Artikel ke-5: Bahaya Khuruj (Melawan) terhadap Pemerintah

Oleh: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari1

Gerakan khuruj (pemberontakan) dan inqilab (melancarkan kudeta) terhadap suatu pemerintahan (yang sah) bukanlah sarana untuk memperbaiki masyarakat. Bahkan justru memicu timbulnya kerusakan di tengah masyarakat.

Khuruj terhadap pemerintah Muslim, bagaimanapun tingkat kezhalimannya, merupakan bentuk penyimpangan dari manhaj Ahlus-Sunnah (wal-Jama’ah). Ada dua macam bentuk khuruj; (1) Khuruj dengan memanggul senjata, (2) Khuruj dengan perkataan dan lisan.

Mereka yang selalu memunculkan perpecahan, pertikaian, dan pergolakan terhadap pemerintahan Muslim, pada hakikatnya telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan tersebut. Padahal, Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk bersabar, sebagaimana sabda beliau (yang artinya):

Kecuali engkau melihat suatu ke-kufur-an yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allaah.” (Hadits Muttafaq ‘alaih)

Renungkanlah perkataan Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam;Kecuali engkau melihat suatu kekufuran.” Penuturan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak terhenti sampai disitu saja, tetapi diiringi dengan keterangan “ke-kufur-an yang sangat jelas.” Lantas beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menambahkan keterangan lebih lanjut “yang dapat engkau buktikan tentang itu di sisi Allaah.

Di dalam hadits ini, beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan lima buah penekanan untuk mencegah orang dari khuruj dan takfir (mengkafirkan pemerintah ataupun individu Muslim) yang merupakan perbuatan sangat buruk dan berbahaya. Karena dapat mengakibatkan kerusakan dan kehancuran ditengah masyarakat.

Bahkan Imam Ibnul-Qayyim rahimahullaah berkata didalam kitabnya, I’lamul Muwaqqi’in: “Tidak ada satu pemberontakan pun terhadap pemerintah Muslim yang membawa kebaikan terhadap umat pada masa kapan pun.

Begitu juga hujatan terhadap pemerintah. Manakala sebagian orang menjadikan hujatan terhadap pemerintah sebagai materi ceramah dan “nasihat-nasihat” yang mereka sampaikan untuk memperoleh simpati manusia. Manusia pada dasarnya menyukai hujatan terhadap pemerintah, juga terhadap para penguasa dan pemimpin, serta kepada setiap orang yang mempunyai posisi lebih tinggi dari mereka. Seakan-akan hujatan dan celaan tersebut sebagai hiburan yang dapat menyenangkan hati mereka.

Sungguh suatu fenomena yang sangat menyedihkan ketika kita menyaksikan hujatan, makian, serta cercaan terhadap pemerintah, saat ini menjadi materi-materi ceramah dan “masukan” bagi sebagian da’i zaman sekarang, khususnya pada waktu terjadinya fitnah. Hingga materi yang mereka sampaikan akan membuat orang-orang berkomentar: ”Masyaa Allaah, Syaikh ini orang yang berani, atau Syaikh ini orang yang kuat.” Padahal fakta ini sesungguhnya tidak mendatangkan manfaat apapun, melainkan hanya akan menghasut dan mengotori jiwa.

Sebagian orang justru mengira, tindakan tersebut merupakan bentuk upaya menasehati pemerintah. Padahal terdapat metode dan prosedur dalam menasehati pemerintah, seperti termaktub dalam sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):

Barangsiapa di antara kalian yang ingin menasehati penguasa, maka hendaklah dia pergi kepadanya, dan merahasiakan nasihatnya itu.

Hadits Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini menjelaskan bahwa nasihat kepada para penguasa atau pemerintah, hendaklah disampaikan secara rahasia. Karena bila ditempuh secara terang-terangan akan menimbulkan gejolak hati, yang merusak hati.

Kalau di antara kita –para penuntut ilmu- ada yang terjatuh kedalam suatu kesalahan, kemudian salah seorang menasihatinya di depan umum, ia langsung akan berkata: “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allaah. Janganlah kamu membuka aibku di depan umum. Kalau engkau ingin menasihatiku, maka lakukanlah dengan empat mata.

Kalau para penuntut ilmu, para da’i yang mengajak manusia kepada Kitabullaah dan Sunnah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam –yang mengetahui keutamaan ilmu, keutamaan al-haq dan kembali kepadanya (setelah mengalami kekeliruan)- tidak menyukai metode seperti ini dalam memberikan suatu nasihat, maka bagaimana mungkin para penguasa yang memiliki kedudukan, kekuasaan, senjata, serta tentara yang banyak –bagaimana mungkin mereka- akan dapat menerima nasihat dengan cara yang tidak simpatik ini. Justru yang lebih utama, tidak menasihati mereka di depan umum; kalaupun hal ini tidak mendatangkan maslahat bagi pemerintah, paling tidak akan memberi maslahat bagi diri kita sendiri. Hal ini, tentunya apabila mereka (para penguasa) adalah orang-orang Muslim.

Batasan yang paling rendah untuk menghukumi mereka sebagai seorang Muslim, ialah apabila mereka tunduk dan mengakui kebenaran agama Islam. Meskipun mereka melakukan suatu penyelewengan, mempunyai kesalahan yang banyak dan berbuat dosa-dosa besar. Dan ini semua tidak menjadikan mereka sebagai orang kafir, karena Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allaah.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih)

Kemudian Syaikh Muqbil rahimahullaah berkata: “Kami tidak memandang kudeta sebagai jalan untuk membenahi masyarakat. Bahkan gerakan tersebut, justru menimbulkan kerusakan dalam masyarakat.

Marilah kita simak sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim, dari hadits Arfajah Radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

Barangsiapa yang datang kepada kalian, ketika kalian bersatu dibawah satu pimpinan, dia berkeinginan untuk memecah belah persatuan kalian, maka bunuhlah dia.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa pemberontakan terhadap suatu pemerintah, yang dapat menimbulkan suatu perpecahan di kalangan masyarakat merupakan salah satu hal yang mewajibkan seseorang untuk dibunuh. Akan tetapi, perlu diingat, bahwa yang dapat menjatuhkan sanksi ini adalah waliyyul-amr, pemerintah yang memegang kekuasaan.

Dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit Radhiyallaahu ‘anhu, ia menceritakan (yang artinya):

Kami berbaiat kepada Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu patuh dan taat, baik terhadap apa yang kami suka maupun yang tidak kami suka, dan dalam keadaan sulit maupun lapang, dan untuk mendahulukan apa yang diperintahkan (diatas segala kehendak kami), dan untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpin yang sah. Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih)

Akan tetapi, ketaatan ini tidak boleh berlawanan dengan ketaatan kepada Allaah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):

Sesungguhnya ketaatan itu hanya terhadap perkara yang ma’ruf (baik) saja.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih)

Dan sebagaimana sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain (yang artinya):

Tidak boleh taat kepada makhluk di dalam maksiat kepada al-Khaliq.” (HR. Thabrani di dalam al-Mu’jamul Kabir)

Kalau mau merenung sejenak, niscaya kita akan memperoleh fakta bahwa dalam sejarah Islam, tidak ada satu pemberontakanpun yang berhasil. Lain halnya dengan orang-orang kafir, kebanyakan pemberontakan yang mereka gerakkan berakhir dengan keberhasilan. Di sini seakan-akan Allaah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki, supaya kita mau melihat dan memperhatikan bahwa cara seperti ini, bukanlah metode syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menginginkan kita supaya menempuh metode syar’i yang telah digariskan oleh-Nya, sebagaimana firman Allaah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya (yang artinya):

Sesungguhnya Allaah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d : 11)

Jika kamu menolong (agama) Allaah, niscaya Dia akan menolongmu.” (QS. Muhammad : 7)

Allaah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allaah Mahakuat, Mahaperkasa.” (QS. al-Hajj : 40)

Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa metode syar’i adalah tidak keluar dari Kitabullaah dan Sunnah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-An’am : 153)

Dari ‘Abdullaah bin Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata; ”Suatu hari Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam membuat suatu garis, kemudian beliau berkata; “Ini adalah jalan Allaah,” kemudian beliau membuat garis-garis yang banyak di bagian kanan dan bagian kirinya, lalu beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ini adalah jalan-jalan (yang dimaksud oleh Allaah), dan pada setiap jalan terdapat setan yang menyeru kepadanya,” kemudian beliau membaca ayat: “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”””

Dari sini jelaslah bagi kita, bahwa tidak ada jalan untuk memperbaiki kondisi masyarakat melainkan dengan mengikuti Sunnah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala macam bentuk bid’ah. Mari kita simak firman Allah ‘Azza wa Jalla yang sangat agung berikut ini (yang artinya):

Dan adakalanya kami memperlihatkan kepadamu (Muhammad) sebagian dari (siksaan) yang Kami janjikan kepada mereka, atau Kami wafatkan engkau (sebelum itu).” (QS. Yunus : 46)

Banyak diantara manusia yang berkata; “Kami belum melihat kejayaan Islam.” Ketahuilah! Bahwa tidaklah mesti kita melihat segala apa yang telah dijanjikan Allaah kepada kita, karena Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melihat segala apa yang di janjikan oleh Allaah. Coba kita menyimak firman Allaah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan janji-Nya kepada orang-orang beriman (yang artinya):

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai bagi mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Asalkan mereka (tetap) semata-mata beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan suatupun.” (QS. an-Nuur : 55)

Sungguh ini merupakan janji Allaah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kita dapat merealisasikan perintah Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan merealisasikan apa yang telah Dia janjikan kepada orang-orang yang beriman diantara kita.

Wallaahu ‘alam, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihii wa shahbihi wa sallam.

CATATAN KAKI:

  1. ^ Diterjemahkan oleh Ustadz Ahmad Danil dari penjelasan Syaikh Ali Hasan al-Halabi terhadap risalah Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullaah yang berjudul “Hadzihi Da’watuna wa Aqidatuna.”

SUMBER:

Artikel ini disalin dari Majalah as-Sunnah edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Alamat: Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. Telp. 0271-5891016.

Artikel Ke-1: Khawarij Kontemporer

Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily1

Pada abad ini, sungguh pemikiran takfir telah tersebar begitu dahsyat, kekuatannya melampaui abad-abad sebelumnya. Pemikiran takfir tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga penyakit ini menjangkiti begitu banyak orang yang sebelumnya tidak dikenal banyak melakukan bid’ah. Di antara sumber dan sebab tersebarnya adalah sebagian kelompok dakwah modern yang asasnya bukan Sunnah (ajaran) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan bercampur aduk didalamnya berbagai bid’ah dan kesesatan, baik dikarenakan buruknya tujuan pendirinya, maupun karena kebodohan mereka tentang agama.

Kemudian muncullah banyak buku hasil produksi kelompok-kelompok tersebut, yang dikenal dengan buku-buku pemikiran. Buku-buku tersebut telah merusak aqidah sejumlah besar kaum Muslimin, sehinga menyelewengkan mereka dari ajaran agama. Buku-buku tersebut menilai bahwa masyarakat Muslim dewasa ini adalah masyarakat jahiliyyah dan kafir, karena mereka telah membuang Islam ke belakang punggung mereka, dan mereka telah memeluk kekufuran yang nyata, dan tidak ada seorangpun, diantara individu-idividu umat yang selamat dari vonis kafir ini, baik pemerintah maupun rakyatnya, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda. Fenomena ini memiliki peran terbesar, dalam mewujudkan generasi abad ini yang terdidik berdasarkan kepada buku-buku tersebut, hingga bibit-bibit ide untuk mengkafirkan seluruh masyarakat Islam dewasa ini tertanam di dalam jiwa-jiwa mereka, sehingga kesesatan tersebut menjadi suatu keyakinan yang kokoh bagi mereka, dan tidak perlu ditanyakan lagi tentang fitnah dan keburukan yang akan muncul dari balik keyakinan ini.

Saya tidak ingin memperbanyak dalam memberikan permisalan dari buku tersebut, tentang teks dan perkataan mengenai pengkafiran masyarakat Islam dewasa ini, akan tetapi saya hanya ingin menyebutkan sebagian contoh dan bukti yang ada di dalam buku-buku Sayyid Quthub rahimahullaah, karena dialah Imam yang diagungkan oleh mayoritas Ikhwanul-Muslimin dan orang-orang yang terpengaruh dengan manhaj mereka, terlebih lagi buku orang ini paling luas penyebarannya, dan paling kuat pengaruhnya, jika dibandingkan dengan buku-buku lain yang sejenis, sampai-sampai sebagian orang yang menisbatkan diri mereka kepada Sunnah, terfitnah oleh buku-bukunya. Pada hakekatnya, buku-buku Ikhwanul-Muslimin penuh dengan ungkapan-ungkapan pengkafiran pemerintah dan masyarakat muslim dewasa ini.

Diantara teks pengkafiran Sayyid Quthub terhadap seluruh masyarakat Islam dewasa ini, adalah yang tercantum di “Ma’aalim fith-Thariq”: “Dan hakekat permasalahannya, adalah perkara kufur dan iman, syirik dan tauhid, jahiliyyah dan Islam, dan inilah yang harus diperjelas …. Sesungguhnya, manusia (sekarang) bukanlah kaum muslimin (sebagaimana yang mereka akui), dan mereka hidup dalam kehidupan jahiliyyah. Jika ada orang yang suka menipu dirinya, atau menipu orang lain, kemudian berkeyakinan bahwa Islam bisa tegak berdampingan dengan ke-jahiliyyah-an ini, maka terserah dia. Akan tetapi, ketertipuan atau penipuannya, tidak akan merubah hakikat kenyataan sedikitpun. Ini bukan Islam, dan mereka bukan kaum muslimin.”2

Sayyid Quthub berkata di dalam Fii Zhilalil-Qur’an: “Sungguh, waktu terus berputar seperti ketika agama ini datang membawa kalimat Laa ilaaha illallaah kepada manusia. Sungguh manusia (sekarang) telah murtad, beralih kepada peribadatan kepada para hamba dan kepada kedholiman berbagai agama, berpaling dari Laa ilaaha illallaah, meskipun masih ada sekelompok orang yang memperdengarkan Laa ilaaha illallaah.

Manusia seluruhnya dan termasuk di dalamnya, mereka yang senantiasa mendengung-dengungkan di tempat adzan, baik di belahan timur maupun barat bumi, kalimat: Laa ilaaha illallaah, tanpa bukti dan konsekwensi …., dan mereka adalah yang berat dosanya, dan paling keras siksaannya pada hari kiamat, karena mereka telah murtad menuju peribadatan hamba, setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, dan setelah memeluk agama Allah”3

Sayyid Quthub berkata: “Sesungguhnya, sekarang ini tidak ada satu negara atau masyarakat muslim pun di muka bumi, kaidah berinteraksi dengan mereka adalah dengan syari’at Allah dan fiqih Islam.”4

Teks-teks yang gamblang seperti diatas, masih banyak di dalam buku-buku Sayyid Quthub. Itu semua tidak ada kemungkinan untuk ditakwilkan, karena maksud semuanya adalah mengkafirkan para ulama, pemerintah dan (seluruh) individu umat Islam, sampai para tukang adzan (muadzdzin), mereka semuanya menurut Sayyid Quthub adalah kaum kafir lagi murtad, dosanya lebih berat, dan adzab mereka lebih keras dari selainnya.

Maka, dari buku-buku ini dan sejenisnya, sebagian pengikut takfir masa ini menimba manhaj mereka, ide pengkafiran masyarakat muslim, beserta akibat-akibatnya, seperti pembajakan, peledakan dan pembunuhan terhadap jiwa yang dilarang, di berbagai negeri kaum muslimin dan yang diluar mereka.

Kenyataan ini telah diakui oleh tokoh-tokoh Ikhwanul-Muslimin dan mereka tuliskan di buku-buku mereka.

al-Qardhawi mengatakan: “Pada fase ini, muncul buku-buku Sayyid Quthub yang mewakili fase terakhir pemikiran takfir-nya, yang dengan cepat mengkafirkan masyarakat …. serta pengumuman jihad penyerangan atas seluruh manusia.”

Farid Abdul Kholiq mengatakan: “Sesungguhnya pemikiran takfir tumbuh diantara para pemuda Ikhwanul-Muslimin yang berada di penjara al-Qonathir5, pada akhir tahun lima puluhan dan permulaan enam puluhan. Mereka itu terpengaruh oleh pemikiran dan tulisan Sayyid Quthub, sehingga mereka berkesimpulan bahwa masyarakat dalam keadaan jahiliyyah, para pemimpinnya telah kafir, karena mengingkari Allah sebagai Hakim Tunggal, buktinya mereka tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Begitu pula rakyatnya kafir, jika meridhai hal tersebut.”

Salim al-Bahnasawy6 berkata: “Sayyid Quthub telah mengadopsi sebagian pendapat al-Maududi serta menampilkannya dalam tulisan-tulisannya, dan lebih khusus pada juz ke-7 dari tafsir(?) Fii Zhilalil-Qur’an, kemudian datang suatu kaum berkesimpulan atas dasar hal itu, bahwa kaum muslimin telah kafir, karena mereka mengucapkan syahadat tanpa mengetahui maknanya, dan tanpa mengamalkan isinya, sehingga meskipun mereka shalat, puasa, haji dan menyangka bahwa diri mereka kaum muslimin, maka sama sekali tidak merubah kekafiran mereka.”7

Ali Jarisyah8 menetapkan bahwa kaum takfiriyin (suka mengkafirkan kaum muslimin), asalnya mereka adalah dari kelompok Ikhwanul-Muslimin, kemudian mereka memisahkan diri dari Ikhwanul-Muslimin dan mengkafirkan Ikhwanul-Muslimin.

Teksnya: “Dalam pembicaraan, sekelompok orang telah memisahkan diri dari kelompok besar Islam, ketika mereka berada di penjara. Meskipun demikian, kelompok kecil tersebut juga mengkafirkan kelompok besar, karena kelompok kecil ini tetap berpegang pada pendapat mereka dalam pengkafiran peguasa, staf-stafnya, serta seluruh masyarakat. Dari kelompok pecahan tersebut terpecah lagi menjadi kelompok-kelompok yang banyak, yang satu megkafirkan yang lainnya.”9

al-Bahnasawi menjelaskan perpecahan kelompok ini didalam diri mereka sendiri dalam berinteraksi dengan kaum muslimin, maka dia mengatakan: “Ketika itu, terpecah pengikut pemikiran ini menjadi dua:

  1. Kelompok yang tidak menampakkan pengkafiran atas orang-orang yang menyelisihi mereka, sehingga kaum muslimin yang tidak sependapat dengan mereka; tidak kafir, boleh shalat di belakang mereka, isteri-isteri pengikut pemikiran ini juga tidak kafir, sehinga tidak perlu membatalkan akad pernikahan mereka.
  2. Kelompok yang memisahkan diri dengan terang-terangan, dan mengumumkan pengkafiran atas saudara-saudaranya yang tidak mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi pemikiran ini, diantaranya kelompok Ikhwanul-Muslimin.

Inilah kelompok yang terkenal dengan sebutan “Jama’ah Takfir dan Hijrah”, akan tetapi mereka menamakan diri dengan nama “Jama’atul-Mukmin” atau “al-Jama’ah al-Mukminah.”

Adapun kelompok pertama lebih memilih untuk tidak menampakkan manhaj mereka, dengan menjalankan dua kaidah: memisahkan diri secara perlahan, dan (bergerak di) masa-masa lemah (fase Makkah)”10

Pada hakikatnya, pemikiran yang al-Bahnasawi berusaha membantahnya, yang dimiliki oleh Jama’ah at-Tafkir wal-Hijrah adalah pemikiran Ikhwanul-Muslimin, bahkan itulah pemikiran dan keyakinan Sayyid Quthub. Motivasi al-Bahnasawi melakukan hal ini, adalah kebesaran cinta dan sayangnya kepada Sayyid Quthub, sebagaimana hal itu nampak di dalam bukunya, dengan berusaha melepaskan keterkaitan Sayyid Quhub dengan keyakinan tafkir11, meskipun dia telah mengakui bahwa aqidah ini diambil dari buku-buku Sayyid Quthub, dan Sayyid Quthub mengadopsinya dari al-Maududi.

Diantara bukti hal ini, adalah keterus-terangan Sayyid Quthub sendiri akan wajibnya mengembargo masyarakat muslim, yang dia sebut sebagai masyarakat jahiliyyah. Dia juga mewajibkan untuk mengasingkan diri, bahkan dari masjid-masjid, yang dia menyebutnya sebagai tempat-tempat ibadah jahiliyyah, seraya mengatakan: “Dan disinilah Allah membimbing kita untuk menjauhi tempat-tempat ibadah jahiliyyah, dan menjadikan rumah-rumah keluarga muslim sebagai masjid. Anda akan merasakan didalamnya benar-benar terpisah dari masyarakat jahiliyyah.”12

Dia juga mengatakan: “Sungguh tiada keselamatan bagi seorang muslim di seluruh dunia dari tertimpa adzab, kecuali dengan memisahkan diri baik secara aqidah, perasaan maupun metode hidup dari orang-orang jahiliyyah dari kaummnya, sampai Allah mengizinkan berdirinya negara Islam yang mereka pegang teguh.”13

Pada hakikatnya, aqidah pengkafiran masyarakat muslim ini, dan menganggap mereka sebagai masyarakat jahiliyyah lagi kafir, tidak hanya dimiliki oleh Sayyid Quthub saja, akan tetapi itulah keyakinan yang bibit-bibitnya sudah tertanam kuat dan tersebar luas pada para pemimpin Ikhwanul-Muslimin. Diantara pengusung pemikiran ini yang paling menonjol adalah Muhammad Quthub14, yang telah mengkhususkan pembahasan ini dalam bukunya yang terkenal, “Jahiliyyatul-Qorni Isyrin” (Jahiliyyah Abad ke-20). Pada berbagai tempat didalam bukunya ini, Muhammad Quthub terang-terangan mengkafirkan masyarakat muslim dewasa ini.

Muhammad Quthub mengatakan: “Adapun keadaan yang dinamakan dunia Islam, maka hal itu sebagian keadaannya berbeda dengan kondisinya di Eropa, akan tetapi pada akhirnya akan bertemu dengannya, sebagaimana jahiliyyah bertemu dengan jahiliyyah di setiap tempat dimuka bumi, dan di setiap masa, meskipun sifat-sifatnya sedikit berbeda, yang membedakan jahiliyyah yang ini dengan yang itu, serta membedakan antara keadaan ini dengan keadaan itu.

Islam di dunia ini (sekarang) asing bagi manusia, seperti keterasingannya pada awal munculnya di era jahiliyyah jazirah Arab dahulu, dan jahiliyyah yang sekarang15 melebihi yang terdahulu, Islam dibenci oleh banyak orang.

Setapak demi setapak pada pasal ini kita akan berbicara tentang kelompok-kelompok manusia yang berbeda-beda, agar bisa kita jelaskan, kenapa mereka membenci Islam.16

Kemudian dia menyebutkan, diantara kelompok-kelompok tersebut yang membenci Islam adalah kelompok thagut, dan yang dimaksud adalah para penguasa, kelompok cendekiawan, seniman dan para penulis, tukang dongeng, para penyair, anak-anak pria dan wanita.17

Setelah itu, dia mengatakan: “Derajat kebenciannya sama, antara yang membangkang dengan yang lemah.”18

Lalu dia bertanya-tanya: “Maka, jika demikian, apakah yang masih tersisa dari kaum muslimin?! 19

Kemudian dia mencatat hasilnya: “Sungguh manusia pada generasi ini, telah kafir padahal mereka mengetahuinya.” 20

Dan tidaklah buku-buku para pemimpin Ikhwanul-Muslimin yang lain keadaannya lebih baik dari buku-buku Sayyid Quthub dan saudaranya. Dan hal itu bukanlah suatu hal yang mengherankan, karena Sayyid Quthub menurut mereka adalah Imam yang diagungkan, Syaikhul-Islam, pembaharu agama abad ini. Hal ini juga diikuti simpatisan mereka, maka bagaimana mungkin mereka akan menyelisihi idola mereka?!

Dan tidaklah keadaan al-Maududi dan para pengikutnya di Pakistan, India dan lainnya lebih baik dari kelompok Ikhwanul-Muslimin, bahkan sebagian peneliti buku-buku al-Maududi menjelaskan bahwa Sayyid Quthub mengadopsi pemikiran dan manhaj-nya dari al-Maududi saja, sebagaimana perkataan al-Bahnasawi yang terdahulu.

Yang terakhir, sesungguhnya saya memperingatkan dengan keras kepada setiap pemuda yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya untuk tidak membaca buku-buku pemikiran tersebut, yang namanya saja sudah menunjukkan betapa jauhnya buku-buku tersebut dari agama. Karena buku-buku pemikiran, sebagaimana penamaan mereka, yakni buku-buku yang dihasilkan dari berbagai pemikiran dan pendapat pengarangnya, kadar bahaya buku-buku ini tidak lebih rendah dari buku-buku filsafat yang dilarang oleh salaf, bahkan lebih dahsyat. Buku-buku ini tidak berdiri di atas dalil dan tidak selaras dengan pemahaman salaf, bahkan merupakan pencampuran (kolaborasi) antara berbagai bid’ah dan kesesatan. Ciri khas yang menonjol dari buku-buku tersebut adalah memprovokasi dan menyeru umat untuk memberontak dan membangkang penguasa, dengan mempropagandakan kekafiran dan kemurtadan penguasa dari agama, serta menjadikan para pemuda tersebut disibukkan dengan politik dan masuk dalam konflik, sehingga keburukan dan bahayanya buku-buku ini begitu besar, dan begitu banyak orang-orang yang terfitnah oleh buku-buku ini, dan tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah semata. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.21

CATATAN KAKI:

  1. ^ Dialihbahasakan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi, Lc., dari buku “at-Takfir wa Dhawabithuh” karya Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar-Rauhaily, dosen Fakultas Da’wah wa Ushuludin, Universitas Islam Madinah halaman 37-45. Tulisan ini kami muat sebagai jawaban atas orang-orang yang menyatakan Khawarij sekarang ini, sudah punah (-pent).
  2. ^ Ma’alim fith-Thariq, halaman 158.
  3. ^ Fii Zhilalil-Qur’an (2/1057).
  4. ^ Idem (4/2122).
  5. ^ Penjara ini ada di Kairo, Mesir (-pent).
  6. ^ Penulis dari kalangan Ikhwanul-Muslimin, pernah tinggal di Kuwait (-pent).
  7. ^ al-Hukmu wa Qodhiyah Takfiril-Muslimin halaman 50.
  8. ^ Penulis dari kalangan Ikhwanul-Muslimin, lulusan Fakultas Hukum, Kairo.
  9. ^ al-Ittijaahat al-Fikriyah al-Mu’aashirah halaman 279.
  10. ^ al-Hukmu wa Qadhiyah Takfiril-Muslimin halaman 34-35.
  11. ^ al-Hukmu wa Qadhiyah Takfiril-Muslimin halaman 50, 56, 66, 73, 74,76, 112.
  12. ^ Fii Zhilalil-Qur’an, 3/1816.
  13. ^ Idem, 4/2122.
  14. ^ Adik kandung Sayyid Quthub, lulusan Fakultas Bahasa Inggris di Universitas Kairo, Mesir, kemudian mendapatkan gelar Diploma dalam bidang Psikologi. Dialah yang mengusung dan mengembangkan pemikiran Sayyid Quthub di Saudi Arabia, ketika ia mengajar di Universitas Ummul Qura’, Makkah. Sehingga tidak mengherankan apabila muncul dari sana tokoh-tokoh yang berpemikiran takfir akan tetapi berbaju salaf, semisal Dr. Safar Hawali, dll. Allahu Musta’an (-pent).
  15. ^ Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun mensifati zaman secara mutlak, maka tidak ada masa jahiliyyah setelah diutusnya Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena senantiasa akan ada segolongan dari umatnya yang akan nampak di atas kebenaran sampai kiamat nanti.” (Iqtidha’ush-Shirathal-Mustaqim : 1/259).
  16. ^ Dr. Nashir bin Abdul-Karim al-Aql (pen-tahqiq buku diatas) mengomentari: “Atas dasar ini, maka menggunakan istilah Jahiliyyah dengan mutlak untuk kaum muslimin secara umum, atau untuk suatu negeri kaum muslimin, atau untuk suatu masyarakat muslim, tanpa perincian keadaan, perbuatan, tindakan atau individu tertentu, merupakan suatu kesalahan dan peremehan, yang sudah sepatutnya seorang muslim menjauhinya. Adapun yang disampaikan oleh beberapa penulis, penyusun dan pemikir bahwa semua atau semua masyarakat muslim adalah masyarakat jahiliyyah (tanpa perincian atau pengkhususan siapa yang menurut syari’at berhak menyandang istilah tersebut), maka itu bukanlah metode yang selamat, bahkan menyelisihi kaidah-kaidah syari’at dan manhaj as-Salaf ash-Shalih. (editor)
  17. ^ Jahiliyatul-Qarnil ‘Isyrin, halaman 328-329.
  18. ^ Idem, halaman 329-331.
  19. ^ Idem, halaman 337.
  20. ^ Idem, halaman 337 .
  21. ^ Idem, halaman 351.
  22. ^ Lihatlah fatwa larangan sebagian ulama masa kini dari membaca buku-buku tersebut, seperti dalam kitab “al-Ajwibah al-Mufidah an-Manahijid Dakwal al-Jadidah” oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, dikumpulkan oleh Jamal Furaihan al-Haritsi. Juga buku “Fatawa al-Akabir” dikumpulkan dan dikomentari oleh Syaikh Abdul-Malik bin Ahmad Rhamadhany (-pent).

SUMBER:

Majalah adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah edisi 24 tahun V Dzulqo’dah 1427 Hijriah yang diterbitkan oleh Penerbit Ma’had Ali al-Irsyad as-Salafy, Jl. Sidotopo Kidul No. 51, Surabaya.