Artikel Ke-6: ‘Asyura adalah Puasa, Bukan Berpesta atau Berkabung

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Islam menyodorkan konsep pendidikan yang utuh dan ajeg. Salah satu bentuknya adalah dengan berpuasa. Hikmah puasa, diantaranya, adalah sebagai proses penempaan kejiwaan. Karena itu puasa dianjurkan dilakukan secara rutin.

Bukan hanya yang bersifat wajib setiap bulan Ramadhan tiba. Puasa ada yang sunnah dilakukan setiap pekan, yakni puasa pada hari Senin dan Kamis. Harian juga ada seperti puasa Dawud. Kemudian ada pula yang rutin setiap tiga hari setiap bulan. Yang bersifat tahunan pun ada seperti Arafah dan ’Asyura.

Agungnya Bulan Muharram

Puasa ’Asyura dilaksanakan pada bulan pertama penanggalan hijrah, Muharram. Bulan ini adalah bulan yang agung dan diberkahi. Salah satu dari bulan haram (suci) yang Allah tegaskan dalam firman-Nya (yang artinya):

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian pada bulan yang empat itu.” (QS. at-Taubah:36)

Sementara itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“…satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya adalah empat bulan haram, yaitu tiga bulan yang berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang berada diantara bulan Jumada dan Sya’ban.1

Disebut bulan Muharram karena didalamnya diharamkan kezhaliman dengan penegasan yang kuat. Allah berfirman, (yang artinya):

“Jangan kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan tersebut.” (QS. at-Taubah:36)

Bukan berarti selain bulan tersebut boleh berlaku zhalim, tetapi pada bulan itu ditegaskan larangannya, sebagaimana perilaku zhalim ditegaskan larangannya di tanah haram. Ibnu Abbas menjelaskan tentang firman Allah tersebut; ”Allah mengkhususkan empat bulan yang haram dan menegaskan keharamannya. Allah juga menjadikan dosa pada bulan tersebut lebih besar. Demikian pula amal shalih dan pahala juga menjadi lebih besar.” Qatadah berkata; “Sesungguhnya Allah memilih beberapa pilihan dari makhluk-Nya, Allah telah memilih rasul (utusan) dari para malaikat sebagaimana Allah juga memilih rasul dari umat manusia, Allah memilih dzikir dari kalam-Nya, memilih masjid-masjid dari bumi-Nya, memilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram dari seluruh bulan, memilih hari Jum’at dari seluruh hari dalam satu pekan, memilih lailatul-qadr dari seluruh malam. Karena itu agungkanlah apa yang telah Allah agungkan, karena menurut para ulama segala sesuatu itu memiliki kedudukan agung jika memang telah Allah berikan kedudukan agung padanya.2

Puasa di Bulan Muharram

Diantara shalat sunnah, shalat malam adalah yang paling utama, begitu pun dengan puasa, setelah puasa wajib di bulan Ramadhan puasa sunnah di bulan Muharram adalah yang paling utama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah, Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah yang wajib adalah shalat malam.”3

Kata “bulan Allah” menunjukkan bahwa bulan tersebut memiliki keagungan karena disandarkan kepada Allah. Ada hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa satu bulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Jadi hadits ini merupakan anjuran untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram meski tidak satu bulan penuh.

Tidak seperti kaidah sembrono sebagaimana disodorkan oleh situs gelap yang mengaku sebagai SalafyIndonesia bahwa menetapkan keutamaan waktu dan tempat adalah bersifat ijtihadiyah. Karena itu tidak heran jika mereka sangat mengagungkan kuburan. Berbeda dengan para ulama, hak menetapkan tersebut adalah pada Allah kemudian Rasul-Nya. Imam al-‘Izz bin Abdis-salaam rahimahullah mengatakan; “Menetapkan keutamaan pada tempat dan waktu itu ada dua bentuk; Pertama: yang bersifat duniawi, Kedua: dieni (bersifat keagamaan) yang kembali pada kemurahan Allah terhadap para hamba-Nya untuk melipatgandahkan pahala bagi orang-orang yang beramal, seperti keutamaan puasa Ramadhan dari puasa pada bulan-bulan lain, demikian pula ‘Asyura. Keutamaan yang Allah berikan ini menunjukkan kemurahan dan kebaikan Allah terhadap hamba-hamba-Nya.”4

Puasa ‘Asyura dalam Sejarah

Sejarah puasa ‘Asyura digugat oleh agama Syi’ah. Wajar, sebab pada hari itu mereka punya gawe berupa hari berkabung dengan melakukan niyahah (ratapan) yang luar biasa. Gugurnya cucu Rasulullah, Husain, memang menyedihkan, sebagaimana gugurnya keluarga beliau lainnya, seperti Hamzah atau Ali yang ditikam kaum Khawarij. Hanya saja karena kematian Hamzah dan Ali tidak punya nilai jual bagi paham mereka, maka yang muncul hanyalah pesta peringatan kematian Husain radhiyallahu ‘anhu.

Mereka sempat mengklaim bahwa puasa ‘Asyura adalah palsu karena mengikuti orang Yahudi, sementara orang Yahudi punya kalender sendiri jauh sebelum penanggalan Hijriyah dicetuskan di zaman Umar. Klaim ini kemudian tidak populer, kini muncul anggapan (karena tidak ada bukti nyata berdasar ilmu hadits) bahwa hadits puasa ‘Asyura adalah buatan penguasa Bani Umayyah. Analisis mereka sekadar prasangka penuh duga ditambah dengan semangat ta’ashub (fanatik -ahlussunnah.info).

Salah satu yang mengabarkan hadits puasa ‘Asyura adalah Ibnu ‘Abbas, sepupu Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya: “Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya; ‘Hari apa ini?’ Orang-orang Yahudi menjawab; ‘Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa berpuasa pada hari ini.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; ‘Saya lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian!’ Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk melakukannya.5

Puasa ‘Asyura sudah dikenal bahkan pada masa jahiliyah sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi Rasul. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah beliau berkata; ’Sesungguhnya orang-orang jahiliyah dahulu sudah pernah mengerjakan puasa ‘Asyura.’ Imam al-Qurthubi mengatakan: ’Mungkin orang-orang jahiliyah melakukan puasa tersebut dengan alasan mengikuti syari’at umat terdahulu seperti Nabi Ibrahim.

Dalam suatu hadits dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengerjakan puasa ini di Makkah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Ketika beliau hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi memperingatinya. Maka beliau bertanya kepada mereka tentang sebabnya. Mereka menjawab sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits diatas. Beliaupun memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan perbuatan yang berbeda dengan mereka dimana mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari ‘Id. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits Abu Musa beliau mengatakan; ‘Hari ‘Asyura dijadikan sebagai hari ‘Id oleh orang-orang Yahudi.’ Dalam riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim;Hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan dan dijadikan sebagai hari ‘Id oleh orang-orang Yahudi.’ Dalam riwayat yang lain di Shahih Muslim disebutkan; ‘Penduduk Khaibar (Yahudi) menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ‘Id, mereka memakaikan para wanita mereka dengan berbagai perhiasan.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya); ‘Puasalah kalian pada hari tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa faktor yang mendorong perintah puasa ini adalah keinginan Rasulullah untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi, agar kita berpuasa pada hari dimana mereka berbuka; karena pada hari ‘Id orang tidak puasa.6

Keutamaan Puasa ‘Asyura

Ibnu ‘Abbas berkata;

Aku tidak pernah mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ’Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan.7

Tentang puasa ’Asyura Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

…dan puasa di hari ’Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.8

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan maksud hadits tersebut mengatakan; “Thaharah, shalat, puasa Ramadhan, puasa Arafah, dan puasa ‘Asyura hanya dapat menghapuskan dosa-dosa kecil.9

Kapan ‘Asyura Itu?

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan; “Para ulama dalam madzhab kita mengatakan; ’‘Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharram sedang Tasu’a adalah hari kesembilan dari bulan yang sama… inilah pendapat mayoritas ulama… inilah yang dimaksud dalam hadits-hadits, yang sesuai dengan bahasa dan dikenal oleh para ahli bahasa…. Ibnu Sirrin melaksanakan hal ini (puasa pada hari ke-9, ke-10 dan ke-11) dengan alasan kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharram. Kita kira tanggal sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal sepuluh.10 Untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

Insya Allah pada tahun depan kita akan puasa pada hari kesembilan.

Ibnu ‘Abbas mengatakan; ’Sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.’”11

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya); “Berpuasalah pada hari ’Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”12

Keinginan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa pada hari kesembilan mengandung makna bahwa puasa ‘Asyura tidak hanya hari kesepuluh, namun ditambah dengan hari kesembilan. Hal ini bisa jadi untuk kehati-hatian atau menyelisihi orang Yahudi dan Nasrani. Inilah pendapat yang kuat sebagaimana ditunjukkan dalam beberapa riwayat hadits dalam Shahih Muslim.13

Oleh karena itu puasa ‘Asyura ada beberapa tingkatan; yang terendah adalah puasa pada hari kesepuluh saja, kemudian yang diatasnya puasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Diatasnya lagi adalah berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11. Semakin banyak puasa yang dikerjakan pada bulan Muharram adalah lebih baik dan lebih utama. Wallahu a’lam.

Hanya Mengerjakan Puasa ‘Asyura

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan; “Puasa ‘Asyura dapat menghapus dosa satu tahun dan bukan makruh jika hanya mengerjakan puasa ‘Asyura…14

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan; “Tidaklah mengapa kalau hanya mengerjakan ‘Asyura saja…15

Bertepatan dengan Hari Jum’at atau Sabtu

Ada larangan mengerjakan puasa pada hari Jum’at. Begitu pula puasa pada hari Sabtu kecuali yang fardhu. Namun larangan ini hilang jika berpuasa pada hari Jum’at atau Sabtu tersebut ditambah satu hari sebagai pasangannya atau bertepatan dengan ibadah yang disyariatkan seperti puasa Dawud, puasa nadzar, puasa qadha, atau puasa yang memang dianjurkan dalam syari’at seperti puasa ‘Arafah dan ‘Asyura…”16

Hal ini dilarang karena menyerupai orang-orang Yahudi jika mengkhususkan hari Sabtu… kecuali jika hari Jum’at atau Sabtu tersebut bertepatan dengan kebiasaan yang ada dalam syari’at seperti hari ‘Arafah dan ‘Asyura atau sudah menjadi kebiasaan puasa, hal ini tidak dilarang, karena kebiasaan tersebut punya pengaruh.17

CATATAN KAKI:

  1. ^ Shahih al-Bukhari nomor 2958.
  2. ^ Tafsir al-Quran al-Azhim Ibnu Katsir, II/356.
  3. ^ Shahih Muslim nomor 1982.
  4. ^ Qawa’idul-Ahkam I/38.
  5. ^ Shahih al-Bukhari nomor 1865.
  6. ^ Ringkasan penjelasan al-Hafzh Ibnu Hajar dalam Fathul-Bari, Syarh Shahih al-Bukhari IV/246-248.
  7. ^ Shahih al-Bukhari nomor 1867.
  8. ^ Shahih Muslim nomor 1976.
  9. ^ al-Fatawa al-Kubra jilid 5.
  10. ^ Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab VI/406.
  11. ^ Shahih Muslim nomor 1916.
  12. ^ Musnad Ahmad nomor 2047, disebutkan juga dalam Fathul-Bari IV/245.
  13. ^ Fathul-Bari IV/245.
  14. ^ al-Fatawa al-Kubra jilid 5.
  15. ^ Tuhfatul-Muhtaj jilid 3.
  16. ^ Tuhfatul-Muhtaj jilid 3 dan Musykil al-Atsar jilid 2.
  17. ^ Kasyful-Qina’ jilid 2.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari majalah Fatawa volume IV/Nomor 01, Muharram 1429/Januari 2008, halaman 18-21.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s