radhiyallahu ‘anhum ini ma’dzûrûn (orang-orang yang diberi udzur). Baik dikatakan karena mereka itu para mujtahid yang melakukan ijtihad dengan benar ataupun juga para mujtahid yang ijtihadnya keliru.’”1

Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah memposisikan riwayat-riwayat ini. Ketiga riwayat ini bertebaran dalam kitab-kitab tarikh (sejarah). Dan ini mencakup semua kejadian dalam sejarah Islam, termasuk kisah pembunuhan Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala. Sebagian besar riwayat tentang peristiwa menyedihkan ini adalah kebohongan belaka. Sebagian lagi dha’if dan ada juga yang shahih. Riwayat yang dinyatakan shahih oleh para ulama ahli hadits yang bersesuaian dengan kaidah ilmiah dalam ilmu hadits, (maka) inilah yang wajib dijadikan pedoman dalam mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Dari sini, kita dapat memahami betapa sanad itu sangat penting untuk membungkam para pendusta dan membongkar niat busuk mereka.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan; “Sanad itu senjata kaum Muslimin, jika dia tidak memiliki senjata lalu apa yang dia pergunakan dalam berperang?” Perkataan ini diriwayatkan oleh al-Hâkim dalam kitab al-Madkhal.

‘Abdullah bin Mubârak rahimahullah mengatakan; “Sanad ini termasuk bagian dari agama. kalau tidak ada isnad, maka siapapun bisa berbicara semaunya.” Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab Shahih Beliau rahimahullah.

Di tempat yang sama, Imam Muslim rahimahullah juga membawakan perkataan Ibnu Sîrin; “Dahulu, mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Ketika fitnah mulai banyak, mereka mengatakan; ‘Sebutkanlah nama orang-orangmu yang meriwayatkannya!’

Kronologi Terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu

Berkait dengan peristiwa Karbala, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan; “Orang-orang yang meriwayatkan pertikaian Husain radhiyallahu ‘anhu telah memberikan tambahan dusta yang sangat banyak, sebagaimana juga mereka telah membubuhkan dusta pada peristiwa pembunuhan terhadap ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana mereka juga memberikan tambahan cerita (dusta) pada peristiwa-peristiwa yang ingin mereka besar-besarkan, seperti dalam riwayat mengenai peperangan, kemenangan dan lain sebagainya. Para penulis tentang berita pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, ada diantara mereka yang merupakan ahli ilmu (ulama) seperti al-Baghawi rahimahullah dan Ibnu Abi Dun-ya dan lain sebagainya. Namun demikian, diantara riwayat yang mereka bawakan ada yang terputus sanadnya. Sedangkan yang membawakan cerita tentang peristiwa ini dengan tanpa sanad, kedustaannya sangat banyak.2

Oleh karenanya, dalam pembahasan tentang peristiwa ini perlu diperhatikan sanadnya.

Riwayat Shahih tentang Peristiwa Karbala

Riwayat yang paling shahih ini dibawakan oleh Imam al-Bukhâri, nomor 3748:

Aku diberitahu oleh Muhammad bin Husain bin Ibrâhîm, dia mengatakan; aku diberitahu oleh Husain bin Muhammad, kami diberitahu oleh Jarîr dari Muhammad dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan; ‘Kepala Husain dibawa dan didatangkan kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd3. Kepala itu ditaruh di bejana. Lalu ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husain. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; ‘Diantara Ahlul-Bait, Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Saat itu, Husain radhiyallahu ‘anhu disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam).’

Kisahnya, Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma tinggal di Makkah bersama beberapa Shahabat, seperti Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhuma. Ketika Muawiyah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia pada tahun 60 H, anak Beliau Yazîd bin Muâwiyah menggantikannya sebagai imam kaum Muslimin atau khalifah. Saat itu, penduduk Irak yang didominasi oleh pengikut ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Husain radhiyallahu ‘anhu meminta Beliau radhiyallahu ‘anhu pindah ke Irak. Mereka berjanji akan membai’at Husain radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah karena mereka tidak menginginkan Yazîd bin Muâwiyah menduduki jabatan khalifah. Tidak cukup dengan surat, mereka terkadang mendatangi Husain radhiyallahu ‘anhu di Makkah, mengajak Beliau radhiyallahu ‘anhu berangkat ke Kufah dan berjanji akan menyediakan pasukan. Para Sahabat seperti Ibnu Abbâs radhiyallahu ‘anhuma kerap kali menasehati Husain radhiyallahu ‘anhu agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husain radhiyallahu ‘anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dibunuh di Kufah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu khawatir mereka membunuh Husain radhiyallahu ‘anhu juga disana. Husain radhiyallahu ‘anhu mengatakan; “Saya sudah melakukan istikharah dan akan berangkat kesana.

Sebagian riwayat menyatakan bahwa Beliau radhiyallahu ‘anhu mengambil keputusan ini karena belum mendengar kabar tentang sepupunya, Muslim bin ‘Aqil, yang telah dibunuh disana.

Akhirnya, berangkatlah Husain radhiyallahu ‘anhu bersama keluarga menuju Kufah.

Sementara di pihak yang lain, ‘Ubaidullah bin Ziyâd diutus oleh Yazid bin Muawiyah untuk mengatasi pergolakan di Irak. Akhirnya, ‘Ubaidullah dengan pasukannya berhadapan dengan Husain radhiyallahu ‘anhu bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Irak. Pergolakan ini sendiri dipicu oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan Husain radhiyallahu ‘anhu. Dua pasukan yang sangat tidak imbang ini bertemu, sementara orang-orang Irak yang (telah) membujuk Husain radhiyallahu ‘anhu, dan berjanji akan membantu dan menyiapkan pasukan justru melarikan diri meninggalkan Husain radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah. Sampai akhirnya, terbunuhlah Husain radhiyallahu ‘anhu sebagai orang yang terzhalimi dan sebagai syahid. Kepalanya dipenggal lalu dibawa ke hadapan ‘Ubaidullah bin Ziyâd dan kepala itu diletakkan di bejana.

Lalu ‘Ubaidullah yang durhaka4 ini kemudian menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husain radhiyallahu ‘anhu, padahal disitu ada Anas bin Mâlik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhuma. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; “Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium mulut itu!” Mendengarnya, orang durhaka ini mengatakan; “Seandainya saya tidak melihatmu sudah tua renta yang akalnya sudah rusak, maka pasti kepalamu saya penggal.

Dalam riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân dari Hafshah binti Sirîn dari Anas radhiyallahu ‘anhu dinyatakan:

Lalu ‘Ubaidullah mulai menusukkan pedangnya ke hidung Husain radhiyallahu ‘anhu.

Dalam riwayat ath-Thabrâni rahimahullah dari hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu:

Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husain radhiyallahu ‘anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan; ‘Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu.’

Demkian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu:

Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya; ‘Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium tempat dimana engkau menaruh pedangmu itu.’ Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya.

Demikianlah kejadiannya, setelah Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh, kepala Beliau radhiyallahu ‘anhu dipenggal dan ditaruh di bejana. Dan mata, hidung dan gigi Beliau radhiyallahu ‘anhu ditusuk-tusuk dengan pedang. Para Sahabat radhiyallahu ‘anhuma yang menyaksikan hal ini meminta kepada ‘Ubaidullah, orang durhaka ini, agar menyingkirkan pedang itu, karena mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menempel (di) tempat itu. Alangkah tinggi rasa hormat mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan alangkah sedih hati mereka menyaksikan cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang kesayangan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dihinakan di depan mata mereka.

Dari sini, kita mengetahui betapa banyak riwayat palsu tentang peristiwa ini yang menyatakan bahwa kepala Husain radhiyallahu ‘anhu diarak sampai diletakkan di depan Yazid rahimahullah. Para wanita dari keluarga Husain radhiyallahu ‘anhu dikelilingkan ke seluruh negeri dengan kendaaraan tanpa pelana, ditawan dan dirampas. Semua ini merupakan kepalsuan yang dibuat Rafidhah (Syiah). Karena Yazid rahimahullah saat itu sedang berada di Syam, sementara kejadian memilukan ini berlangsung di Irak.

Syaikhul-Islam Taimiyyah rahimahullah mengatakan; “Dalam riwayat dengan sanad yang majhul dinyatakan bahwa peristiwa penusukan ini terjadi di hadapan Yazid, kepala Husain radhiyallahu ‘anhu dibawa ke hadapannya dan dialah yang menusuk-nusuknya, gigi Husain radhiyallahu ‘anhu. Disamping dalam cerita (dusta) ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa cerita ini bohong, maka (untuk diketahui juga-red) para Sahabat yang menyaksikan peristiwa penusukan ini tidak berada di Syam, akan tetapi di negeri Irak. Justru sebaliknya, riwayat yang dibawakan oleh beberapa orang menyebutkan bahwa Yazid tidak memerintahkan ‘Ubaidullah untuk membunuh Husain.5

Yazid rahimahullah sangat menyesalkan terjadinya peristiwa menyedihkan itu. Karena Mu’awiyah berpesan agar berbuat baik kepada kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, saat mendengar kabar bahwa Husain dibunuh, mereka sekeluarga menangis dan melaknat ‘Ubaidullah. Hanya saja dia tidak menghukum dan meng-qishash ‘Ubaidullah, sebagai wujud pembelaan terhadap Husain secara tegas.6

Jadi memang benar, Husain radhiyallahu ‘anhu dibunuh dan kepalanya dipotong, tapi cerita tentang kepalanya diarak, wanita-wanita dinaikkan kendaraan tanpa pelana dan dirampas, semuanya dha’if (lemah). Alangkah banyak riwayat dha’if serta dusta seputar kejadian menyedihkan ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah diatas.

Kemudian juga, kisah pertumpahan darah yang terjadi di Karbala ditulis dan diberi tambahan-tambahan dusta. Tambahan-tambahan dusta ini bertujuan untuk menimbulkan dan memunculkan fitnah perpecahan di tengah kaum Muslimin. Sebagian dari kisah-kisah dusta itu bisa kita dapatkan dalam kitab Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Minhâjus-Sunnah IV/517 dan 554, 556:

  • Ketika hari pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu, langit menurunkan hujan darah lalu menempel di pakaian dan tidak pernah hilang dan langit nampak berwarna merah yang tidak pernah terlihat sebelum itu.
  • Tidak diangkat sebuah batu melainkan di bawahnya terdapat darah penyembelihan Husain radhiyallahu ‘anhu.
  • Kemudian mereka juga menisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah perkataan yang berbunyi:“Mereka ini adalah titipanku pada kalian, kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat; ‘Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (QS. asy Syûrâ : 42-23)”Riwayat ini dibantah oleh para ulama diantaranya Ibnu Taimiyyah rahimahullah dengan mengatakan; “Apa masuk di akal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkan kepada makhluk padahal Allah ‘Azza wa Jalla tempat penitip yang terbaik? Sedangkan ayat diatas yang mereka anggap diturunkan Allah ‘Azza wa Jalla berkenaan dengan peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, maka ini juga merupakan satu bentuk kebohongan. Karena ayat ini terdapat dalam surat as-Syûrâ dan surat ini Makkiyah. Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan surat ini sebelum Ali radhiyallahu ‘anhu dan Fathimah radhiyallahu anha menikah.

Husain radhiyallahu ‘anhu Terbunuh sebagai Orang yang Terzhalimi dan Mati Syahid

Ini merupakan keyakinan Ahlus-Sunnah. Pendapat ini berada diantara dua pendapat yang saling berlawanan. Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan; “Tidak disangsikan lagi bahwa Husain radhiyallahu ‘anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid. Pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan tindakan maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantu pembunuhan ini. Di sisi lain, merupakan musibah yang menimpa kaum Muslimin, keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya. Husain radhiyallahu ‘anhu berhak mendapatkan gelar syahid, kedudukan dan derajat ditinggikan.7

Kemudian, di halaman yang sama, Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu tidak lebih besar daripada pembunuhan terhadap para Rasul. Allah ‘Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa Bani Isra’il telah membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Pembunuhan terhadap para Nabi itu lebih besar dosanya dan merupakan musibah yang lebih dahsyat. Begitu pula pembunuhan terhadap ‘Ali radhiyallahu ‘anhu (bapak Husain radhiyallahu ‘anhuma) lebih besar dosa dan musibahnya, termasuk pembunuhan terhadap ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu juga.

Ini merupakan bantahan telak bagi kaum Syi’ah yang meratapi kematian Husain radhiyallahu ‘anhu, namun, tidak meratapi kematian para Nabi. Padahal pembunuhan yang dilakukan oleh Bani Isra’il terhadap para Nabi tanpa alasan yang benar lebih besar dosa dan musibahnya. Ini juga menunjukkan bahwa mereka bersikap ghuluw (melampau batas) kepada Husain radhiyallahu ‘anhu.

Sikap ghuluw ini mendorong mereka membuat berbagai hadits palsu. Misalnya, riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, pembunuh Husain radhiyallahu ‘anhu akan berada di tabut (peti yang terbuat dari api), dia mendapatkan siksa setengah siksa penghuni neraka, kedua tangan dan kakinya diikat dengan rantai dari api neraka, ditelungkupkan sampai masuk ke dasar neraka dan dalam keadaan berbau busuk, penduduk neraka berlindung dari bau busuk yang keluar dari orang tersebut dan dia kekal di dalamnya.

Syaikhul-Islam Ibnu Tamiyyah rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan; “Hadits ini termasuk diantara riwayat yang berasal dari para pendusta.

Menyikapi Peristiwa Karbala

Menyikapi peristiwa wafatnya Husain radhiyallahu ‘anhu, umat manusia terbagi menjadi tiga golongan. Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan; “Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, manusia terbagi menjadi tiga, dua golongan yang ekstrim dan satu berada di tengah-tengah.

Golongan Pertama: Mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu itu merupakan tindakan benar. Karena Husain radhiyallahu ‘anhu ingin memecah-belah kaum Muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu pemimpin lalu pendatang hendak memecah-belah jama’ah kalian, maka bunuhlah dia.”8

Kelompok pertama ini mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu datang saat urusan kaum Muslimin berada dibawah satu pemimpin (yaitu Yazid bin Muawiyah) dan Husain radhiyallahu ‘anhu hendak memecah-belah umat.

Sebagian lagi mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan orang pertama yang memberontak kepada penguasa. Kelompok ini melampaui batas, sampai berani menghinakan Husain radhiyallahu ‘anhu. Inilah kelompok ‘Ubaidullah bin Ziyâd, Hajjâj bin Yusûf dan lain-lain. Sedangkan Yazid bin Muâwiyah rahimahullah tidak seperti itu. Meskipun tidak menghukum ‘Ubaidullah, namun ia tidak menghendaki pembunuhan ini.

Golongan Kedua: Mereka mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu adalah imam yang wajib ditaati; tidak boleh menjalankan suatu perintah kecuali dengan perintahnya; tidak boleh melakukan shalat jama’ah kecuali dibelakangnya atau orang yang ditunjuknya, baik shalat lima waktu ataupun shalat Jum’at dan tidak boleh berjihad melawan musuh kecuali dengan izinnya dan lain sebagainya.9

Kelompok pertama dan kedua ini berkumpul di Irak. Hajjâj bin Yûsuf adalah pemimpin golongan pertama. Ia sangat benci kepada Husain radhiyallahu ‘anhu dan merupakan sosok yang zhalim. Sementara kelompok kedua dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid yang mengaku mendapat wahyu dan sangat fanatik dengan Husain radhiyallahu ‘anhu. Orang inilah yang memerintahkan pasukannya agar menyerang dan membunuh ‘Ubaidullah bin Ziyad dan memenggal kepalanya.

Golongan Ketiga: Yaitu Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang tidak sejalan dengan pendapat golongan pertama, juga tidak dengan pendapat golongan kedua. Mereka mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid. Inilah keyakinan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, yang selalu berada ditengah antara dua kelompok.

Ahlus-Sunnah mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu bukanlah pemberontak. Sebab, kedatangannya ke Irak bukan untuk memberontak. Seandainya mau memberontak, Beliau radhiyallahu ‘anhu bisa mengerahkan penduduk Makkah dan sekitarnya yang sangat menghormati dan menghargai Beliau radhiyallahu ‘anhu. Karena, saat Beliau radhiyallahu ‘anhu di Makkah, kewibawannya mengalahkan wibawa para Sahabat lain yang masih hidup pada masa itu di Makkah. Beliau radhiyallahu ‘anhu seorang alim dan ahli ibadah. Para Sahabat sangat mencintai dan menghormatinya. Karena Beliaulah Ahli Bait yang paling besar.

Jadi Husain radhiyallahu ‘anhu sama sekali bukan pemberontak. Oleh karena itu, ketika dalam perjalanannya menuju Irak dan mendengar sepupunya, Muslim bin ‘Aqîl, dibunuh di Irak, Beliau radhiyallahu ‘anhu berniat untuk kembali ke Makkah. Akan tetapi, Beliau radhiyallahu ‘anhu ditahan dan dipaksa oleh penduduk Irak untuk berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah bin Ziyâd. Akhirnya, Beliau radhiyallahu ‘anhu tewas terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid.

Setan Menyebarkan Bid’ah

Syaikhul-Islam mengatakan10; “Dengan sebab kematian Husain radhiyallahu ‘anhu, setan memunculkan dua bid’ah di tengah manusia.

Pertama: Bid’ah kesedihan dan ratapan para hari ‘Asyûra (di negeri kita ini, acara bid’ah ini sudah mulai diadakan -pen) seperti menampar-nampar, berteriak, merobek-robek, sampai-sampai mencaci-maki dan melaknat generasi Salaf, memasukkan orang-orang yang tidak berdosa ke dalam golongan orang yang berdosa (para Sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dimasukkan, padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak memiliki andil dosa sedikit pun. Pihak yang berdosa adalah yang terlibat langsung kala itu). Mereka sampai mereka berani mencaci Sâbiqûnal-awwalûn. Kemudian riwayat-riwayat tentang Husain radhiyallahu ‘anhu dibacakan yang kebanyakan merupakan kebohongan. Karena tujuan mereka adalah membuka pintu fitnah (perpecahan) di tengah umat.

Kemudian Syaikhul-Islam rahimahullah juga mengatakan; “Di Kufah, saat itu terdapat kaum yang senantiasa membela Husain radhiyallahu ‘anhu yang dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid al-Kadzdzâb (karena dia mengaku mendapatkan wahyu-pen). Di Kufah juga terdapat satu kaum yang membenci ‘Ali dan keturunan Beliau radhiyallahu ‘anhu. Di antara kelompok ini adalah Hajjâj bin Yûsuf ats-Tsaqafi. Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

Akan ada di suku Tsaqif seorang pendusta dan perusak.

Orang Syi’ah yang bernama Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid itulah sang pendusta. Sedangkan sang perusak adalah al-Hajjaj. Yang pertama membuat bid’ah kesedihan, sementara yang kedua membuat bid’ah kesenangan. Kelompok kedua ini pun meriwayatkan hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa melebihkan nafkah keluarganya pada hari ‘Asyûra, maka Allah ‘Azza wa Jalla melonggarkan rezekinya selama setahun itu.”

Juga hadits “barangsiapa memakai celak pada hari ‘Asyûra, maka tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu,” dan lain sebagainya.

Kedua: Bid’ah yang kedua adalah bid’ah kesenangan pada hari ‘Asyura. Karena itu, para khatib yang sering membawakan riwayat ini -karena ketidak-tahuannya tentang ilmu riwayat atau sejarah-, sebenarnya secara tidak langsung, masuk ke dalam kelompok al-Hajjâj, kelompok yang sangat membenci Husain radhiyallahu ‘anhu. Padahal wajib bagi kita meyakini bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid. Dan wajib bagi kita mencintai Sahabat yang mulia ini dengan tanpa melampaui batas dan tanpa mengurangi haknya, tidak mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu seorang Imam yang maksum (terbebas dari semua kesalahan), tidak pula mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu itu adalah tindakan yang benar. Pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu adalah tindakan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Itulah sekilas mengenai beberapa permasalahan yang berhubungan dengan peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu. Semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menghindarkan kita semua dari berbagai fitnah yang disebarkan oleh setan dan para tentaranya.

CATATAN KAKI:

  1. ^ Syarhu al-‘Aqidah al-Wâsithiyyah, Syaikh Shalih al-Fauzan, halaman198.
  2. ^ Minhâjus-Sunnah, IV/556.
  3. ^ Komandan pasukan yang memerangi Husain radhiyallahu ‘anhu, pada tahun 60-61 H di Irak di sebuah daerah yang bernama Karbala.
  4. ^ Ia disebut orang durhaka, karena dia tidak diperintah untuk membunuh Husain radhiyallahu ‘anhu, namun melakukannya.
  5. ^ Minhâjus-Sunnah, IV/557.
  6. ^ Lihat Minhâjus-Sunnah, V/557-558.
  7. ^ Minhâjus-Sunnah, IV/550.
  8. ^ HR. Muslim, Kitabul-Imârah.
  9. ^ Minhâjus-Sunnah, IV/553.
  10. ^ Minhâjus-Sunnah, IV/554.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari majalah as-Sunnah, edisi 10/Tahun XII/1430 H/2009 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo, Solo, 57183. Telp.: 0271-761016.

Iklan

Artikel Ke-6: ‘Asyura adalah Puasa, Bukan Berpesta atau Berkabung

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Islam menyodorkan konsep pendidikan yang utuh dan ajeg. Salah satu bentuknya adalah dengan berpuasa. Hikmah puasa, diantaranya, adalah sebagai proses penempaan kejiwaan. Karena itu puasa dianjurkan dilakukan secara rutin.

Bukan hanya yang bersifat wajib setiap bulan Ramadhan tiba. Puasa ada yang sunnah dilakukan setiap pekan, yakni puasa pada hari Senin dan Kamis. Harian juga ada seperti puasa Dawud. Kemudian ada pula yang rutin setiap tiga hari setiap bulan. Yang bersifat tahunan pun ada seperti Arafah dan ’Asyura.

Agungnya Bulan Muharram

Puasa ’Asyura dilaksanakan pada bulan pertama penanggalan hijrah, Muharram. Bulan ini adalah bulan yang agung dan diberkahi. Salah satu dari bulan haram (suci) yang Allah tegaskan dalam firman-Nya (yang artinya):

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian pada bulan yang empat itu.” (QS. at-Taubah:36)

Sementara itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“…satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya adalah empat bulan haram, yaitu tiga bulan yang berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang berada diantara bulan Jumada dan Sya’ban.1

Disebut bulan Muharram karena didalamnya diharamkan kezhaliman dengan penegasan yang kuat. Allah berfirman, (yang artinya):

“Jangan kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan tersebut.” (QS. at-Taubah:36)

Bukan berarti selain bulan tersebut boleh berlaku zhalim, tetapi pada bulan itu ditegaskan larangannya, sebagaimana perilaku zhalim ditegaskan larangannya di tanah haram. Ibnu Abbas menjelaskan tentang firman Allah tersebut; ”Allah mengkhususkan empat bulan yang haram dan menegaskan keharamannya. Allah juga menjadikan dosa pada bulan tersebut lebih besar. Demikian pula amal shalih dan pahala juga menjadi lebih besar.” Qatadah berkata; “Sesungguhnya Allah memilih beberapa pilihan dari makhluk-Nya, Allah telah memilih rasul (utusan) dari para malaikat sebagaimana Allah juga memilih rasul dari umat manusia, Allah memilih dzikir dari kalam-Nya, memilih masjid-masjid dari bumi-Nya, memilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram dari seluruh bulan, memilih hari Jum’at dari seluruh hari dalam satu pekan, memilih lailatul-qadr dari seluruh malam. Karena itu agungkanlah apa yang telah Allah agungkan, karena menurut para ulama segala sesuatu itu memiliki kedudukan agung jika memang telah Allah berikan kedudukan agung padanya.2

Puasa di Bulan Muharram

Diantara shalat sunnah, shalat malam adalah yang paling utama, begitu pun dengan puasa, setelah puasa wajib di bulan Ramadhan puasa sunnah di bulan Muharram adalah yang paling utama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah, Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah yang wajib adalah shalat malam.”3

Kata “bulan Allah” menunjukkan bahwa bulan tersebut memiliki keagungan karena disandarkan kepada Allah. Ada hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa satu bulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Jadi hadits ini merupakan anjuran untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram meski tidak satu bulan penuh.

Tidak seperti kaidah sembrono sebagaimana disodorkan oleh situs gelap yang mengaku sebagai SalafyIndonesia bahwa menetapkan keutamaan waktu dan tempat adalah bersifat ijtihadiyah. Karena itu tidak heran jika mereka sangat mengagungkan kuburan. Berbeda dengan para ulama, hak menetapkan tersebut adalah pada Allah kemudian Rasul-Nya. Imam al-‘Izz bin Abdis-salaam rahimahullah mengatakan; “Menetapkan keutamaan pada tempat dan waktu itu ada dua bentuk; Pertama: yang bersifat duniawi, Kedua: dieni (bersifat keagamaan) yang kembali pada kemurahan Allah terhadap para hamba-Nya untuk melipatgandahkan pahala bagi orang-orang yang beramal, seperti keutamaan puasa Ramadhan dari puasa pada bulan-bulan lain, demikian pula ‘Asyura. Keutamaan yang Allah berikan ini menunjukkan kemurahan dan kebaikan Allah terhadap hamba-hamba-Nya.”4

Puasa ‘Asyura dalam Sejarah

Sejarah puasa ‘Asyura digugat oleh agama Syi’ah. Wajar, sebab pada hari itu mereka punya gawe berupa hari berkabung dengan melakukan niyahah (ratapan) yang luar biasa. Gugurnya cucu Rasulullah, Husain, memang menyedihkan, sebagaimana gugurnya keluarga beliau lainnya, seperti Hamzah atau Ali yang ditikam kaum Khawarij. Hanya saja karena kematian Hamzah dan Ali tidak punya nilai jual bagi paham mereka, maka yang muncul hanyalah pesta peringatan kematian Husain radhiyallahu ‘anhu.

Mereka sempat mengklaim bahwa puasa ‘Asyura adalah palsu karena mengikuti orang Yahudi, sementara orang Yahudi punya kalender sendiri jauh sebelum penanggalan Hijriyah dicetuskan di zaman Umar. Klaim ini kemudian tidak populer, kini muncul anggapan (karena tidak ada bukti nyata berdasar ilmu hadits) bahwa hadits puasa ‘Asyura adalah buatan penguasa Bani Umayyah. Analisis mereka sekadar prasangka penuh duga ditambah dengan semangat ta’ashub (fanatik -ahlussunnah.info).

Salah satu yang mengabarkan hadits puasa ‘Asyura adalah Ibnu ‘Abbas, sepupu Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya: “Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya; ‘Hari apa ini?’ Orang-orang Yahudi menjawab; ‘Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa berpuasa pada hari ini.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; ‘Saya lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian!’ Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk melakukannya.5

Puasa ‘Asyura sudah dikenal bahkan pada masa jahiliyah sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi Rasul. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah beliau berkata; ’Sesungguhnya orang-orang jahiliyah dahulu sudah pernah mengerjakan puasa ‘Asyura.’ Imam al-Qurthubi mengatakan: ’Mungkin orang-orang jahiliyah melakukan puasa tersebut dengan alasan mengikuti syari’at umat terdahulu seperti Nabi Ibrahim.

Dalam suatu hadits dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengerjakan puasa ini di Makkah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Ketika beliau hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi memperingatinya. Maka beliau bertanya kepada mereka tentang sebabnya. Mereka menjawab sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits diatas. Beliaupun memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan perbuatan yang berbeda dengan mereka dimana mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari ‘Id. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits Abu Musa beliau mengatakan; ‘Hari ‘Asyura dijadikan sebagai hari ‘Id oleh orang-orang Yahudi.’ Dalam riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim;Hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan dan dijadikan sebagai hari ‘Id oleh orang-orang Yahudi.’ Dalam riwayat yang lain di Shahih Muslim disebutkan; ‘Penduduk Khaibar (Yahudi) menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ‘Id, mereka memakaikan para wanita mereka dengan berbagai perhiasan.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya); ‘Puasalah kalian pada hari tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa faktor yang mendorong perintah puasa ini adalah keinginan Rasulullah untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi, agar kita berpuasa pada hari dimana mereka berbuka; karena pada hari ‘Id orang tidak puasa.6

Keutamaan Puasa ‘Asyura

Ibnu ‘Abbas berkata;

Aku tidak pernah mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ’Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan.7

Tentang puasa ’Asyura Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

…dan puasa di hari ’Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.8

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan maksud hadits tersebut mengatakan; “Thaharah, shalat, puasa Ramadhan, puasa Arafah, dan puasa ‘Asyura hanya dapat menghapuskan dosa-dosa kecil.9

Kapan ‘Asyura Itu?

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan; “Para ulama dalam madzhab kita mengatakan; ’‘Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharram sedang Tasu’a adalah hari kesembilan dari bulan yang sama… inilah pendapat mayoritas ulama… inilah yang dimaksud dalam hadits-hadits, yang sesuai dengan bahasa dan dikenal oleh para ahli bahasa…. Ibnu Sirrin melaksanakan hal ini (puasa pada hari ke-9, ke-10 dan ke-11) dengan alasan kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharram. Kita kira tanggal sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal sepuluh.10 Untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

Insya Allah pada tahun depan kita akan puasa pada hari kesembilan.

Ibnu ‘Abbas mengatakan; ’Sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.’”11

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya); “Berpuasalah pada hari ’Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”12

Keinginan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa pada hari kesembilan mengandung makna bahwa puasa ‘Asyura tidak hanya hari kesepuluh, namun ditambah dengan hari kesembilan. Hal ini bisa jadi untuk kehati-hatian atau menyelisihi orang Yahudi dan Nasrani. Inilah pendapat yang kuat sebagaimana ditunjukkan dalam beberapa riwayat hadits dalam Shahih Muslim.13

Oleh karena itu puasa ‘Asyura ada beberapa tingkatan; yang terendah adalah puasa pada hari kesepuluh saja, kemudian yang diatasnya puasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Diatasnya lagi adalah berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11. Semakin banyak puasa yang dikerjakan pada bulan Muharram adalah lebih baik dan lebih utama. Wallahu a’lam.

Hanya Mengerjakan Puasa ‘Asyura

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan; “Puasa ‘Asyura dapat menghapus dosa satu tahun dan bukan makruh jika hanya mengerjakan puasa ‘Asyura…14

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan; “Tidaklah mengapa kalau hanya mengerjakan ‘Asyura saja…15

Bertepatan dengan Hari Jum’at atau Sabtu

Ada larangan mengerjakan puasa pada hari Jum’at. Begitu pula puasa pada hari Sabtu kecuali yang fardhu. Namun larangan ini hilang jika berpuasa pada hari Jum’at atau Sabtu tersebut ditambah satu hari sebagai pasangannya atau bertepatan dengan ibadah yang disyariatkan seperti puasa Dawud, puasa nadzar, puasa qadha, atau puasa yang memang dianjurkan dalam syari’at seperti puasa ‘Arafah dan ‘Asyura…”16

Hal ini dilarang karena menyerupai orang-orang Yahudi jika mengkhususkan hari Sabtu… kecuali jika hari Jum’at atau Sabtu tersebut bertepatan dengan kebiasaan yang ada dalam syari’at seperti hari ‘Arafah dan ‘Asyura atau sudah menjadi kebiasaan puasa, hal ini tidak dilarang, karena kebiasaan tersebut punya pengaruh.17

CATATAN KAKI:

  1. ^ Shahih al-Bukhari nomor 2958.
  2. ^ Tafsir al-Quran al-Azhim Ibnu Katsir, II/356.
  3. ^ Shahih Muslim nomor 1982.
  4. ^ Qawa’idul-Ahkam I/38.
  5. ^ Shahih al-Bukhari nomor 1865.
  6. ^ Ringkasan penjelasan al-Hafzh Ibnu Hajar dalam Fathul-Bari, Syarh Shahih al-Bukhari IV/246-248.
  7. ^ Shahih al-Bukhari nomor 1867.
  8. ^ Shahih Muslim nomor 1976.
  9. ^ al-Fatawa al-Kubra jilid 5.
  10. ^ Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab VI/406.
  11. ^ Shahih Muslim nomor 1916.
  12. ^ Musnad Ahmad nomor 2047, disebutkan juga dalam Fathul-Bari IV/245.
  13. ^ Fathul-Bari IV/245.
  14. ^ al-Fatawa al-Kubra jilid 5.
  15. ^ Tuhfatul-Muhtaj jilid 3.
  16. ^ Tuhfatul-Muhtaj jilid 3 dan Musykil al-Atsar jilid 2.
  17. ^ Kasyful-Qina’ jilid 2.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari majalah Fatawa volume IV/Nomor 01, Muharram 1429/Januari 2008, halaman 18-21.

Artikel Ke-4: Cinta Palsu Syi’ah untuk Ahli Bait

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Sekelompok orang menamakan diri sebagai pecinta Ahli Bait. Setiap tahun, terutama di bulan Muharram, mereka mempunyai acara khusus terkait dengannya. Betulkah mereka mencintai Ahli Bait?

Istilah Ahli Bait bukanlah sesuatu yang asing di telinga umat Islam. Begitu disebut Ahli Bait, yang tergambar dalam (benak seseorang) adalah seseorang yang mempunyai tali kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Siapa Ahli Bait?

Ahlul-Bait adalah orang-orang yang sah pertalian nasabnya sampai kepada Hasyim bin Abdi Manaf (Bani Hasyim) baik lelaki (sering disebut dengan syarif) atau wanita (sering disebut syarifah) yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggal dunia dalam keadaan beriman.

Sebagian Ahlul-Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

  1. Para istri Rasul, berdasarkan (al-Qur’an) surat al-Ahzab : 33.
  2. Seluruh putra-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tidak khusus bagi Fathimah).
  3. ‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib dan keturunannya.
  4. al-Harits bin ‘Abdul-Muththalib dan keturunannya.
  5. ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (tidak sebatas pada al-Hasan dan al-Husain saja).
  6. Ja’far bin Abi Thalib dan keturunannya.
  7. Aqil bin Abi Thalib dan keturunannya.

Rinciannya bisa dilihat dalam Minhajus- Sunnah an-Nabawiyyah.

Kedudukan Ahlul-Bait

Kedudukan Ahlul-Bait di sisi Allah dan Rasul-Nya amat mulia. Diantara kemuliaan itu adalah:

  1. Allah bersihkan Ahlul Bait dari kejelekan. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):“Hanyalah Allah menginginkan untuk membersihkan kalian (wahai) Ahlul-Bait dari kejelekan dan benar-benar menginginkan untuk mensucikan kalian.” (QS. al-Ahzab : 33)
  2. Perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpegang dengan bimbingan mereka.Dari Jabir bin ‘Abdillah, berkata; “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat haji pada hari Arafah, beliau berada diatas untanya, si al-Qashwa, sambil berkhutbah. Aku mendengar beliau berkata; ‘Wahai manusia sesungguh(nya) aku telah meninggalkan sesuatu untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan Ahlul-Baitku.’”Oleh karena itu tidaklah ragu lagi, bahwa Ahlul-Bait memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah dan Rasul-Nya.Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata; “Tidak diragukan lagi bahwa mencintai Ahlul-Bait adalah wajib.” al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata; “Termasuk memuliakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunannya.”Para sahabat sangat memuliakan Ahlul-Bait, baik yang dari kalangan Sahabat maupun Tabi’in. Demikianlah hendaknya sikap seorang Muslim. Wajib mencintai, menghormati, memuliakan, dan tidak menyakiti Ahlul-Bait.

    Tolok ukur kecintaan terhadap mereka semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa iman tidak akan bermanfaat kekerabatan seseorang terhadap Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

    Yaitu di hari (hari kiamat) yang harta dan anak keturunan tidak lagi bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Allah dengan hati yang lurus.” (QS. asy-Syu’ara` : 88-89)

    Bila ada Ahlul-Bait yang jauh dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, martabatnya di bawah orang yang berpegang teguh dengan Sunnah Rasul, walaupun bukan Ahlul-Bait. Allah berfirman (yang artinya):

    Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat : 13)

Ahlul-Bait Menurut Syi’ah

Syi’ah memang terpecah-belah dalam banyak kelompok. Yang termasuk ghulat (berlebihan dalam kesesatan, red) adalah Syi’ah Rafidhah. Mereka punya pandangan tersendiri tentang Ahlul-Bait, sangat bathil dan zhalim, yaitu:

  • Ahlul-Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbatas pada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.
  • Putra-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain Fathimah didepak dari lingkaran Ahlul-Bait.
  • Didepak pula semua istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali Khadijah, dari lingkaran Ahlul-Bait.
  • Dua belas putra Ali, selain Hasan dan Husain, dan 18 atau 19 putrinya tidak diakui sebagai Ahlul-Bait.
  • Putra-putri Hasan, cicit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dianggap sebagai bagian dari Ahlul-Bait.
  • Hanya keturunan Husain-lah yang mereka akui sebagai Ahlul-Bait. Itu pun sebagian keturunan Husain dikeluarkan dari lingkaran Ahlul-Bait karena tidak mencocoki hawa nafsu kaum Rafidhah. Sebagian keturunan Husain dilemparinya dengan kedustaan, kejahatan dan kefasikan, bahkan vonis kafir dan murtad pun dijatuhkan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!

Syi’ah mempunyai dua sikap yang saling bertolak belakang terhadap sesama Ahli Bait. Dalam satu sisi begitu berlebihan dalam mencintai (ifrath) Ahli Bait, sementara kepada sebagian Ahli Bait mereka sangat membencinya (tafrith).

Sikap Ifrath

al-Kulaini didalam al-Ushul min al-Kafi 19/197 membuat kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib, tulisnya; “Sesungguhnya aku diberi beberapa sifat yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku -sekalipun para Nabi. Aku mengetahui seluruh kenikmatan, musibah, nasab, dan keputusan hukum pada manusia. Tidaklah luput dariku perkara yang telah lampau dan tidaklah tersembunyi dariku perkara yang samar.

Didalam kitab al-Irsyad hal. 252 karya al-Mufid bin Muhammad an-Nu’man ditulis; “Ziarah kepada kubur Husain radhiyallahu ‘anhu bagaikan 100 kali haji mabrur dan 100 kali umrah.

Kedustaan mereka semakin menjadi-jadi saat menulis secara dusta sebuah ucapan yang mereka klaim sebagai perkataan Baqir bin Zainal Abidin rahimahullah; “Dan tidaklah keluar setetes air mata pun untuk meratapi kematian Husain, melainkan Allah akan mengampuni dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” Dalam riwayat lain ada tambahan lafal; “dan mendapatkan surga.” (Jala’ul’‘Uyun II hal. 464 dan 468 karya al-Majlisi al-Farisi)

Kecintaan kaum Syi’ah Rafidhah kepada beberapa Ahlul-Bait lebih bersifat kultus, bahkan menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai sekutu bagi Allah!

Sikap Tafrith

Diriwayatkan di dalam kitab Rijalul-Kasysyi hal. 54, karya al-Kasysyi, Allah berfirman (yang artinya);

Dialah sejelek-jelek penolong dan sejelek-jelek keluarga.” (al-Hajj:13) ayat ini turun tentang perihal ‘Abbas (paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Sementara salah satu anak ‘Abbas bin Abdul-Muthalib, ‘Abdullah, dicela dan difitnah. al-Qahbani dalam kitab Majma’ur-Rijal 4/143 mengatakan; “Sesungguhnya orang ini telah mengkhianati Ali dan telah mengambil harta (shadaqah) dari baitul-mal di kota Bashrah.

Kecurangan Syi’ah semakin kentara saat ingin mencela dan memfitnah Ummul-Mukminin ‘Aisyah, mereka secara dusta membuat pernyataan yang disandarkan kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas, orang yang sebelumnya dicaci. “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan Rasulullah…” (Ikhtiyar Ma’rifatur-Rijal karya ath-Thusi hal. 57-60)

Para Imam Ahlul-Bait Mencela Syi’ah Rafidhah

Orang-orang Syiah, mengklaim para imam Ahli Bait sebagai imam mereka. Klaim penuh dusta ini didustakan oleh para imam itu sendiri.

Ali bin Abi Thalib berkata; “Orang yang mengutamakan aku melebihi dua syaikh (Abu Bakar dan Umar) akan aku dera sebagai pendusta.

Muhammad bin Ali (al-Baqir) rahimahullah berkata; “Keluarga Fathimah telah bersepakat untuk memuji Abu Bakar dan Umar dengan sebaik-baik pujian.

Ja’far bin Muhammad (ash-Shadiq) rahimahullah berkata; “Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci siapa saja yang membenci Abu Bakar dan Umar.

Sungguh barangsiapa mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak Ahlul-Bait namun ternyata berlepas diri dari orang-orang yang dicintai Ahlul-Bait, maka yang ada hanya kedustaan belaka. Cinta mereka adalah cinta palsu. Ahlul-Bait mana yang mereka ikuti?! Sungguh indah perkataan penyair Arab:

Setiap lelaki mengaku kekasih Laila. Namun Laila tidak pernah mengakuinya.

Terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu tidak lepas dari penipuan Syi’ah Rafidhah, mereka beramai-ramai meninggalkan Husain dan keluarganya saat dikepung oleh pasukan Ziyad.

Ternyata Syi’ah Rafidhah menyimpan kebencian terhadap Ahlul-Bait. Kebencian itu tidak hanya berupa ucapan atau tulisan belaka. Mereka wujudkan dalam perbuatan, andilnya mereka dalam peristiwa terbunuhnya Husain. Terlalu panjang untuk mengungkap peristiwa menyedihkan itu, namun cukuplah tulisan para ulama mereka sendiri sebagai bukti atas kejahatan mereka.

Didalam kitab al-Irsyad hal. 241 karya al-Mufid diriwayatkan bahwa al-Husain pernah mengatakan; “Ya Allah jika engkau memanjangkan hidup mereka (Syi’ah Rafidhah) maka porak-porandakanlah barisan mereka, jadikanlah mereka terpecah-belah dan janganlah engkau ridhai pemimpin-pemimpin mereka, selama-lamanya. Mereka mengajak orang untuk membela kami, namun ternyata justru memusuhi dan membunuh kami.

Didalam kitab al-Ihtijaj 2/29 karya Abu Manshur ath-Thibrisi diriwayatkan bahwa Ali bin Husain, dikenal dengan Zainal Abidin, pernah berkata tentang kaum Syi’ah Rafidhah di negeri Irak, “Mereka menangisi kematian kami, padahal siapakah yang membunuh kami kalau bukan mereka?!

Hadits Palsu dan Lemah tentang Ahli Bait

Hadits yang disandarkan pada ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Perumpamaan Ahlul-Bait-ku seperti kapal Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya pasti dia selamat dan barangsiapa yang enggan untuk menaikinya, maka dia akan tenggelam (binasa).

Hadits ini dha’if (lemah) walaupun diriwayatkan dari beberapa jalan. Beberapa ulama pakar hadits seperti al-Imam Yahya bin Ma’in, al-Bukhari, an-Nasa’i, ad-Daruquthni, adz-Dzahabi, dan beberapa ulama lainnya telah mengkritik beberapa orang yang meriwayatkan hadits tersebut. (Silsilah al-Ahaditsi adh-Dha’ifah no. 4503 karya al-Albani)

Orang yang mengaku cinta memang belum pasti mencintai sesungguh hati, betapa banyak cinta bertebaran di dunia ini. Cinta palsu tidak akan terbukti selamanya. Begitu pula klaim kaum Syi’ah Rafidhah tentang cinta kepada Ahli Bait hanyalah klaim palsu. Tak lebih untuk mendapatkan keuntungan kelompoknya. Karena itulah mereka tidak bisa bersikap adil terhadap semua Ahli Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bish-shawab.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari majalah Fatawa, volume III, nomor 6, Mei 2007 M/Rabiul-Akhir 1428 H, halaman 24-26.

Artikel ke-3: ‘Abdullah bin Saba’ Bukan Tokoh Fiktif

Oleh: Muhammad Ashim bin Musthafa

Para ahli hadits dan para penulis kitab al-Jarh wa at-Ta’dil1, para penulis sejarah serta penulis kitab-kitab tentang aliran-aliran telah sepakat tentang keberadaan tokoh keturunan Yahudi ini, dia ialah ‘Abdullah bin Saba, yang juga berjuluk Ibnu Sauda.

Peran yang ia mainkan telah menanamkan bibit kerusakan di kalangan orang-orang munafiqin dan orang-orang sukuisme serta orang-orang yang di dalam hatinya berakar hawa nafsu dan keinginan-keinginan buruk lainnya. ‘Abdullah bin Saba’ memperlihatkan keislamannya pada masa kekhilafahan ‘Utsman. Dia juga mempertontonkan pribadi yang shalih, kemudian berusaha menjalin kedekatan dengan Ali.

Siapakah ‘Abdullah bin Saba’?

Jati diri ‘Abdullah bin Saba’ diperselisihkan. Ada sebagian ulama tarikh yang me-nisbat-kannya ke suku Himyar. Sementara al-Qummi memasukkannya ke dalam suku Hamadan. Adapun Abdul-Qahir al-Baghdadi menyebutnya berasal dari kabilah al-Hirah. Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat, Ibnu Saba berasal dari Rumawi. Tetapi ath-Thabari dan Ibnu Asakir menyebutnya berasal dari negeri Yaman.

Syaikh ‘Abdullah al-Jumaili menyatakan bahwa dirinya condong kepada pendapat yang terakhir. Dalihnya, pendapat ini mengakomodasi mayoritas pendapat tentang negeri asal Ibnu Saba. Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat pertama (ia berasal dari suku al-Himyar), juga dengan pendapat kedua (ia berasal dari suku Hamadan). Pasalnya, dua kabilah ini berasal dari Yaman. Sementara pendapat Ibnu Katsir dan al-Baghdadi tidak sejalan.2

Perbedaan pendapat ini muncul lantaran keberadaan dirinya yang sengaja ia rahasiakan, sampai orang-orang yang sezaman dengannya pun tidak mengenalnya, baik nama maupun negeri asalnya. Sengaja ia sembunyikan identitas dirinya, karena ia memiliki rencana rahasia, yaitu ingin berbuat makar terhadap Islam. Dia tidaklah memeluk Islam, kecuali untuk mengelabui, karena ia ingin menggerogoti Islam dari dalam.

Salah satu bukti yang menunjukkan ia sengaja menutup diri, yaitu jawaban yang diberikan kepada ‘Abdullah bin Amir. Tatkala ia ditanya oleh ‘Abdullah bin Amir tentang asal usulnya, ‘Abdullah bin Saba’ menjawab: “(Aku) adalah seorang lelaki dari ahli kitab yang ingin memeluk Islam, dan ingin berada disampingmu.

Makar Ibnu Saba’

‘Abdullah bin Saba’ mengunjungi banyak negeri Islam. Dia berkeliling sambil menghasut kaum muslimin, agar ketaatan mereka kepada para penguasa meredup. Ia memulai dengan masuk negeri Hijaz, Bashrah, Kufah. Setelah itu menuju Damaskus. Namun di kota terakhir ini, ia tidak berkutik. Penduduknya mengusirnya dengan segera. Lantas Mesir menjadi tujuan selanjutnya dan ia menetap disana.

Langkah berikutnya, ia melakukan korespondensi dengan orang-orang munafiqin, memprovokasi para pendengki yang membenci Khalifah kaum muslimin. Banyak yang teperdaya, hingga kemudian mendukungnya. Dia hembuskan pemahaman yang ngawur kepada para pendukungnya itu. Dia berhasil menancapkan semangat untuk memberontak dan tidak taat di kalangan sebagian kaum muslimin. Sehingga mereka bertekad membunuh Khalifah ‘Utsman, Khalifah yang ketiga, menantu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Para pengikut sang penghasut ini tidak menghormati kemulian kota Madinah. Mereka tidak menghormati kemulian bulan yang mulia. Juga tidak menghormati orang yang sedang membaca al-Qur’an. Khalifah ‘Utsman mereka bunuh saat sedang membaca al-Qur’an.

Sepak terjang ‘Abdullah bin Saba’ sangat nyata terekam sejarah. Namun ada saja yang mengingkari keberadaannya, dan menganggap Ibnu Sauda hanyalah tokoh dongeng atau fiktif. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai Ammar bin Yasir. Kalau pendapat itu keluar dari orang Syi’ah atau para orientalis, tentu hal yang lumrah. Akan tetapi, anehnya, di antara yang menetapkan demikian ini ternyata orang-orang yang mengaku beragama Islam.

Cendekiawan Muslim yang Mengingkari Keberadaan ‘Abdullah bin Saba’

Ada beberapa pemikir muslim yang menganggap bahwa ‘Abdullah bin Saba’ hanyalah tokoh fiktif belaka, sehingga mereka mengingkari keberadaan Ibnu Saba. Diantara pemikir-pemikir tersebut ialah Dr. Thaha Husain. Dia sangat dikenal sebagai corong orientalis. Pengingkarannya tentang keberadaan Ibnu Saba ini, ia tuangkan ke dalam tulisannya yang berjudul: Ali wa Banuhu dan al-Fitnah al-Kubra. Dalam tulisannya ini, ia benar-benar telah memenuhi otaknya dengan pemikiran orientalis, sampai-sampai ia mengatakan: “Aku berfikir dengan kerangka budaya Perancis dan menulisnya dengan bahasa Arab.”

Tokoh ini telah dijadikan sebagai kendaraan yang dimanfaatkan oleh Yahudi di Mesir untuk mengibarkan bendera Yahudi Internasional. Bersama para propagandis sosialisme di Mesir, ia menerbitkan majalah Katib Mishri. Sejak awal dia juga telah mengumumkan dukungannya terhadap pemikiran Yahudi Talmudiyyah; yakni salah satu gerakan Yahudi yang mendustakan keberadaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, al-Qur’an dan Taurat. Sebuah gagasan yang bagi seorang orientalis kafir tidak berani mengatakannya.

Tentang Ibnu Saba (Ibnu Sauda), Dr. Thaha Husain menyatakan, bahwa ihwal tentang Sabaiyyah dan perintisnya Ibnu Sauda, cerita tentang mereka hanyalah sekedar dipaksakan, dibuat skenarionya tatkala terjadi perdebatan atara Syi’ah dan golongan lainnya. Para seteru Syi’ah ingin memasukkan unsur Yahudi ke dalam prinsip keagamaan Syi’ah, sebagai usaha untuk lebih mantap dalam mematahkan dan mengganggu mereka …3

Selain Dr. Thaha Husain, ada tokoh lain yang juga mengingkari adanya ‘Abdullah bin Saba’. Yaitu Dr. Hamid Hafni Dawud, Dekan Jurusan Bahasa Arab Universitas Ain Syams. Dia seorang aktifis gerakan penyatuan Islam dengan Syi’ah. Sehingga tidak mengherankan jika ia berkata: “Sesungguhnya, cerita tentang Ibnu Saba (merupakan) salah satu dari kesalahan sejarah yang lolos dari penelitian para pakar sejarah dan menjadi sentral pemikiran mereka. Mereka itu sebenarnya tidak paham dan tidak mampu mencernanya. Ini adalah berita-berita buatan yang dipalsukan atas nama Syi’ah, sehingga mereka melekatkan kisah ‘Abdullah bin Saba’ pada mereka (Syi’ah) dan menjadikannya sebagai cara untuk mendiskkreditkannya.4

Sederet nama berikut, memiliki pandangan yang sama. Mereka ialah: Muhammad bin Jawad Maghnia, Murtadha al-Askari, Dr. Ali Wardi, Dr. Kamil Musthafa asy-Syibi, Dr. ‘Abdullah Fayyad, Thalib ar-Raifa’i. Mereka adalah pemikir-pemikir yang mengingkari kebenaran adanya Ibnu Saba. Mereka menyatakan, Ibnu Saba adalah tokoh dongeng yang hakikatnya tidak ada dalam dunia nyata.

Secara khusus Dr. Fayyadh mengatakan: “Terlihat dengan jelas bahwa Ibnu Saba tidak lebih hanya sekedar cerita tokoh fiktif belaka dalam dunia nyata. Sepak terjangnya kalau benar ia mempunyai andil terlalu dilebih-lebihkan lantaran berbagai motivasi agama dan politis. Dan bukti-bukti lemahnya cerita tentang Ibnu Saba sangat banyak.5

Sesungguhnya keberadaan Ibnu Saba ini tidak hanya ditulis dalam kitab-kitab ahli sunnah, bahkan juga direkam di dalam buku-buku Syi’ah.

Walaupun ada ulama Syi’ah sekarang ini mengingkarinya, lantaran telah mengetahui kebobrokan aqidah Ibnu Saba yang sudah banyak menyelinap di berbagai pecahan kelompok Syi’ah.

Diantara kitab-kitab karya ‘ulama Syi’ah yang mengungkap keberadaan ‘Abdullah bin Saba’ ialah kitab Risalah al-Irja (karya al-Hasan bin Muhammad bin al-Hanafiyah), al-Gharat (Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad Sa’id al-Asfahani), al-Maqalatu wal-Firaq (Sa’ad bin Abdillah Al-Qummi), Firaqu asy-Syi’ah (Muhammad al-Hasan bin Musa an-Nubakhti), Rijalu al-Kisysyi (Abu Amr Muhammad bin Umar al-Kisysyi), Rijalu ath-Thusi (Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan ath-Thusi), Syarah Ibni Abil Hadid li Nahji al-Balaghah (Izzudin Abu Hamid Abdul-Hamid bin Hibatullah yang lebih popular dengan sebutan Ibnu Abil Hadid al-Mu’tazili asy-Syi’i), ar-Rijal (al-Hasan bin Yusuf al-Hilli), Raudhatul-Jannat (Muhammad Baqir Khawansari), Tanqihul-Maqal fi Ahwali ar-Rijal (Abdullah al-Mamqani), Qamusu ar-Rijal (Muhammad Taqiyyi at-Tustari), Raudhatush-Shafa, sebuah buku sejarah tentang Syi’ah yang ditulis dengan bahasa Parsi. Ini sebagian buku-buku Syi’ah yang meyinggungnya.

Demikian pandangan tokoh-tokoh yang menyatakan ‘Abdullah bin Saba’ sekedar tokoh fiktif. Seolah-olah mereka tidak melupakan kitab-kitab Ahli Sunnah yang dipercaya. Demikian juga, seolah-olah mereka buta terhadap referensi-referensi kitab Syi’ah yang menjadi rujukan, yang mengandung kisah tentang Ibnu Saba, aqidah dan klaim-klaimnya yang didustakan oleh Ali, Ahlul-Bait serta berlepas diri dari mereka.

CATATAN KAKI:

  1. ^ Kitab tentang studi kritis perawi hadits.
  2. ^ Badzlul-Majhud fi Itsbati Musyabahati ar-Rafidhah lil Yahud karya ‘Abdullah al-Jumaily, Maktabah al-Ghuraba al-Atsaiyyah, Madinah Munawwarah, cetakan III tahun 1419H/1999M.
  3. ^ Ali wa Banuhu, karya Dr. Thaha Husain, dinukil dari kitab Ibnu Saba Haqiatun La Khayal, karya Dr. Sa’di al-Hasyimi.
  4. ^ at-Tasyayu Zhahiratun Thabi’iyyah fi Ithari ad-Da’wah al-Islamiyyah, halaman 18 dinukil dari kitab Ibnu Saba Haqiatun La Khayal, karya Dr. Sa’di al-Hasyimi.
  5. ^ Tarikhul-Imamiyyah wa Aslafahim Minsy-Syi’ah, halaman 92-100.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari Majalah as-Sunnah edisi 10/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo, Solo, 57183. Telp.: (0271) 761-016.