Artikel Ke-7: Peristiwa Karbala dalam Pandangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

Oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Urgensi Sanad

Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan dalam kitab Aqidah al-Wasithiyyah: “Ahlus-Sunnah menahan lidah dari permasalahan atau pertikaian yang terjadi diantara para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dan mereka juga mengatakan: ‘Sesungguhnya riwayat-riwayat yang dibawakan dan sampai kepada kita tentang keburukan-keburukan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum (pertikaian atau peperangan) ada yang dusta dan ada juga yang ditambah, dikurangi dan dirubah dari aslinya (serta ada pula yang shahih-pen). Riwayat yang shahih menyatakan, bahwa para Sahabat radhiyallahu ‘anhum ini ma’dzûrûn (orang-orang yang diberi udzur). Baik dikatakan karena mereka itu para mujtahid yang melakukan ijtihad dengan benar ataupun juga para mujtahid yang ijtihadnya keliru.’”1

Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah memposisikan riwayat-riwayat ini. Ketiga riwayat ini bertebaran dalam kitab-kitab tarikh (sejarah). Dan ini mencakup semua kejadian dalam sejarah Islam, termasuk kisah pembunuhan Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala. Sebagian besar riwayat tentang peristiwa menyedihkan ini adalah kebohongan belaka. Sebagian lagi dha’if dan ada juga yang shahih. Riwayat yang dinyatakan shahih oleh para ulama ahli hadits yang bersesuaian dengan kaidah ilmiah dalam ilmu hadits, (maka) inilah yang wajib dijadikan pedoman dalam mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Dari sini, kita dapat memahami betapa sanad itu sangat penting untuk membungkam para pendusta dan membongkar niat busuk mereka.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan; “Sanad itu senjata kaum Muslimin, jika dia tidak memiliki senjata lalu apa yang dia pergunakan dalam berperang?” Perkataan ini diriwayatkan oleh al-Hâkim dalam kitab al-Madkhal.

‘Abdullah bin Mubârak rahimahullah mengatakan; “Sanad ini termasuk bagian dari agama. kalau tidak ada isnad, maka siapapun bisa berbicara semaunya.” Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab Shahih Beliau rahimahullah.

Di tempat yang sama, Imam Muslim rahimahullah juga membawakan perkataan Ibnu Sîrin; “Dahulu, mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Ketika fitnah mulai banyak, mereka mengatakan; ‘Sebutkanlah nama orang-orangmu yang meriwayatkannya!’

Kronologi Terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu

Berkait dengan peristiwa Karbala, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan; “Orang-orang yang meriwayatkan pertikaian Husain radhiyallahu ‘anhu telah memberikan tambahan dusta yang sangat banyak, sebagaimana juga mereka telah membubuhkan dusta pada peristiwa pembunuhan terhadap ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana mereka juga memberikan tambahan cerita (dusta) pada peristiwa-peristiwa yang ingin mereka besar-besarkan, seperti dalam riwayat mengenai peperangan, kemenangan dan lain sebagainya. Para penulis tentang berita pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, ada diantara mereka yang merupakan ahli ilmu (ulama) seperti al-Baghawi rahimahullah dan Ibnu Abi Dun-ya dan lain sebagainya. Namun demikian, diantara riwayat yang mereka bawakan ada yang terputus sanadnya. Sedangkan yang membawakan cerita tentang peristiwa ini dengan tanpa sanad, kedustaannya sangat banyak.2

Oleh karenanya, dalam pembahasan tentang peristiwa ini perlu diperhatikan sanadnya.

Riwayat Shahih tentang Peristiwa Karbala

Riwayat yang paling shahih ini dibawakan oleh Imam al-Bukhâri, nomor 3748:

Aku diberitahu oleh Muhammad bin Husain bin Ibrâhîm, dia mengatakan; aku diberitahu oleh Husain bin Muhammad, kami diberitahu oleh Jarîr dari Muhammad dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan; ‘Kepala Husain dibawa dan didatangkan kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd3. Kepala itu ditaruh di bejana. Lalu ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husain. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; ‘Diantara Ahlul-Bait, Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Saat itu, Husain radhiyallahu ‘anhu disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam).’

Kisahnya, Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma tinggal di Makkah bersama beberapa Shahabat, seperti Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhuma. Ketika Muawiyah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia pada tahun 60 H, anak Beliau Yazîd bin Muâwiyah menggantikannya sebagai imam kaum Muslimin atau khalifah. Saat itu, penduduk Irak yang didominasi oleh pengikut ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Husain radhiyallahu ‘anhu meminta Beliau radhiyallahu ‘anhu pindah ke Irak. Mereka berjanji akan membai’at Husain radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah karena mereka tidak menginginkan Yazîd bin Muâwiyah menduduki jabatan khalifah. Tidak cukup dengan surat, mereka terkadang mendatangi Husain radhiyallahu ‘anhu di Makkah, mengajak Beliau radhiyallahu ‘anhu berangkat ke Kufah dan berjanji akan menyediakan pasukan. Para Sahabat seperti Ibnu Abbâs radhiyallahu ‘anhuma kerap kali menasehati Husain radhiyallahu ‘anhu agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husain radhiyallahu ‘anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dibunuh di Kufah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu khawatir mereka membunuh Husain radhiyallahu ‘anhu juga disana. Husain radhiyallahu ‘anhu mengatakan; “Saya sudah melakukan istikharah dan akan berangkat kesana.

Sebagian riwayat menyatakan bahwa Beliau radhiyallahu ‘anhu mengambil keputusan ini karena belum mendengar kabar tentang sepupunya, Muslim bin ‘Aqil, yang telah dibunuh disana.

Akhirnya, berangkatlah Husain radhiyallahu ‘anhu bersama keluarga menuju Kufah.

Sementara di pihak yang lain, ‘Ubaidullah bin Ziyâd diutus oleh Yazid bin Muawiyah untuk mengatasi pergolakan di Irak. Akhirnya, ‘Ubaidullah dengan pasukannya berhadapan dengan Husain radhiyallahu ‘anhu bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Irak. Pergolakan ini sendiri dipicu oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan Husain radhiyallahu ‘anhu. Dua pasukan yang sangat tidak imbang ini bertemu, sementara orang-orang Irak yang (telah) membujuk Husain radhiyallahu ‘anhu, dan berjanji akan membantu dan menyiapkan pasukan justru melarikan diri meninggalkan Husain radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah. Sampai akhirnya, terbunuhlah Husain radhiyallahu ‘anhu sebagai orang yang terzhalimi dan sebagai syahid. Kepalanya dipenggal lalu dibawa ke hadapan ‘Ubaidullah bin Ziyâd dan kepala itu diletakkan di bejana.

Lalu ‘Ubaidullah yang durhaka4 ini kemudian menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husain radhiyallahu ‘anhu, padahal disitu ada Anas bin Mâlik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhuma. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; “Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium mulut itu!” Mendengarnya, orang durhaka ini mengatakan; “Seandainya saya tidak melihatmu sudah tua renta yang akalnya sudah rusak, maka pasti kepalamu saya penggal.

Dalam riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân dari Hafshah binti Sirîn dari Anas radhiyallahu ‘anhu dinyatakan:

Lalu ‘Ubaidullah mulai menusukkan pedangnya ke hidung Husain radhiyallahu ‘anhu.

Dalam riwayat ath-Thabrâni rahimahullah dari hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu:

Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husain radhiyallahu ‘anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan; ‘Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu.’

Demkian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu:

Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya; ‘Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium tempat dimana engkau menaruh pedangmu itu.’ Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya.

Demikianlah kejadiannya, setelah Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh, kepala Beliau radhiyallahu ‘anhu dipenggal dan ditaruh di bejana. Dan mata, hidung dan gigi Beliau radhiyallahu ‘anhu ditusuk-tusuk dengan pedang. Para Sahabat radhiyallahu ‘anhuma yang menyaksikan hal ini meminta kepada ‘Ubaidullah, orang durhaka ini, agar menyingkirkan pedang itu, karena mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menempel (di) tempat itu. Alangkah tinggi rasa hormat mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan alangkah sedih hati mereka menyaksikan cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang kesayangan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dihinakan di depan mata mereka.

Dari sini, kita mengetahui betapa banyak riwayat palsu tentang peristiwa ini yang menyatakan bahwa kepala Husain radhiyallahu ‘anhu diarak sampai diletakkan di depan Yazid rahimahullah. Para wanita dari keluarga Husain radhiyallahu ‘anhu dikelilingkan ke seluruh negeri dengan kendaaraan tanpa pelana, ditawan dan dirampas. Semua ini merupakan kepalsuan yang dibuat Rafidhah (Syiah). Karena Yazid rahimahullah saat itu sedang berada di Syam, sementara kejadian memilukan ini berlangsung di Irak.

Syaikhul-Islam Taimiyyah rahimahullah mengatakan; “Dalam riwayat dengan sanad yang majhul dinyatakan bahwa peristiwa penusukan ini terjadi di hadapan Yazid, kepala Husain radhiyallahu ‘anhu dibawa ke hadapannya dan dialah yang menusuk-nusuknya, gigi Husain radhiyallahu ‘anhu. Disamping dalam cerita (dusta) ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa cerita ini bohong, maka (untuk diketahui juga-red) para Sahabat yang menyaksikan peristiwa penusukan ini tidak berada di Syam, akan tetapi di negeri Irak. Justru sebaliknya, riwayat yang dibawakan oleh beberapa orang menyebutkan bahwa Yazid tidak memerintahkan ‘Ubaidullah untuk membunuh Husain.5

Yazid rahimahullah sangat menyesalkan terjadinya peristiwa menyedihkan itu. Karena Mu’awiyah berpesan agar berbuat baik kepada kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, saat mendengar kabar bahwa Husain dibunuh, mereka sekeluarga menangis dan melaknat ‘Ubaidullah. Hanya saja dia tidak menghukum dan meng-qishash ‘Ubaidullah, sebagai wujud pembelaan terhadap Husain secara tegas.6

Jadi memang benar, Husain radhiyallahu ‘anhu dibunuh dan kepalanya dipotong, tapi cerita tentang kepalanya diarak, wanita-wanita dinaikkan kendaraan tanpa pelana dan dirampas, semuanya dha’if (lemah). Alangkah banyak riwayat dha’if serta dusta seputar kejadian menyedihkan ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah diatas.

Kemudian juga, kisah pertumpahan darah yang terjadi di Karbala ditulis dan diberi tambahan-tambahan dusta. Tambahan-tambahan dusta ini bertujuan untuk menimbulkan dan memunculkan fitnah perpecahan di tengah kaum Muslimin. Sebagian dari kisah-kisah dusta itu bisa kita dapatkan dalam kitab Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Minhâjus-Sunnah IV/517 dan 554, 556:

  • Ketika hari pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu, langit menurunkan hujan darah lalu menempel di pakaian dan tidak pernah hilang dan langit nampak berwarna merah yang tidak pernah terlihat sebelum itu.
  • Tidak diangkat sebuah batu melainkan di bawahnya terdapat darah penyembelihan Husain radhiyallahu ‘anhu.
  • Kemudian mereka juga menisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah perkataan yang berbunyi:“Mereka ini adalah titipanku pada kalian, kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat; ‘Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (QS. asy Syûrâ : 42-23)”Riwayat ini dibantah oleh para ulama diantaranya Ibnu Taimiyyah rahimahullah dengan mengatakan; “Apa masuk di akal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkan kepada makhluk padahal Allah ‘Azza wa Jalla tempat penitip yang terbaik? Sedangkan ayat diatas yang mereka anggap diturunkan Allah ‘Azza wa Jalla berkenaan dengan peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, maka ini juga merupakan satu bentuk kebohongan. Karena ayat ini terdapat dalam surat as-Syûrâ dan surat ini Makkiyah. Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan surat ini sebelum Ali radhiyallahu ‘anhu dan Fathimah radhiyallahu anha menikah.

Husain radhiyallahu ‘anhu Terbunuh sebagai Orang yang Terzhalimi dan Mati Syahid

Ini merupakan keyakinan Ahlus-Sunnah. Pendapat ini berada diantara dua pendapat yang saling berlawanan. Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan; “Tidak disangsikan lagi bahwa Husain radhiyallahu ‘anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid. Pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan tindakan maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantu pembunuhan ini. Di sisi lain, merupakan musibah yang menimpa kaum Muslimin, keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya. Husain radhiyallahu ‘anhu berhak mendapatkan gelar syahid, kedudukan dan derajat ditinggikan.7

Kemudian, di halaman yang sama, Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu tidak lebih besar daripada pembunuhan terhadap para Rasul. Allah ‘Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa Bani Isra’il telah membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Pembunuhan terhadap para Nabi itu lebih besar dosanya dan merupakan musibah yang lebih dahsyat. Begitu pula pembunuhan terhadap ‘Ali radhiyallahu ‘anhu (bapak Husain radhiyallahu ‘anhuma) lebih besar dosa dan musibahnya, termasuk pembunuhan terhadap ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu juga.

Ini merupakan bantahan telak bagi kaum Syi’ah yang meratapi kematian Husain radhiyallahu ‘anhu, namun, tidak meratapi kematian para Nabi. Padahal pembunuhan yang dilakukan oleh Bani Isra’il terhadap para Nabi tanpa alasan yang benar lebih besar dosa dan musibahnya. Ini juga menunjukkan bahwa mereka bersikap ghuluw (melampau batas) kepada Husain radhiyallahu ‘anhu.

Sikap ghuluw ini mendorong mereka membuat berbagai hadits palsu. Misalnya, riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, pembunuh Husain radhiyallahu ‘anhu akan berada di tabut (peti yang terbuat dari api), dia mendapatkan siksa setengah siksa penghuni neraka, kedua tangan dan kakinya diikat dengan rantai dari api neraka, ditelungkupkan sampai masuk ke dasar neraka dan dalam keadaan berbau busuk, penduduk neraka berlindung dari bau busuk yang keluar dari orang tersebut dan dia kekal di dalamnya.

Syaikhul-Islam Ibnu Tamiyyah rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan; “Hadits ini termasuk diantara riwayat yang berasal dari para pendusta.

Menyikapi Peristiwa Karbala

Menyikapi peristiwa wafatnya Husain radhiyallahu ‘anhu, umat manusia terbagi menjadi tiga golongan. Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan; “Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, manusia terbagi menjadi tiga, dua golongan yang ekstrim dan satu berada di tengah-tengah.

Golongan Pertama: Mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu itu merupakan tindakan benar. Karena Husain radhiyallahu ‘anhu ingin memecah-belah kaum Muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu pemimpin lalu pendatang hendak memecah-belah jama’ah kalian, maka bunuhlah dia.”8

Kelompok pertama ini mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu datang saat urusan kaum Muslimin berada dibawah satu pemimpin (yaitu Yazid bin Muawiyah) dan Husain radhiyallahu ‘anhu hendak memecah-belah umat.

Sebagian lagi mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan orang pertama yang memberontak kepada penguasa. Kelompok ini melampaui batas, sampai berani menghinakan Husain radhiyallahu ‘anhu. Inilah kelompok ‘Ubaidullah bin Ziyâd, Hajjâj bin Yusûf dan lain-lain. Sedangkan Yazid bin Muâwiyah rahimahullah tidak seperti itu. Meskipun tidak menghukum ‘Ubaidullah, namun ia tidak menghendaki pembunuhan ini.

Golongan Kedua: Mereka mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu adalah imam yang wajib ditaati; tidak boleh menjalankan suatu perintah kecuali dengan perintahnya; tidak boleh melakukan shalat jama’ah kecuali dibelakangnya atau orang yang ditunjuknya, baik shalat lima waktu ataupun shalat Jum’at dan tidak boleh berjihad melawan musuh kecuali dengan izinnya dan lain sebagainya.9

Kelompok pertama dan kedua ini berkumpul di Irak. Hajjâj bin Yûsuf adalah pemimpin golongan pertama. Ia sangat benci kepada Husain radhiyallahu ‘anhu dan merupakan sosok yang zhalim. Sementara kelompok kedua dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid yang mengaku mendapat wahyu dan sangat fanatik dengan Husain radhiyallahu ‘anhu. Orang inilah yang memerintahkan pasukannya agar menyerang dan membunuh ‘Ubaidullah bin Ziyad dan memenggal kepalanya.

Golongan Ketiga: Yaitu Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang tidak sejalan dengan pendapat golongan pertama, juga tidak dengan pendapat golongan kedua. Mereka mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid. Inilah keyakinan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, yang selalu berada ditengah antara dua kelompok.

Ahlus-Sunnah mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu bukanlah pemberontak. Sebab, kedatangannya ke Irak bukan untuk memberontak. Seandainya mau memberontak, Beliau radhiyallahu ‘anhu bisa mengerahkan penduduk Makkah dan sekitarnya yang sangat menghormati dan menghargai Beliau radhiyallahu ‘anhu. Karena, saat Beliau radhiyallahu ‘anhu di Makkah, kewibawannya mengalahkan wibawa para Sahabat lain yang masih hidup pada masa itu di Makkah. Beliau radhiyallahu ‘anhu seorang alim dan ahli ibadah. Para Sahabat sangat mencintai dan menghormatinya. Karena Beliaulah Ahli Bait yang paling besar.

Jadi Husain radhiyallahu ‘anhu sama sekali bukan pemberontak. Oleh karena itu, ketika dalam perjalanannya menuju Irak dan mendengar sepupunya, Muslim bin ‘Aqîl, dibunuh di Irak, Beliau radhiyallahu ‘anhu berniat untuk kembali ke Makkah. Akan tetapi, Beliau radhiyallahu ‘anhu ditahan dan dipaksa oleh penduduk Irak untuk berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah bin Ziyâd. Akhirnya, Beliau radhiyallahu ‘anhu tewas terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid.

Setan Menyebarkan Bid’ah

Syaikhul-Islam mengatakan10; “Dengan sebab kematian Husain radhiyallahu ‘anhu, setan memunculkan dua bid’ah di tengah manusia.

Pertama: Bid’ah kesedihan dan ratapan para hari ‘Asyûra (di negeri kita ini, acara bid’ah ini sudah mulai diadakan -pen) seperti menampar-nampar, berteriak, merobek-robek, sampai-sampai mencaci-maki dan melaknat generasi Salaf, memasukkan orang-orang yang tidak berdosa ke dalam golongan orang yang berdosa (para Sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dimasukkan, padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak memiliki andil dosa sedikit pun. Pihak yang berdosa adalah yang terlibat langsung kala itu). Mereka sampai mereka berani mencaci Sâbiqûnal-awwalûn. Kemudian riwayat-riwayat tentang Husain radhiyallahu ‘anhu dibacakan yang kebanyakan merupakan kebohongan. Karena tujuan mereka adalah membuka pintu fitnah (perpecahan) di tengah umat.

Kemudian Syaikhul-Islam rahimahullah juga mengatakan; “Di Kufah, saat itu terdapat kaum yang senantiasa membela Husain radhiyallahu ‘anhu yang dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid al-Kadzdzâb (karena dia mengaku mendapatkan wahyu-pen). Di Kufah juga terdapat satu kaum yang membenci ‘Ali dan keturunan Beliau radhiyallahu ‘anhu. Di antara kelompok ini adalah Hajjâj bin Yûsuf ats-Tsaqafi. Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

Akan ada di suku Tsaqif seorang pendusta dan perusak.

Orang Syi’ah yang bernama Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid itulah sang pendusta. Sedangkan sang perusak adalah al-Hajjaj. Yang pertama membuat bid’ah kesedihan, sementara yang kedua membuat bid’ah kesenangan. Kelompok kedua ini pun meriwayatkan hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa melebihkan nafkah keluarganya pada hari ‘Asyûra, maka Allah ‘Azza wa Jalla melonggarkan rezekinya selama setahun itu.”

Juga hadits “barangsiapa memakai celak pada hari ‘Asyûra, maka tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu,” dan lain sebagainya.

Kedua: Bid’ah yang kedua adalah bid’ah kesenangan pada hari ‘Asyura. Karena itu, para khatib yang sering membawakan riwayat ini -karena ketidak-tahuannya tentang ilmu riwayat atau sejarah-, sebenarnya secara tidak langsung, masuk ke dalam kelompok al-Hajjâj, kelompok yang sangat membenci Husain radhiyallahu ‘anhu. Padahal wajib bagi kita meyakini bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid. Dan wajib bagi kita mencintai Sahabat yang mulia ini dengan tanpa melampaui batas dan tanpa mengurangi haknya, tidak mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu seorang Imam yang maksum (terbebas dari semua kesalahan), tidak pula mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu itu adalah tindakan yang benar. Pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu adalah tindakan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Itulah sekilas mengenai beberapa permasalahan yang berhubungan dengan peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu. Semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menghindarkan kita semua dari berbagai fitnah yang disebarkan oleh setan dan para tentaranya.

CATATAN KAKI:

  1. ^ Syarhu al-‘Aqidah al-Wâsithiyyah, Syaikh Shalih al-Fauzan, halaman198.
  2. ^ Minhâjus-Sunnah, IV/556.
  3. ^ Komandan pasukan yang memerangi Husain radhiyallahu ‘anhu, pada tahun 60-61 H di Irak di sebuah daerah yang bernama Karbala.
  4. ^ Ia disebut orang durhaka, karena dia tidak diperintah untuk membunuh Husain radhiyallahu ‘anhu, namun melakukannya.
  5. ^ Minhâjus-Sunnah, IV/557.
  6. ^ Lihat Minhâjus-Sunnah, V/557-558.
  7. ^ Minhâjus-Sunnah, IV/550.
  8. ^ HR. Muslim, Kitabul-Imârah.
  9. ^ Minhâjus-Sunnah, IV/553.
  10. ^ Minhâjus-Sunnah, IV/554.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari majalah as-Sunnah, edisi 10/Tahun XII/1430 H/2009 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo, Solo, 57183. Telp.: 0271-761016.

Iklan

Artikel Ke-6: ‘Asyura adalah Puasa, Bukan Berpesta atau Berkabung

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Islam menyodorkan konsep pendidikan yang utuh dan ajeg. Salah satu bentuknya adalah dengan berpuasa. Hikmah puasa, diantaranya, adalah sebagai proses penempaan kejiwaan. Karena itu puasa dianjurkan dilakukan secara rutin.

Bukan hanya yang bersifat wajib setiap bulan Ramadhan tiba. Puasa ada yang sunnah dilakukan setiap pekan, yakni puasa pada hari Senin dan Kamis. Harian juga ada seperti puasa Dawud. Kemudian ada pula yang rutin setiap tiga hari setiap bulan. Yang bersifat tahunan pun ada seperti Arafah dan ’Asyura.

Agungnya Bulan Muharram

Puasa ’Asyura dilaksanakan pada bulan pertama penanggalan hijrah, Muharram. Bulan ini adalah bulan yang agung dan diberkahi. Salah satu dari bulan haram (suci) yang Allah tegaskan dalam firman-Nya (yang artinya):

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian pada bulan yang empat itu.” (QS. at-Taubah:36)

Sementara itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“…satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya adalah empat bulan haram, yaitu tiga bulan yang berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang berada diantara bulan Jumada dan Sya’ban.1

Disebut bulan Muharram karena didalamnya diharamkan kezhaliman dengan penegasan yang kuat. Allah berfirman, (yang artinya):

“Jangan kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan tersebut.” (QS. at-Taubah:36)

Bukan berarti selain bulan tersebut boleh berlaku zhalim, tetapi pada bulan itu ditegaskan larangannya, sebagaimana perilaku zhalim ditegaskan larangannya di tanah haram. Ibnu Abbas menjelaskan tentang firman Allah tersebut; ”Allah mengkhususkan empat bulan yang haram dan menegaskan keharamannya. Allah juga menjadikan dosa pada bulan tersebut lebih besar. Demikian pula amal shalih dan pahala juga menjadi lebih besar.” Qatadah berkata; “Sesungguhnya Allah memilih beberapa pilihan dari makhluk-Nya, Allah telah memilih rasul (utusan) dari para malaikat sebagaimana Allah juga memilih rasul dari umat manusia, Allah memilih dzikir dari kalam-Nya, memilih masjid-masjid dari bumi-Nya, memilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram dari seluruh bulan, memilih hari Jum’at dari seluruh hari dalam satu pekan, memilih lailatul-qadr dari seluruh malam. Karena itu agungkanlah apa yang telah Allah agungkan, karena menurut para ulama segala sesuatu itu memiliki kedudukan agung jika memang telah Allah berikan kedudukan agung padanya.2

Puasa di Bulan Muharram

Diantara shalat sunnah, shalat malam adalah yang paling utama, begitu pun dengan puasa, setelah puasa wajib di bulan Ramadhan puasa sunnah di bulan Muharram adalah yang paling utama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah, Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah yang wajib adalah shalat malam.”3

Kata “bulan Allah” menunjukkan bahwa bulan tersebut memiliki keagungan karena disandarkan kepada Allah. Ada hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa satu bulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Jadi hadits ini merupakan anjuran untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram meski tidak satu bulan penuh.

Tidak seperti kaidah sembrono sebagaimana disodorkan oleh situs gelap yang mengaku sebagai SalafyIndonesia bahwa menetapkan keutamaan waktu dan tempat adalah bersifat ijtihadiyah. Karena itu tidak heran jika mereka sangat mengagungkan kuburan. Berbeda dengan para ulama, hak menetapkan tersebut adalah pada Allah kemudian Rasul-Nya. Imam al-‘Izz bin Abdis-salaam rahimahullah mengatakan; “Menetapkan keutamaan pada tempat dan waktu itu ada dua bentuk; Pertama: yang bersifat duniawi, Kedua: dieni (bersifat keagamaan) yang kembali pada kemurahan Allah terhadap para hamba-Nya untuk melipatgandahkan pahala bagi orang-orang yang beramal, seperti keutamaan puasa Ramadhan dari puasa pada bulan-bulan lain, demikian pula ‘Asyura. Keutamaan yang Allah berikan ini menunjukkan kemurahan dan kebaikan Allah terhadap hamba-hamba-Nya.”4

Puasa ‘Asyura dalam Sejarah

Sejarah puasa ‘Asyura digugat oleh agama Syi’ah. Wajar, sebab pada hari itu mereka punya gawe berupa hari berkabung dengan melakukan niyahah (ratapan) yang luar biasa. Gugurnya cucu Rasulullah, Husain, memang menyedihkan, sebagaimana gugurnya keluarga beliau lainnya, seperti Hamzah atau Ali yang ditikam kaum Khawarij. Hanya saja karena kematian Hamzah dan Ali tidak punya nilai jual bagi paham mereka, maka yang muncul hanyalah pesta peringatan kematian Husain radhiyallahu ‘anhu.

Mereka sempat mengklaim bahwa puasa ‘Asyura adalah palsu karena mengikuti orang Yahudi, sementara orang Yahudi punya kalender sendiri jauh sebelum penanggalan Hijriyah dicetuskan di zaman Umar. Klaim ini kemudian tidak populer, kini muncul anggapan (karena tidak ada bukti nyata berdasar ilmu hadits) bahwa hadits puasa ‘Asyura adalah buatan penguasa Bani Umayyah. Analisis mereka sekadar prasangka penuh duga ditambah dengan semangat ta’ashub (fanatik -ahlussunnah.info).

Salah satu yang mengabarkan hadits puasa ‘Asyura adalah Ibnu ‘Abbas, sepupu Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya: “Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya; ‘Hari apa ini?’ Orang-orang Yahudi menjawab; ‘Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa berpuasa pada hari ini.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; ‘Saya lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian!’ Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk melakukannya.5

Puasa ‘Asyura sudah dikenal bahkan pada masa jahiliyah sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi Rasul. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah beliau berkata; ’Sesungguhnya orang-orang jahiliyah dahulu sudah pernah mengerjakan puasa ‘Asyura.’ Imam al-Qurthubi mengatakan: ’Mungkin orang-orang jahiliyah melakukan puasa tersebut dengan alasan mengikuti syari’at umat terdahulu seperti Nabi Ibrahim.

Dalam suatu hadits dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengerjakan puasa ini di Makkah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Ketika beliau hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi memperingatinya. Maka beliau bertanya kepada mereka tentang sebabnya. Mereka menjawab sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits diatas. Beliaupun memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan perbuatan yang berbeda dengan mereka dimana mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari ‘Id. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits Abu Musa beliau mengatakan; ‘Hari ‘Asyura dijadikan sebagai hari ‘Id oleh orang-orang Yahudi.’ Dalam riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim;Hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan dan dijadikan sebagai hari ‘Id oleh orang-orang Yahudi.’ Dalam riwayat yang lain di Shahih Muslim disebutkan; ‘Penduduk Khaibar (Yahudi) menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ‘Id, mereka memakaikan para wanita mereka dengan berbagai perhiasan.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya); ‘Puasalah kalian pada hari tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa faktor yang mendorong perintah puasa ini adalah keinginan Rasulullah untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi, agar kita berpuasa pada hari dimana mereka berbuka; karena pada hari ‘Id orang tidak puasa.6

Keutamaan Puasa ‘Asyura

Ibnu ‘Abbas berkata;

Aku tidak pernah mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ’Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan.7

Tentang puasa ’Asyura Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

…dan puasa di hari ’Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.8

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan maksud hadits tersebut mengatakan; “Thaharah, shalat, puasa Ramadhan, puasa Arafah, dan puasa ‘Asyura hanya dapat menghapuskan dosa-dosa kecil.9

Kapan ‘Asyura Itu?

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan; “Para ulama dalam madzhab kita mengatakan; ’‘Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharram sedang Tasu’a adalah hari kesembilan dari bulan yang sama… inilah pendapat mayoritas ulama… inilah yang dimaksud dalam hadits-hadits, yang sesuai dengan bahasa dan dikenal oleh para ahli bahasa…. Ibnu Sirrin melaksanakan hal ini (puasa pada hari ke-9, ke-10 dan ke-11) dengan alasan kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharram. Kita kira tanggal sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal sepuluh.10 Untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

Insya Allah pada tahun depan kita akan puasa pada hari kesembilan.

Ibnu ‘Abbas mengatakan; ’Sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.’”11

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya); “Berpuasalah pada hari ’Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”12

Keinginan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa pada hari kesembilan mengandung makna bahwa puasa ‘Asyura tidak hanya hari kesepuluh, namun ditambah dengan hari kesembilan. Hal ini bisa jadi untuk kehati-hatian atau menyelisihi orang Yahudi dan Nasrani. Inilah pendapat yang kuat sebagaimana ditunjukkan dalam beberapa riwayat hadits dalam Shahih Muslim.13

Oleh karena itu puasa ‘Asyura ada beberapa tingkatan; yang terendah adalah puasa pada hari kesepuluh saja, kemudian yang diatasnya puasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Diatasnya lagi adalah berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11. Semakin banyak puasa yang dikerjakan pada bulan Muharram adalah lebih baik dan lebih utama. Wallahu a’lam.

Hanya Mengerjakan Puasa ‘Asyura

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan; “Puasa ‘Asyura dapat menghapus dosa satu tahun dan bukan makruh jika hanya mengerjakan puasa ‘Asyura…14

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan; “Tidaklah mengapa kalau hanya mengerjakan ‘Asyura saja…15

Bertepatan dengan Hari Jum’at atau Sabtu

Ada larangan mengerjakan puasa pada hari Jum’at. Begitu pula puasa pada hari Sabtu kecuali yang fardhu. Namun larangan ini hilang jika berpuasa pada hari Jum’at atau Sabtu tersebut ditambah satu hari sebagai pasangannya atau bertepatan dengan ibadah yang disyariatkan seperti puasa Dawud, puasa nadzar, puasa qadha, atau puasa yang memang dianjurkan dalam syari’at seperti puasa ‘Arafah dan ‘Asyura…”16

Hal ini dilarang karena menyerupai orang-orang Yahudi jika mengkhususkan hari Sabtu… kecuali jika hari Jum’at atau Sabtu tersebut bertepatan dengan kebiasaan yang ada dalam syari’at seperti hari ‘Arafah dan ‘Asyura atau sudah menjadi kebiasaan puasa, hal ini tidak dilarang, karena kebiasaan tersebut punya pengaruh.17

CATATAN KAKI:

  1. ^ Shahih al-Bukhari nomor 2958.
  2. ^ Tafsir al-Quran al-Azhim Ibnu Katsir, II/356.
  3. ^ Shahih Muslim nomor 1982.
  4. ^ Qawa’idul-Ahkam I/38.
  5. ^ Shahih al-Bukhari nomor 1865.
  6. ^ Ringkasan penjelasan al-Hafzh Ibnu Hajar dalam Fathul-Bari, Syarh Shahih al-Bukhari IV/246-248.
  7. ^ Shahih al-Bukhari nomor 1867.
  8. ^ Shahih Muslim nomor 1976.
  9. ^ al-Fatawa al-Kubra jilid 5.
  10. ^ Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab VI/406.
  11. ^ Shahih Muslim nomor 1916.
  12. ^ Musnad Ahmad nomor 2047, disebutkan juga dalam Fathul-Bari IV/245.
  13. ^ Fathul-Bari IV/245.
  14. ^ al-Fatawa al-Kubra jilid 5.
  15. ^ Tuhfatul-Muhtaj jilid 3.
  16. ^ Tuhfatul-Muhtaj jilid 3 dan Musykil al-Atsar jilid 2.
  17. ^ Kasyful-Qina’ jilid 2.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari majalah Fatawa volume IV/Nomor 01, Muharram 1429/Januari 2008, halaman 18-21.

Artikel ke-5: Bahaya Khuruj (Melawan) terhadap Pemerintah

Oleh: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari1

Gerakan khuruj (pemberontakan) dan inqilab (melancarkan kudeta) terhadap suatu pemerintahan (yang sah) bukanlah sarana untuk memperbaiki masyarakat. Bahkan justru memicu timbulnya kerusakan di tengah masyarakat.

Khuruj terhadap pemerintah Muslim, bagaimanapun tingkat kezhalimannya, merupakan bentuk penyimpangan dari manhaj Ahlus-Sunnah (wal-Jama’ah). Ada dua macam bentuk khuruj; (1) Khuruj dengan memanggul senjata, (2) Khuruj dengan perkataan dan lisan.

Mereka yang selalu memunculkan perpecahan, pertikaian, dan pergolakan terhadap pemerintahan Muslim, pada hakikatnya telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan tersebut. Padahal, Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk bersabar, sebagaimana sabda beliau (yang artinya):

Kecuali engkau melihat suatu ke-kufur-an yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allaah.” (Hadits Muttafaq ‘alaih)

Renungkanlah perkataan Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam;Kecuali engkau melihat suatu kekufuran.” Penuturan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak terhenti sampai disitu saja, tetapi diiringi dengan keterangan “ke-kufur-an yang sangat jelas.” Lantas beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menambahkan keterangan lebih lanjut “yang dapat engkau buktikan tentang itu di sisi Allaah.

Di dalam hadits ini, beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan lima buah penekanan untuk mencegah orang dari khuruj dan takfir (mengkafirkan pemerintah ataupun individu Muslim) yang merupakan perbuatan sangat buruk dan berbahaya. Karena dapat mengakibatkan kerusakan dan kehancuran ditengah masyarakat.

Bahkan Imam Ibnul-Qayyim rahimahullaah berkata didalam kitabnya, I’lamul Muwaqqi’in: “Tidak ada satu pemberontakan pun terhadap pemerintah Muslim yang membawa kebaikan terhadap umat pada masa kapan pun.

Begitu juga hujatan terhadap pemerintah. Manakala sebagian orang menjadikan hujatan terhadap pemerintah sebagai materi ceramah dan “nasihat-nasihat” yang mereka sampaikan untuk memperoleh simpati manusia. Manusia pada dasarnya menyukai hujatan terhadap pemerintah, juga terhadap para penguasa dan pemimpin, serta kepada setiap orang yang mempunyai posisi lebih tinggi dari mereka. Seakan-akan hujatan dan celaan tersebut sebagai hiburan yang dapat menyenangkan hati mereka.

Sungguh suatu fenomena yang sangat menyedihkan ketika kita menyaksikan hujatan, makian, serta cercaan terhadap pemerintah, saat ini menjadi materi-materi ceramah dan “masukan” bagi sebagian da’i zaman sekarang, khususnya pada waktu terjadinya fitnah. Hingga materi yang mereka sampaikan akan membuat orang-orang berkomentar: ”Masyaa Allaah, Syaikh ini orang yang berani, atau Syaikh ini orang yang kuat.” Padahal fakta ini sesungguhnya tidak mendatangkan manfaat apapun, melainkan hanya akan menghasut dan mengotori jiwa.

Sebagian orang justru mengira, tindakan tersebut merupakan bentuk upaya menasehati pemerintah. Padahal terdapat metode dan prosedur dalam menasehati pemerintah, seperti termaktub dalam sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):

Barangsiapa di antara kalian yang ingin menasehati penguasa, maka hendaklah dia pergi kepadanya, dan merahasiakan nasihatnya itu.

Hadits Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini menjelaskan bahwa nasihat kepada para penguasa atau pemerintah, hendaklah disampaikan secara rahasia. Karena bila ditempuh secara terang-terangan akan menimbulkan gejolak hati, yang merusak hati.

Kalau di antara kita –para penuntut ilmu- ada yang terjatuh kedalam suatu kesalahan, kemudian salah seorang menasihatinya di depan umum, ia langsung akan berkata: “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allaah. Janganlah kamu membuka aibku di depan umum. Kalau engkau ingin menasihatiku, maka lakukanlah dengan empat mata.

Kalau para penuntut ilmu, para da’i yang mengajak manusia kepada Kitabullaah dan Sunnah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam –yang mengetahui keutamaan ilmu, keutamaan al-haq dan kembali kepadanya (setelah mengalami kekeliruan)- tidak menyukai metode seperti ini dalam memberikan suatu nasihat, maka bagaimana mungkin para penguasa yang memiliki kedudukan, kekuasaan, senjata, serta tentara yang banyak –bagaimana mungkin mereka- akan dapat menerima nasihat dengan cara yang tidak simpatik ini. Justru yang lebih utama, tidak menasihati mereka di depan umum; kalaupun hal ini tidak mendatangkan maslahat bagi pemerintah, paling tidak akan memberi maslahat bagi diri kita sendiri. Hal ini, tentunya apabila mereka (para penguasa) adalah orang-orang Muslim.

Batasan yang paling rendah untuk menghukumi mereka sebagai seorang Muslim, ialah apabila mereka tunduk dan mengakui kebenaran agama Islam. Meskipun mereka melakukan suatu penyelewengan, mempunyai kesalahan yang banyak dan berbuat dosa-dosa besar. Dan ini semua tidak menjadikan mereka sebagai orang kafir, karena Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allaah.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih)

Kemudian Syaikh Muqbil rahimahullaah berkata: “Kami tidak memandang kudeta sebagai jalan untuk membenahi masyarakat. Bahkan gerakan tersebut, justru menimbulkan kerusakan dalam masyarakat.

Marilah kita simak sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim, dari hadits Arfajah Radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

Barangsiapa yang datang kepada kalian, ketika kalian bersatu dibawah satu pimpinan, dia berkeinginan untuk memecah belah persatuan kalian, maka bunuhlah dia.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa pemberontakan terhadap suatu pemerintah, yang dapat menimbulkan suatu perpecahan di kalangan masyarakat merupakan salah satu hal yang mewajibkan seseorang untuk dibunuh. Akan tetapi, perlu diingat, bahwa yang dapat menjatuhkan sanksi ini adalah waliyyul-amr, pemerintah yang memegang kekuasaan.

Dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit Radhiyallaahu ‘anhu, ia menceritakan (yang artinya):

Kami berbaiat kepada Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu patuh dan taat, baik terhadap apa yang kami suka maupun yang tidak kami suka, dan dalam keadaan sulit maupun lapang, dan untuk mendahulukan apa yang diperintahkan (diatas segala kehendak kami), dan untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpin yang sah. Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih)

Akan tetapi, ketaatan ini tidak boleh berlawanan dengan ketaatan kepada Allaah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya):

Sesungguhnya ketaatan itu hanya terhadap perkara yang ma’ruf (baik) saja.” (Hadits Muttafaqun ‘alaih)

Dan sebagaimana sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain (yang artinya):

Tidak boleh taat kepada makhluk di dalam maksiat kepada al-Khaliq.” (HR. Thabrani di dalam al-Mu’jamul Kabir)

Kalau mau merenung sejenak, niscaya kita akan memperoleh fakta bahwa dalam sejarah Islam, tidak ada satu pemberontakanpun yang berhasil. Lain halnya dengan orang-orang kafir, kebanyakan pemberontakan yang mereka gerakkan berakhir dengan keberhasilan. Di sini seakan-akan Allaah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki, supaya kita mau melihat dan memperhatikan bahwa cara seperti ini, bukanlah metode syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menginginkan kita supaya menempuh metode syar’i yang telah digariskan oleh-Nya, sebagaimana firman Allaah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya (yang artinya):

Sesungguhnya Allaah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d : 11)

Jika kamu menolong (agama) Allaah, niscaya Dia akan menolongmu.” (QS. Muhammad : 7)

Allaah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allaah Mahakuat, Mahaperkasa.” (QS. al-Hajj : 40)

Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa metode syar’i adalah tidak keluar dari Kitabullaah dan Sunnah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-An’am : 153)

Dari ‘Abdullaah bin Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata; ”Suatu hari Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam membuat suatu garis, kemudian beliau berkata; “Ini adalah jalan Allaah,” kemudian beliau membuat garis-garis yang banyak di bagian kanan dan bagian kirinya, lalu beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ini adalah jalan-jalan (yang dimaksud oleh Allaah), dan pada setiap jalan terdapat setan yang menyeru kepadanya,” kemudian beliau membaca ayat: “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”””

Dari sini jelaslah bagi kita, bahwa tidak ada jalan untuk memperbaiki kondisi masyarakat melainkan dengan mengikuti Sunnah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala macam bentuk bid’ah. Mari kita simak firman Allah ‘Azza wa Jalla yang sangat agung berikut ini (yang artinya):

Dan adakalanya kami memperlihatkan kepadamu (Muhammad) sebagian dari (siksaan) yang Kami janjikan kepada mereka, atau Kami wafatkan engkau (sebelum itu).” (QS. Yunus : 46)

Banyak diantara manusia yang berkata; “Kami belum melihat kejayaan Islam.” Ketahuilah! Bahwa tidaklah mesti kita melihat segala apa yang telah dijanjikan Allaah kepada kita, karena Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melihat segala apa yang di janjikan oleh Allaah. Coba kita menyimak firman Allaah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan janji-Nya kepada orang-orang beriman (yang artinya):

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai bagi mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Asalkan mereka (tetap) semata-mata beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan suatupun.” (QS. an-Nuur : 55)

Sungguh ini merupakan janji Allaah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kita dapat merealisasikan perintah Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan merealisasikan apa yang telah Dia janjikan kepada orang-orang yang beriman diantara kita.

Wallaahu ‘alam, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihii wa shahbihi wa sallam.

CATATAN KAKI:

  1. ^ Diterjemahkan oleh Ustadz Ahmad Danil dari penjelasan Syaikh Ali Hasan al-Halabi terhadap risalah Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullaah yang berjudul “Hadzihi Da’watuna wa Aqidatuna.”

SUMBER:

Artikel ini disalin dari Majalah as-Sunnah edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Alamat: Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. Telp. 0271-5891016.

Artikel Ke-4: Cinta Palsu Syi’ah untuk Ahli Bait

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Sekelompok orang menamakan diri sebagai pecinta Ahli Bait. Setiap tahun, terutama di bulan Muharram, mereka mempunyai acara khusus terkait dengannya. Betulkah mereka mencintai Ahli Bait?

Istilah Ahli Bait bukanlah sesuatu yang asing di telinga umat Islam. Begitu disebut Ahli Bait, yang tergambar dalam (benak seseorang) adalah seseorang yang mempunyai tali kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Siapa Ahli Bait?

Ahlul-Bait adalah orang-orang yang sah pertalian nasabnya sampai kepada Hasyim bin Abdi Manaf (Bani Hasyim) baik lelaki (sering disebut dengan syarif) atau wanita (sering disebut syarifah) yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggal dunia dalam keadaan beriman.

Sebagian Ahlul-Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

  1. Para istri Rasul, berdasarkan (al-Qur’an) surat al-Ahzab : 33.
  2. Seluruh putra-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tidak khusus bagi Fathimah).
  3. ‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib dan keturunannya.
  4. al-Harits bin ‘Abdul-Muththalib dan keturunannya.
  5. ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (tidak sebatas pada al-Hasan dan al-Husain saja).
  6. Ja’far bin Abi Thalib dan keturunannya.
  7. Aqil bin Abi Thalib dan keturunannya.

Rinciannya bisa dilihat dalam Minhajus- Sunnah an-Nabawiyyah.

Kedudukan Ahlul-Bait

Kedudukan Ahlul-Bait di sisi Allah dan Rasul-Nya amat mulia. Diantara kemuliaan itu adalah:

  1. Allah bersihkan Ahlul Bait dari kejelekan. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):“Hanyalah Allah menginginkan untuk membersihkan kalian (wahai) Ahlul-Bait dari kejelekan dan benar-benar menginginkan untuk mensucikan kalian.” (QS. al-Ahzab : 33)
  2. Perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpegang dengan bimbingan mereka.Dari Jabir bin ‘Abdillah, berkata; “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat haji pada hari Arafah, beliau berada diatas untanya, si al-Qashwa, sambil berkhutbah. Aku mendengar beliau berkata; ‘Wahai manusia sesungguh(nya) aku telah meninggalkan sesuatu untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan Ahlul-Baitku.’”Oleh karena itu tidaklah ragu lagi, bahwa Ahlul-Bait memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah dan Rasul-Nya.Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata; “Tidak diragukan lagi bahwa mencintai Ahlul-Bait adalah wajib.” al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata; “Termasuk memuliakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunannya.”Para sahabat sangat memuliakan Ahlul-Bait, baik yang dari kalangan Sahabat maupun Tabi’in. Demikianlah hendaknya sikap seorang Muslim. Wajib mencintai, menghormati, memuliakan, dan tidak menyakiti Ahlul-Bait.

    Tolok ukur kecintaan terhadap mereka semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa iman tidak akan bermanfaat kekerabatan seseorang terhadap Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

    Yaitu di hari (hari kiamat) yang harta dan anak keturunan tidak lagi bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Allah dengan hati yang lurus.” (QS. asy-Syu’ara` : 88-89)

    Bila ada Ahlul-Bait yang jauh dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, martabatnya di bawah orang yang berpegang teguh dengan Sunnah Rasul, walaupun bukan Ahlul-Bait. Allah berfirman (yang artinya):

    Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat : 13)

Ahlul-Bait Menurut Syi’ah

Syi’ah memang terpecah-belah dalam banyak kelompok. Yang termasuk ghulat (berlebihan dalam kesesatan, red) adalah Syi’ah Rafidhah. Mereka punya pandangan tersendiri tentang Ahlul-Bait, sangat bathil dan zhalim, yaitu:

  • Ahlul-Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbatas pada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.
  • Putra-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain Fathimah didepak dari lingkaran Ahlul-Bait.
  • Didepak pula semua istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali Khadijah, dari lingkaran Ahlul-Bait.
  • Dua belas putra Ali, selain Hasan dan Husain, dan 18 atau 19 putrinya tidak diakui sebagai Ahlul-Bait.
  • Putra-putri Hasan, cicit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dianggap sebagai bagian dari Ahlul-Bait.
  • Hanya keturunan Husain-lah yang mereka akui sebagai Ahlul-Bait. Itu pun sebagian keturunan Husain dikeluarkan dari lingkaran Ahlul-Bait karena tidak mencocoki hawa nafsu kaum Rafidhah. Sebagian keturunan Husain dilemparinya dengan kedustaan, kejahatan dan kefasikan, bahkan vonis kafir dan murtad pun dijatuhkan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!

Syi’ah mempunyai dua sikap yang saling bertolak belakang terhadap sesama Ahli Bait. Dalam satu sisi begitu berlebihan dalam mencintai (ifrath) Ahli Bait, sementara kepada sebagian Ahli Bait mereka sangat membencinya (tafrith).

Sikap Ifrath

al-Kulaini didalam al-Ushul min al-Kafi 19/197 membuat kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib, tulisnya; “Sesungguhnya aku diberi beberapa sifat yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku -sekalipun para Nabi. Aku mengetahui seluruh kenikmatan, musibah, nasab, dan keputusan hukum pada manusia. Tidaklah luput dariku perkara yang telah lampau dan tidaklah tersembunyi dariku perkara yang samar.

Didalam kitab al-Irsyad hal. 252 karya al-Mufid bin Muhammad an-Nu’man ditulis; “Ziarah kepada kubur Husain radhiyallahu ‘anhu bagaikan 100 kali haji mabrur dan 100 kali umrah.

Kedustaan mereka semakin menjadi-jadi saat menulis secara dusta sebuah ucapan yang mereka klaim sebagai perkataan Baqir bin Zainal Abidin rahimahullah; “Dan tidaklah keluar setetes air mata pun untuk meratapi kematian Husain, melainkan Allah akan mengampuni dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” Dalam riwayat lain ada tambahan lafal; “dan mendapatkan surga.” (Jala’ul’‘Uyun II hal. 464 dan 468 karya al-Majlisi al-Farisi)

Kecintaan kaum Syi’ah Rafidhah kepada beberapa Ahlul-Bait lebih bersifat kultus, bahkan menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai sekutu bagi Allah!

Sikap Tafrith

Diriwayatkan di dalam kitab Rijalul-Kasysyi hal. 54, karya al-Kasysyi, Allah berfirman (yang artinya);

Dialah sejelek-jelek penolong dan sejelek-jelek keluarga.” (al-Hajj:13) ayat ini turun tentang perihal ‘Abbas (paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Sementara salah satu anak ‘Abbas bin Abdul-Muthalib, ‘Abdullah, dicela dan difitnah. al-Qahbani dalam kitab Majma’ur-Rijal 4/143 mengatakan; “Sesungguhnya orang ini telah mengkhianati Ali dan telah mengambil harta (shadaqah) dari baitul-mal di kota Bashrah.

Kecurangan Syi’ah semakin kentara saat ingin mencela dan memfitnah Ummul-Mukminin ‘Aisyah, mereka secara dusta membuat pernyataan yang disandarkan kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas, orang yang sebelumnya dicaci. “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan Rasulullah…” (Ikhtiyar Ma’rifatur-Rijal karya ath-Thusi hal. 57-60)

Para Imam Ahlul-Bait Mencela Syi’ah Rafidhah

Orang-orang Syiah, mengklaim para imam Ahli Bait sebagai imam mereka. Klaim penuh dusta ini didustakan oleh para imam itu sendiri.

Ali bin Abi Thalib berkata; “Orang yang mengutamakan aku melebihi dua syaikh (Abu Bakar dan Umar) akan aku dera sebagai pendusta.

Muhammad bin Ali (al-Baqir) rahimahullah berkata; “Keluarga Fathimah telah bersepakat untuk memuji Abu Bakar dan Umar dengan sebaik-baik pujian.

Ja’far bin Muhammad (ash-Shadiq) rahimahullah berkata; “Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci siapa saja yang membenci Abu Bakar dan Umar.

Sungguh barangsiapa mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak Ahlul-Bait namun ternyata berlepas diri dari orang-orang yang dicintai Ahlul-Bait, maka yang ada hanya kedustaan belaka. Cinta mereka adalah cinta palsu. Ahlul-Bait mana yang mereka ikuti?! Sungguh indah perkataan penyair Arab:

Setiap lelaki mengaku kekasih Laila. Namun Laila tidak pernah mengakuinya.

Terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu tidak lepas dari penipuan Syi’ah Rafidhah, mereka beramai-ramai meninggalkan Husain dan keluarganya saat dikepung oleh pasukan Ziyad.

Ternyata Syi’ah Rafidhah menyimpan kebencian terhadap Ahlul-Bait. Kebencian itu tidak hanya berupa ucapan atau tulisan belaka. Mereka wujudkan dalam perbuatan, andilnya mereka dalam peristiwa terbunuhnya Husain. Terlalu panjang untuk mengungkap peristiwa menyedihkan itu, namun cukuplah tulisan para ulama mereka sendiri sebagai bukti atas kejahatan mereka.

Didalam kitab al-Irsyad hal. 241 karya al-Mufid diriwayatkan bahwa al-Husain pernah mengatakan; “Ya Allah jika engkau memanjangkan hidup mereka (Syi’ah Rafidhah) maka porak-porandakanlah barisan mereka, jadikanlah mereka terpecah-belah dan janganlah engkau ridhai pemimpin-pemimpin mereka, selama-lamanya. Mereka mengajak orang untuk membela kami, namun ternyata justru memusuhi dan membunuh kami.

Didalam kitab al-Ihtijaj 2/29 karya Abu Manshur ath-Thibrisi diriwayatkan bahwa Ali bin Husain, dikenal dengan Zainal Abidin, pernah berkata tentang kaum Syi’ah Rafidhah di negeri Irak, “Mereka menangisi kematian kami, padahal siapakah yang membunuh kami kalau bukan mereka?!

Hadits Palsu dan Lemah tentang Ahli Bait

Hadits yang disandarkan pada ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Perumpamaan Ahlul-Bait-ku seperti kapal Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya pasti dia selamat dan barangsiapa yang enggan untuk menaikinya, maka dia akan tenggelam (binasa).

Hadits ini dha’if (lemah) walaupun diriwayatkan dari beberapa jalan. Beberapa ulama pakar hadits seperti al-Imam Yahya bin Ma’in, al-Bukhari, an-Nasa’i, ad-Daruquthni, adz-Dzahabi, dan beberapa ulama lainnya telah mengkritik beberapa orang yang meriwayatkan hadits tersebut. (Silsilah al-Ahaditsi adh-Dha’ifah no. 4503 karya al-Albani)

Orang yang mengaku cinta memang belum pasti mencintai sesungguh hati, betapa banyak cinta bertebaran di dunia ini. Cinta palsu tidak akan terbukti selamanya. Begitu pula klaim kaum Syi’ah Rafidhah tentang cinta kepada Ahli Bait hanyalah klaim palsu. Tak lebih untuk mendapatkan keuntungan kelompoknya. Karena itulah mereka tidak bisa bersikap adil terhadap semua Ahli Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bish-shawab.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari majalah Fatawa, volume III, nomor 6, Mei 2007 M/Rabiul-Akhir 1428 H, halaman 24-26.

Artikel ke-3: ‘Abdullah bin Saba’ Bukan Tokoh Fiktif

Oleh: Muhammad Ashim bin Musthafa

Para ahli hadits dan para penulis kitab al-Jarh wa at-Ta’dil1, para penulis sejarah serta penulis kitab-kitab tentang aliran-aliran telah sepakat tentang keberadaan tokoh keturunan Yahudi ini, dia ialah ‘Abdullah bin Saba, yang juga berjuluk Ibnu Sauda.

Peran yang ia mainkan telah menanamkan bibit kerusakan di kalangan orang-orang munafiqin dan orang-orang sukuisme serta orang-orang yang di dalam hatinya berakar hawa nafsu dan keinginan-keinginan buruk lainnya. ‘Abdullah bin Saba’ memperlihatkan keislamannya pada masa kekhilafahan ‘Utsman. Dia juga mempertontonkan pribadi yang shalih, kemudian berusaha menjalin kedekatan dengan Ali.

Siapakah ‘Abdullah bin Saba’?

Jati diri ‘Abdullah bin Saba’ diperselisihkan. Ada sebagian ulama tarikh yang me-nisbat-kannya ke suku Himyar. Sementara al-Qummi memasukkannya ke dalam suku Hamadan. Adapun Abdul-Qahir al-Baghdadi menyebutnya berasal dari kabilah al-Hirah. Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat, Ibnu Saba berasal dari Rumawi. Tetapi ath-Thabari dan Ibnu Asakir menyebutnya berasal dari negeri Yaman.

Syaikh ‘Abdullah al-Jumaili menyatakan bahwa dirinya condong kepada pendapat yang terakhir. Dalihnya, pendapat ini mengakomodasi mayoritas pendapat tentang negeri asal Ibnu Saba. Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat pertama (ia berasal dari suku al-Himyar), juga dengan pendapat kedua (ia berasal dari suku Hamadan). Pasalnya, dua kabilah ini berasal dari Yaman. Sementara pendapat Ibnu Katsir dan al-Baghdadi tidak sejalan.2

Perbedaan pendapat ini muncul lantaran keberadaan dirinya yang sengaja ia rahasiakan, sampai orang-orang yang sezaman dengannya pun tidak mengenalnya, baik nama maupun negeri asalnya. Sengaja ia sembunyikan identitas dirinya, karena ia memiliki rencana rahasia, yaitu ingin berbuat makar terhadap Islam. Dia tidaklah memeluk Islam, kecuali untuk mengelabui, karena ia ingin menggerogoti Islam dari dalam.

Salah satu bukti yang menunjukkan ia sengaja menutup diri, yaitu jawaban yang diberikan kepada ‘Abdullah bin Amir. Tatkala ia ditanya oleh ‘Abdullah bin Amir tentang asal usulnya, ‘Abdullah bin Saba’ menjawab: “(Aku) adalah seorang lelaki dari ahli kitab yang ingin memeluk Islam, dan ingin berada disampingmu.

Makar Ibnu Saba’

‘Abdullah bin Saba’ mengunjungi banyak negeri Islam. Dia berkeliling sambil menghasut kaum muslimin, agar ketaatan mereka kepada para penguasa meredup. Ia memulai dengan masuk negeri Hijaz, Bashrah, Kufah. Setelah itu menuju Damaskus. Namun di kota terakhir ini, ia tidak berkutik. Penduduknya mengusirnya dengan segera. Lantas Mesir menjadi tujuan selanjutnya dan ia menetap disana.

Langkah berikutnya, ia melakukan korespondensi dengan orang-orang munafiqin, memprovokasi para pendengki yang membenci Khalifah kaum muslimin. Banyak yang teperdaya, hingga kemudian mendukungnya. Dia hembuskan pemahaman yang ngawur kepada para pendukungnya itu. Dia berhasil menancapkan semangat untuk memberontak dan tidak taat di kalangan sebagian kaum muslimin. Sehingga mereka bertekad membunuh Khalifah ‘Utsman, Khalifah yang ketiga, menantu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Para pengikut sang penghasut ini tidak menghormati kemulian kota Madinah. Mereka tidak menghormati kemulian bulan yang mulia. Juga tidak menghormati orang yang sedang membaca al-Qur’an. Khalifah ‘Utsman mereka bunuh saat sedang membaca al-Qur’an.

Sepak terjang ‘Abdullah bin Saba’ sangat nyata terekam sejarah. Namun ada saja yang mengingkari keberadaannya, dan menganggap Ibnu Sauda hanyalah tokoh dongeng atau fiktif. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai Ammar bin Yasir. Kalau pendapat itu keluar dari orang Syi’ah atau para orientalis, tentu hal yang lumrah. Akan tetapi, anehnya, di antara yang menetapkan demikian ini ternyata orang-orang yang mengaku beragama Islam.

Cendekiawan Muslim yang Mengingkari Keberadaan ‘Abdullah bin Saba’

Ada beberapa pemikir muslim yang menganggap bahwa ‘Abdullah bin Saba’ hanyalah tokoh fiktif belaka, sehingga mereka mengingkari keberadaan Ibnu Saba. Diantara pemikir-pemikir tersebut ialah Dr. Thaha Husain. Dia sangat dikenal sebagai corong orientalis. Pengingkarannya tentang keberadaan Ibnu Saba ini, ia tuangkan ke dalam tulisannya yang berjudul: Ali wa Banuhu dan al-Fitnah al-Kubra. Dalam tulisannya ini, ia benar-benar telah memenuhi otaknya dengan pemikiran orientalis, sampai-sampai ia mengatakan: “Aku berfikir dengan kerangka budaya Perancis dan menulisnya dengan bahasa Arab.”

Tokoh ini telah dijadikan sebagai kendaraan yang dimanfaatkan oleh Yahudi di Mesir untuk mengibarkan bendera Yahudi Internasional. Bersama para propagandis sosialisme di Mesir, ia menerbitkan majalah Katib Mishri. Sejak awal dia juga telah mengumumkan dukungannya terhadap pemikiran Yahudi Talmudiyyah; yakni salah satu gerakan Yahudi yang mendustakan keberadaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, al-Qur’an dan Taurat. Sebuah gagasan yang bagi seorang orientalis kafir tidak berani mengatakannya.

Tentang Ibnu Saba (Ibnu Sauda), Dr. Thaha Husain menyatakan, bahwa ihwal tentang Sabaiyyah dan perintisnya Ibnu Sauda, cerita tentang mereka hanyalah sekedar dipaksakan, dibuat skenarionya tatkala terjadi perdebatan atara Syi’ah dan golongan lainnya. Para seteru Syi’ah ingin memasukkan unsur Yahudi ke dalam prinsip keagamaan Syi’ah, sebagai usaha untuk lebih mantap dalam mematahkan dan mengganggu mereka …3

Selain Dr. Thaha Husain, ada tokoh lain yang juga mengingkari adanya ‘Abdullah bin Saba’. Yaitu Dr. Hamid Hafni Dawud, Dekan Jurusan Bahasa Arab Universitas Ain Syams. Dia seorang aktifis gerakan penyatuan Islam dengan Syi’ah. Sehingga tidak mengherankan jika ia berkata: “Sesungguhnya, cerita tentang Ibnu Saba (merupakan) salah satu dari kesalahan sejarah yang lolos dari penelitian para pakar sejarah dan menjadi sentral pemikiran mereka. Mereka itu sebenarnya tidak paham dan tidak mampu mencernanya. Ini adalah berita-berita buatan yang dipalsukan atas nama Syi’ah, sehingga mereka melekatkan kisah ‘Abdullah bin Saba’ pada mereka (Syi’ah) dan menjadikannya sebagai cara untuk mendiskkreditkannya.4

Sederet nama berikut, memiliki pandangan yang sama. Mereka ialah: Muhammad bin Jawad Maghnia, Murtadha al-Askari, Dr. Ali Wardi, Dr. Kamil Musthafa asy-Syibi, Dr. ‘Abdullah Fayyad, Thalib ar-Raifa’i. Mereka adalah pemikir-pemikir yang mengingkari kebenaran adanya Ibnu Saba. Mereka menyatakan, Ibnu Saba adalah tokoh dongeng yang hakikatnya tidak ada dalam dunia nyata.

Secara khusus Dr. Fayyadh mengatakan: “Terlihat dengan jelas bahwa Ibnu Saba tidak lebih hanya sekedar cerita tokoh fiktif belaka dalam dunia nyata. Sepak terjangnya kalau benar ia mempunyai andil terlalu dilebih-lebihkan lantaran berbagai motivasi agama dan politis. Dan bukti-bukti lemahnya cerita tentang Ibnu Saba sangat banyak.5

Sesungguhnya keberadaan Ibnu Saba ini tidak hanya ditulis dalam kitab-kitab ahli sunnah, bahkan juga direkam di dalam buku-buku Syi’ah.

Walaupun ada ulama Syi’ah sekarang ini mengingkarinya, lantaran telah mengetahui kebobrokan aqidah Ibnu Saba yang sudah banyak menyelinap di berbagai pecahan kelompok Syi’ah.

Diantara kitab-kitab karya ‘ulama Syi’ah yang mengungkap keberadaan ‘Abdullah bin Saba’ ialah kitab Risalah al-Irja (karya al-Hasan bin Muhammad bin al-Hanafiyah), al-Gharat (Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad Sa’id al-Asfahani), al-Maqalatu wal-Firaq (Sa’ad bin Abdillah Al-Qummi), Firaqu asy-Syi’ah (Muhammad al-Hasan bin Musa an-Nubakhti), Rijalu al-Kisysyi (Abu Amr Muhammad bin Umar al-Kisysyi), Rijalu ath-Thusi (Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan ath-Thusi), Syarah Ibni Abil Hadid li Nahji al-Balaghah (Izzudin Abu Hamid Abdul-Hamid bin Hibatullah yang lebih popular dengan sebutan Ibnu Abil Hadid al-Mu’tazili asy-Syi’i), ar-Rijal (al-Hasan bin Yusuf al-Hilli), Raudhatul-Jannat (Muhammad Baqir Khawansari), Tanqihul-Maqal fi Ahwali ar-Rijal (Abdullah al-Mamqani), Qamusu ar-Rijal (Muhammad Taqiyyi at-Tustari), Raudhatush-Shafa, sebuah buku sejarah tentang Syi’ah yang ditulis dengan bahasa Parsi. Ini sebagian buku-buku Syi’ah yang meyinggungnya.

Demikian pandangan tokoh-tokoh yang menyatakan ‘Abdullah bin Saba’ sekedar tokoh fiktif. Seolah-olah mereka tidak melupakan kitab-kitab Ahli Sunnah yang dipercaya. Demikian juga, seolah-olah mereka buta terhadap referensi-referensi kitab Syi’ah yang menjadi rujukan, yang mengandung kisah tentang Ibnu Saba, aqidah dan klaim-klaimnya yang didustakan oleh Ali, Ahlul-Bait serta berlepas diri dari mereka.

CATATAN KAKI:

  1. ^ Kitab tentang studi kritis perawi hadits.
  2. ^ Badzlul-Majhud fi Itsbati Musyabahati ar-Rafidhah lil Yahud karya ‘Abdullah al-Jumaily, Maktabah al-Ghuraba al-Atsaiyyah, Madinah Munawwarah, cetakan III tahun 1419H/1999M.
  3. ^ Ali wa Banuhu, karya Dr. Thaha Husain, dinukil dari kitab Ibnu Saba Haqiatun La Khayal, karya Dr. Sa’di al-Hasyimi.
  4. ^ at-Tasyayu Zhahiratun Thabi’iyyah fi Ithari ad-Da’wah al-Islamiyyah, halaman 18 dinukil dari kitab Ibnu Saba Haqiatun La Khayal, karya Dr. Sa’di al-Hasyimi.
  5. ^ Tarikhul-Imamiyyah wa Aslafahim Minsy-Syi’ah, halaman 92-100.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari Majalah as-Sunnah edisi 10/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo, Solo, 57183. Telp.: (0271) 761-016.

Artikel Ke-2: Ahmadiyah, Kelompok Pengekor Nabi Palsu

Oleh: Abu Asiah

Apa Itu Ahmadiyah?

Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900M, yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran/bentuk khusus, sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani. Corong gerakan ini adalah “Majalah al-Adyan” yang diterbitkan dengan bahasa Inggris.

Siapakah Mirza Ghulam Ahmad?

Mirza Ghulam Ahmad hidup pada tahun 1839-1908M. Dia dilahirkan di desa Qadian, di wilayah Punjab, India tahun 1839M. Dia tumbuh dari keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa mentaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum muslimin bergabung menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. Oleh pengikutnya dia dikenal sebagai orang yang suka menghasut/berbohong, banyak penyakit, dan pecandu narkotik.

Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka. Sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada pemerintah Inggris.

Diantara yang melawan dakwah Mirza Ghulam Ahmad adalah Syaikh Abdul Wafa’, seorang pemimpin Jami’ah Ahlul Hadits di India. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam Ahmad, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya.

Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh Abul Wafa’ mengajaknya ber-mubahalah (berdoa bersama), agar Allah mematikan siapa yang berdusta diantara mereka, dan yang benar tetap hidup. Tidak lama setelah ber-mubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908M.

Pada awalnya Mirza Ghulam Ahmad berdakwah sebagaimana para da’i Islam yang lain, sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaharu). Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi al-Muntazhar dan Masih al-Maud. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, buletin serta artikel hasil karyanya.

Di antara kitab terpenting yang dimilikinya berjudul Izalatul-Auham, I’jaz Ahmadi, Barahin Ahmadiyah, Anwarul-Islam, I’jazul-Masih, at-Tabligh dan Tajliat Ilahiah.

Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah

  1. Meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah al-Masih yang dijanjikan.
  2. Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur dan mendengkur, menulis dan menyetempel, melakukan kesalahan dan berjima’. Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka yakini.
  3. Keyakinan Ahmadiyah bahwa tuhan mereka adalah Inggris, karena dia berbicara dengannya menggunakan bahasa Inggris.
  4. Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana al-Qur’an.
  5. Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk mentaati pemerintah Inggris, karena menurut mereka pemerintah Inggris adalah waliyul-amri (pemerintah Islam) sebagaimana tuntunan al-Qur’an.
  6. Seluruh orang Islam menurut mereka kafir sampai mau bergabung dengan Ahmadiyah. Seperti bila ada laki-laki atau perempuan dari golongan Ahmadiyah yang menikah dengan selain pengikut Ahmadiyah, maka dia kafir.
  7. Membolehkan khamr, opium, ganja dan apa saja yang memabukkan.
  8. Mereka meyakini bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi terus ada. Allah mengutus Rasul sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Dan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.
  9. Mereka mengatakan bahwa tidak ada al-Qur’an selain apa yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan tidak ada al-Hadits selain apa yang disampaikan didalam majelis Mirza Ghulam Ahmad. Serta tidak ada nabi melainkan berada di bawah pengaturan Mirza Ghulam Ahmad.
  10. Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan (dari langit), bernama al-Kitab al-Mubin, bukan al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin.
  11. Mereka meyakini bahwa al-Qadian (tempat awal gerakan ini) sama dengan Madinah al-Munawarah dan Makkah al-Mukarramah; bahkan lebih utama dari kedua tanah suci itu, dan suci tanahnya serta merupakan kiblat mereka dan kesanalah mereka berhaji.
  12. Mereka meyakini bahwa mereka adalah pemeluk agama baru yang independen, dengan syarat yang independen pula, seluruh teman-teman Mirza Ghulam Ahmad sama dengan Sahabat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Akar Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah

  1. Bermula dari gerakan orientalis bawah tanah yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad Khan yang menyebarkan pemikiran-pemikiran menyimpang; yang secara tidak langsung telah membuka jalan bagi munculnya gerakan Ahmadiyah.
  2. Inggris menggunakan kesempatan ini dan membuat gerakan Ahmadiyah, dengan memilih untuk gerakan ini seorang lelaki pekerja dari keluarga bangsawan.
  3. Pada tahun 1953M, terjadilah gerakan sosial nasional di Pakistan menuntut diberhentikannya Zhafrillah Khan dari jabatannya sebagai Menteri Luar Negeri. Gerakan itu dihadiri oleh sekitar 10 ribu umat muslim, termasuk pengikut kelompok Ahmadiyah, dan berhasil menurunkan Zhafrillah Khan dari jabatannya.
  4. Pada bulan Rabiul Awwal 1394H, bertepatan dengan bulan April 1974M dilakukan muktamar besar oleh Rabhithah Alam Islami di Makkah al-Mukarramah yang dihadiri oleh tokoh-tokoh lembaga-lembaga Islam seluruh dunia. Hasil muktamar memutuskan; “Kufurnya kelompok ini dan keluar dari Islam. Meminta kepada kaum muslimin berhati-hati terhadap bahaya kelompok ini dan tidak ber-mu’amalah dengan pengikut Ahmadiyah, serta tidak menguburkan pengikut kelompok ini di pekuburan kaum Muslimin.”
  5. Majelis Rakyat (Parlemen) Pakistan melakukan debat dengan gembong kelompok Ahmadiyah bernama Nasir Ahmad. Debat ini berlangsung sampai mendekati 30 jam. Nasir Ahmad menyerah/tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan tersingkaplah kedok kufurnya kelompok ini. Maka majelis parlemen mengeluarkan keputusan bahwa kelompok ini lepas dari agama Islam.

Hal-hal yang Mewajibkan Kafirnya Mirza Ghulam Ahmad

  1. Pengakuannya sebagai nabi.
  2. Menghapus kewajiban jihad dan mengabdi kepada penjajah.
  3. Meniadakan berhaji ke Makkah dan menggantinya dengan berhaji ke Qadian.
  4. Penyerupaan yang dilakukannya terhadap Allah dengan manusia.
  5. Kepercayaannya terhadap keyakinan tanasukh (menitisnya ruh) dan hulul (bersatunya manusia dengan tuhan).
  6. Penisbatannya bahwa Allah memiliki anak, serta klaimnya bahwa dia adalah anak tuhan.
  7. Pengingkarannya terhadap ditutupnya kenabian oleh Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan membuka pintu bagi siapa saja yang menginginkannya.

Penyebaran dan Aktifitas Ahmadiyah

  1. Penganut aliran Ahmadiyah kebanyakan hidup di India dan Pakistan dan sebagian kecilnya di Israel dan wilayah Arab. Mereka senantiasa membantu penjajah agar dapat membentuk/membangun sebuah markas di setiap negara di mana mereka berada.
  2. Ahmadiyah memiliki pekerjaan besar di Afrika dan pada sebagian negara-negara Barat. Di Afrika saja mereka beranggotakan kurang lebih 5.000 mursyid dan da’i yang khusus merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah. Dan aktifitas mereka secara luas memperjelas bantuan/dukungan mereka terhadap penjajahan.
  3. Keadaan kelompok Ahmadiyah yang sedemikian, ditambah perlakuan pemerintah Inggris yang memanjakan mereka, memudahkan para pengikut kelompok ini bekerja menjadi pegawai di berbagai instansi pemerintahan di berbagai negara, di perusahaan-perusahaan dan persekutuan-persekutuan dagang. Dari hasil kerja mereka itu dikumpulkanlah sejumlah dana untuk membiayai dinas rahasia yang mereka miliki.
  4. Dalam menjalankan misi, mereka merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah dengan segala cara, khsusnya media massa. Mereka adalah orang-orang yang berwawasan dan banyak memiliki orang pandai, insinyur dan dokter. Di Inggris terdapat stasiun pemancar TV dengan nama “TV Islami” yang dikelola oleh penganut kelompok Ahmadiyah.

Pemimpin-pemimpin Ahmadiyah

  1. Pemimpin Ahmadiyah sepeninggal Mirza Ghulam Ahmad bernama Nuruddin. Pemerintah Inggris menyerahkan kepemimpinan Ahmadiyah kepadanya dan diikuti para pendukungnya. Di antara tulisannya berjudul “Fashlb al-Khithab.”
  2. Pemimpin lainnya adalah Muhammad Ali dan Khaujah Kamaluddin. Amir Ahmadiyah di Lahore. Keduanya adalah corong dan ahli debat kelompok Ahmadiyah.Muhammad Ali telah menulis terjemah al-Qur’an dengan perubahan transkripnya ke dalam bahasa Inggris. Tulisannya yang lain. Haqiqat al-Ikhtilaf an-Nubuwah fi al-Islam dan ad-Din al-Islami.Khaujah Kamaluddin menulis kitab yang berjudul Matsal al-A’la fi al-Anbiya serta kitab-kitab lain.Jamaah Ahmadiyah Lahore ini berpandangan bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujadid. Tetapi yang berpandangan seperti ini dan yang tidak, mereka sama saja saling mengadopsi satu sama lain.
  3. Muhammad Shadiq, mufti kelompok Ahmadiyah. Diantara tulisannya berjudul Khatam an-Nabiyyin.
  4. Basyir Ahmad bin Ghulam, pemimpin pengganti kedua setelah Mirza Ghulam Ahmad. Di antara tulisannya berjudul Anwar al-Khilafah, Tuhfat al-Muluk, Haqiqat an-Nubuwwah.
  5. Dzhafrilah Khan, Menteri Luar Negeri Pakistan. Dia memiliki andil besar dalam menolong kelompok sesat ini, dengan memberikan tempat luas di daerah Punjab sebagai markas besar Ahmadiyah sedunia, dengan nama Robwah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang diadopsi dari ayat al-Qur’an (yang artinya):“Dan Kami melindungi mereka di suatu Robwah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (QS. al-Mukminun : 50)

Kesimpulan

Ahmadiyah adalah kelompok sesat yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Aqidah (keyakinan) mereka berbeda dengan keyakinan agama Islam dalam segala hal. Kaum Muslimin perlu diperingatkan atas aktifitas mereka, setelah para ulama Islam memfatwakan bahwa kelompok ini kufur.

Maraji’

  1. al-Mausu’ah al-Muyassarah fii al-Adyan wa al-Madzahib wa al-Ahzab al-Mu’ashirah, oleh DR. Mani’ Ibnu Hammad al-Jahani.
  2. Tabshir al-Adhan bi Ba’di al-Madzahib wa al-Adyan, oleh Muhammad as-Sabi’i.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari Majalah Fatawa volume 06 tahun II, 1425H/2004M. Disusun dan dialihbahasakan oleh Abu Asiah. Alamat Redaksi; Islamic Center Bin Baz, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan, Bantul – Yogyakarta.

Artikel Ke-1: Khawarij Kontemporer

Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily1

Pada abad ini, sungguh pemikiran takfir telah tersebar begitu dahsyat, kekuatannya melampaui abad-abad sebelumnya. Pemikiran takfir tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga penyakit ini menjangkiti begitu banyak orang yang sebelumnya tidak dikenal banyak melakukan bid’ah. Di antara sumber dan sebab tersebarnya adalah sebagian kelompok dakwah modern yang asasnya bukan Sunnah (ajaran) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan bercampur aduk didalamnya berbagai bid’ah dan kesesatan, baik dikarenakan buruknya tujuan pendirinya, maupun karena kebodohan mereka tentang agama.

Kemudian muncullah banyak buku hasil produksi kelompok-kelompok tersebut, yang dikenal dengan buku-buku pemikiran. Buku-buku tersebut telah merusak aqidah sejumlah besar kaum Muslimin, sehinga menyelewengkan mereka dari ajaran agama. Buku-buku tersebut menilai bahwa masyarakat Muslim dewasa ini adalah masyarakat jahiliyyah dan kafir, karena mereka telah membuang Islam ke belakang punggung mereka, dan mereka telah memeluk kekufuran yang nyata, dan tidak ada seorangpun, diantara individu-idividu umat yang selamat dari vonis kafir ini, baik pemerintah maupun rakyatnya, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda. Fenomena ini memiliki peran terbesar, dalam mewujudkan generasi abad ini yang terdidik berdasarkan kepada buku-buku tersebut, hingga bibit-bibit ide untuk mengkafirkan seluruh masyarakat Islam dewasa ini tertanam di dalam jiwa-jiwa mereka, sehingga kesesatan tersebut menjadi suatu keyakinan yang kokoh bagi mereka, dan tidak perlu ditanyakan lagi tentang fitnah dan keburukan yang akan muncul dari balik keyakinan ini.

Saya tidak ingin memperbanyak dalam memberikan permisalan dari buku tersebut, tentang teks dan perkataan mengenai pengkafiran masyarakat Islam dewasa ini, akan tetapi saya hanya ingin menyebutkan sebagian contoh dan bukti yang ada di dalam buku-buku Sayyid Quthub rahimahullaah, karena dialah Imam yang diagungkan oleh mayoritas Ikhwanul-Muslimin dan orang-orang yang terpengaruh dengan manhaj mereka, terlebih lagi buku orang ini paling luas penyebarannya, dan paling kuat pengaruhnya, jika dibandingkan dengan buku-buku lain yang sejenis, sampai-sampai sebagian orang yang menisbatkan diri mereka kepada Sunnah, terfitnah oleh buku-bukunya. Pada hakekatnya, buku-buku Ikhwanul-Muslimin penuh dengan ungkapan-ungkapan pengkafiran pemerintah dan masyarakat muslim dewasa ini.

Diantara teks pengkafiran Sayyid Quthub terhadap seluruh masyarakat Islam dewasa ini, adalah yang tercantum di “Ma’aalim fith-Thariq”: “Dan hakekat permasalahannya, adalah perkara kufur dan iman, syirik dan tauhid, jahiliyyah dan Islam, dan inilah yang harus diperjelas …. Sesungguhnya, manusia (sekarang) bukanlah kaum muslimin (sebagaimana yang mereka akui), dan mereka hidup dalam kehidupan jahiliyyah. Jika ada orang yang suka menipu dirinya, atau menipu orang lain, kemudian berkeyakinan bahwa Islam bisa tegak berdampingan dengan ke-jahiliyyah-an ini, maka terserah dia. Akan tetapi, ketertipuan atau penipuannya, tidak akan merubah hakikat kenyataan sedikitpun. Ini bukan Islam, dan mereka bukan kaum muslimin.”2

Sayyid Quthub berkata di dalam Fii Zhilalil-Qur’an: “Sungguh, waktu terus berputar seperti ketika agama ini datang membawa kalimat Laa ilaaha illallaah kepada manusia. Sungguh manusia (sekarang) telah murtad, beralih kepada peribadatan kepada para hamba dan kepada kedholiman berbagai agama, berpaling dari Laa ilaaha illallaah, meskipun masih ada sekelompok orang yang memperdengarkan Laa ilaaha illallaah.

Manusia seluruhnya dan termasuk di dalamnya, mereka yang senantiasa mendengung-dengungkan di tempat adzan, baik di belahan timur maupun barat bumi, kalimat: Laa ilaaha illallaah, tanpa bukti dan konsekwensi …., dan mereka adalah yang berat dosanya, dan paling keras siksaannya pada hari kiamat, karena mereka telah murtad menuju peribadatan hamba, setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, dan setelah memeluk agama Allah”3

Sayyid Quthub berkata: “Sesungguhnya, sekarang ini tidak ada satu negara atau masyarakat muslim pun di muka bumi, kaidah berinteraksi dengan mereka adalah dengan syari’at Allah dan fiqih Islam.”4

Teks-teks yang gamblang seperti diatas, masih banyak di dalam buku-buku Sayyid Quthub. Itu semua tidak ada kemungkinan untuk ditakwilkan, karena maksud semuanya adalah mengkafirkan para ulama, pemerintah dan (seluruh) individu umat Islam, sampai para tukang adzan (muadzdzin), mereka semuanya menurut Sayyid Quthub adalah kaum kafir lagi murtad, dosanya lebih berat, dan adzab mereka lebih keras dari selainnya.

Maka, dari buku-buku ini dan sejenisnya, sebagian pengikut takfir masa ini menimba manhaj mereka, ide pengkafiran masyarakat muslim, beserta akibat-akibatnya, seperti pembajakan, peledakan dan pembunuhan terhadap jiwa yang dilarang, di berbagai negeri kaum muslimin dan yang diluar mereka.

Kenyataan ini telah diakui oleh tokoh-tokoh Ikhwanul-Muslimin dan mereka tuliskan di buku-buku mereka.

al-Qardhawi mengatakan: “Pada fase ini, muncul buku-buku Sayyid Quthub yang mewakili fase terakhir pemikiran takfir-nya, yang dengan cepat mengkafirkan masyarakat …. serta pengumuman jihad penyerangan atas seluruh manusia.”

Farid Abdul Kholiq mengatakan: “Sesungguhnya pemikiran takfir tumbuh diantara para pemuda Ikhwanul-Muslimin yang berada di penjara al-Qonathir5, pada akhir tahun lima puluhan dan permulaan enam puluhan. Mereka itu terpengaruh oleh pemikiran dan tulisan Sayyid Quthub, sehingga mereka berkesimpulan bahwa masyarakat dalam keadaan jahiliyyah, para pemimpinnya telah kafir, karena mengingkari Allah sebagai Hakim Tunggal, buktinya mereka tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Begitu pula rakyatnya kafir, jika meridhai hal tersebut.”

Salim al-Bahnasawy6 berkata: “Sayyid Quthub telah mengadopsi sebagian pendapat al-Maududi serta menampilkannya dalam tulisan-tulisannya, dan lebih khusus pada juz ke-7 dari tafsir(?) Fii Zhilalil-Qur’an, kemudian datang suatu kaum berkesimpulan atas dasar hal itu, bahwa kaum muslimin telah kafir, karena mereka mengucapkan syahadat tanpa mengetahui maknanya, dan tanpa mengamalkan isinya, sehingga meskipun mereka shalat, puasa, haji dan menyangka bahwa diri mereka kaum muslimin, maka sama sekali tidak merubah kekafiran mereka.”7

Ali Jarisyah8 menetapkan bahwa kaum takfiriyin (suka mengkafirkan kaum muslimin), asalnya mereka adalah dari kelompok Ikhwanul-Muslimin, kemudian mereka memisahkan diri dari Ikhwanul-Muslimin dan mengkafirkan Ikhwanul-Muslimin.

Teksnya: “Dalam pembicaraan, sekelompok orang telah memisahkan diri dari kelompok besar Islam, ketika mereka berada di penjara. Meskipun demikian, kelompok kecil tersebut juga mengkafirkan kelompok besar, karena kelompok kecil ini tetap berpegang pada pendapat mereka dalam pengkafiran peguasa, staf-stafnya, serta seluruh masyarakat. Dari kelompok pecahan tersebut terpecah lagi menjadi kelompok-kelompok yang banyak, yang satu megkafirkan yang lainnya.”9

al-Bahnasawi menjelaskan perpecahan kelompok ini didalam diri mereka sendiri dalam berinteraksi dengan kaum muslimin, maka dia mengatakan: “Ketika itu, terpecah pengikut pemikiran ini menjadi dua:

  1. Kelompok yang tidak menampakkan pengkafiran atas orang-orang yang menyelisihi mereka, sehingga kaum muslimin yang tidak sependapat dengan mereka; tidak kafir, boleh shalat di belakang mereka, isteri-isteri pengikut pemikiran ini juga tidak kafir, sehinga tidak perlu membatalkan akad pernikahan mereka.
  2. Kelompok yang memisahkan diri dengan terang-terangan, dan mengumumkan pengkafiran atas saudara-saudaranya yang tidak mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi pemikiran ini, diantaranya kelompok Ikhwanul-Muslimin.

Inilah kelompok yang terkenal dengan sebutan “Jama’ah Takfir dan Hijrah”, akan tetapi mereka menamakan diri dengan nama “Jama’atul-Mukmin” atau “al-Jama’ah al-Mukminah.”

Adapun kelompok pertama lebih memilih untuk tidak menampakkan manhaj mereka, dengan menjalankan dua kaidah: memisahkan diri secara perlahan, dan (bergerak di) masa-masa lemah (fase Makkah)”10

Pada hakikatnya, pemikiran yang al-Bahnasawi berusaha membantahnya, yang dimiliki oleh Jama’ah at-Tafkir wal-Hijrah adalah pemikiran Ikhwanul-Muslimin, bahkan itulah pemikiran dan keyakinan Sayyid Quthub. Motivasi al-Bahnasawi melakukan hal ini, adalah kebesaran cinta dan sayangnya kepada Sayyid Quthub, sebagaimana hal itu nampak di dalam bukunya, dengan berusaha melepaskan keterkaitan Sayyid Quhub dengan keyakinan tafkir11, meskipun dia telah mengakui bahwa aqidah ini diambil dari buku-buku Sayyid Quthub, dan Sayyid Quthub mengadopsinya dari al-Maududi.

Diantara bukti hal ini, adalah keterus-terangan Sayyid Quthub sendiri akan wajibnya mengembargo masyarakat muslim, yang dia sebut sebagai masyarakat jahiliyyah. Dia juga mewajibkan untuk mengasingkan diri, bahkan dari masjid-masjid, yang dia menyebutnya sebagai tempat-tempat ibadah jahiliyyah, seraya mengatakan: “Dan disinilah Allah membimbing kita untuk menjauhi tempat-tempat ibadah jahiliyyah, dan menjadikan rumah-rumah keluarga muslim sebagai masjid. Anda akan merasakan didalamnya benar-benar terpisah dari masyarakat jahiliyyah.”12

Dia juga mengatakan: “Sungguh tiada keselamatan bagi seorang muslim di seluruh dunia dari tertimpa adzab, kecuali dengan memisahkan diri baik secara aqidah, perasaan maupun metode hidup dari orang-orang jahiliyyah dari kaummnya, sampai Allah mengizinkan berdirinya negara Islam yang mereka pegang teguh.”13

Pada hakikatnya, aqidah pengkafiran masyarakat muslim ini, dan menganggap mereka sebagai masyarakat jahiliyyah lagi kafir, tidak hanya dimiliki oleh Sayyid Quthub saja, akan tetapi itulah keyakinan yang bibit-bibitnya sudah tertanam kuat dan tersebar luas pada para pemimpin Ikhwanul-Muslimin. Diantara pengusung pemikiran ini yang paling menonjol adalah Muhammad Quthub14, yang telah mengkhususkan pembahasan ini dalam bukunya yang terkenal, “Jahiliyyatul-Qorni Isyrin” (Jahiliyyah Abad ke-20). Pada berbagai tempat didalam bukunya ini, Muhammad Quthub terang-terangan mengkafirkan masyarakat muslim dewasa ini.

Muhammad Quthub mengatakan: “Adapun keadaan yang dinamakan dunia Islam, maka hal itu sebagian keadaannya berbeda dengan kondisinya di Eropa, akan tetapi pada akhirnya akan bertemu dengannya, sebagaimana jahiliyyah bertemu dengan jahiliyyah di setiap tempat dimuka bumi, dan di setiap masa, meskipun sifat-sifatnya sedikit berbeda, yang membedakan jahiliyyah yang ini dengan yang itu, serta membedakan antara keadaan ini dengan keadaan itu.

Islam di dunia ini (sekarang) asing bagi manusia, seperti keterasingannya pada awal munculnya di era jahiliyyah jazirah Arab dahulu, dan jahiliyyah yang sekarang15 melebihi yang terdahulu, Islam dibenci oleh banyak orang.

Setapak demi setapak pada pasal ini kita akan berbicara tentang kelompok-kelompok manusia yang berbeda-beda, agar bisa kita jelaskan, kenapa mereka membenci Islam.16

Kemudian dia menyebutkan, diantara kelompok-kelompok tersebut yang membenci Islam adalah kelompok thagut, dan yang dimaksud adalah para penguasa, kelompok cendekiawan, seniman dan para penulis, tukang dongeng, para penyair, anak-anak pria dan wanita.17

Setelah itu, dia mengatakan: “Derajat kebenciannya sama, antara yang membangkang dengan yang lemah.”18

Lalu dia bertanya-tanya: “Maka, jika demikian, apakah yang masih tersisa dari kaum muslimin?! 19

Kemudian dia mencatat hasilnya: “Sungguh manusia pada generasi ini, telah kafir padahal mereka mengetahuinya.” 20

Dan tidaklah buku-buku para pemimpin Ikhwanul-Muslimin yang lain keadaannya lebih baik dari buku-buku Sayyid Quthub dan saudaranya. Dan hal itu bukanlah suatu hal yang mengherankan, karena Sayyid Quthub menurut mereka adalah Imam yang diagungkan, Syaikhul-Islam, pembaharu agama abad ini. Hal ini juga diikuti simpatisan mereka, maka bagaimana mungkin mereka akan menyelisihi idola mereka?!

Dan tidaklah keadaan al-Maududi dan para pengikutnya di Pakistan, India dan lainnya lebih baik dari kelompok Ikhwanul-Muslimin, bahkan sebagian peneliti buku-buku al-Maududi menjelaskan bahwa Sayyid Quthub mengadopsi pemikiran dan manhaj-nya dari al-Maududi saja, sebagaimana perkataan al-Bahnasawi yang terdahulu.

Yang terakhir, sesungguhnya saya memperingatkan dengan keras kepada setiap pemuda yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya untuk tidak membaca buku-buku pemikiran tersebut, yang namanya saja sudah menunjukkan betapa jauhnya buku-buku tersebut dari agama. Karena buku-buku pemikiran, sebagaimana penamaan mereka, yakni buku-buku yang dihasilkan dari berbagai pemikiran dan pendapat pengarangnya, kadar bahaya buku-buku ini tidak lebih rendah dari buku-buku filsafat yang dilarang oleh salaf, bahkan lebih dahsyat. Buku-buku ini tidak berdiri di atas dalil dan tidak selaras dengan pemahaman salaf, bahkan merupakan pencampuran (kolaborasi) antara berbagai bid’ah dan kesesatan. Ciri khas yang menonjol dari buku-buku tersebut adalah memprovokasi dan menyeru umat untuk memberontak dan membangkang penguasa, dengan mempropagandakan kekafiran dan kemurtadan penguasa dari agama, serta menjadikan para pemuda tersebut disibukkan dengan politik dan masuk dalam konflik, sehingga keburukan dan bahayanya buku-buku ini begitu besar, dan begitu banyak orang-orang yang terfitnah oleh buku-buku ini, dan tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah semata. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.21

CATATAN KAKI:

  1. ^ Dialihbahasakan oleh Abu Zahroh Imam Wahyudi, Lc., dari buku “at-Takfir wa Dhawabithuh” karya Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar-Rauhaily, dosen Fakultas Da’wah wa Ushuludin, Universitas Islam Madinah halaman 37-45. Tulisan ini kami muat sebagai jawaban atas orang-orang yang menyatakan Khawarij sekarang ini, sudah punah (-pent).
  2. ^ Ma’alim fith-Thariq, halaman 158.
  3. ^ Fii Zhilalil-Qur’an (2/1057).
  4. ^ Idem (4/2122).
  5. ^ Penjara ini ada di Kairo, Mesir (-pent).
  6. ^ Penulis dari kalangan Ikhwanul-Muslimin, pernah tinggal di Kuwait (-pent).
  7. ^ al-Hukmu wa Qodhiyah Takfiril-Muslimin halaman 50.
  8. ^ Penulis dari kalangan Ikhwanul-Muslimin, lulusan Fakultas Hukum, Kairo.
  9. ^ al-Ittijaahat al-Fikriyah al-Mu’aashirah halaman 279.
  10. ^ al-Hukmu wa Qadhiyah Takfiril-Muslimin halaman 34-35.
  11. ^ al-Hukmu wa Qadhiyah Takfiril-Muslimin halaman 50, 56, 66, 73, 74,76, 112.
  12. ^ Fii Zhilalil-Qur’an, 3/1816.
  13. ^ Idem, 4/2122.
  14. ^ Adik kandung Sayyid Quthub, lulusan Fakultas Bahasa Inggris di Universitas Kairo, Mesir, kemudian mendapatkan gelar Diploma dalam bidang Psikologi. Dialah yang mengusung dan mengembangkan pemikiran Sayyid Quthub di Saudi Arabia, ketika ia mengajar di Universitas Ummul Qura’, Makkah. Sehingga tidak mengherankan apabila muncul dari sana tokoh-tokoh yang berpemikiran takfir akan tetapi berbaju salaf, semisal Dr. Safar Hawali, dll. Allahu Musta’an (-pent).
  15. ^ Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun mensifati zaman secara mutlak, maka tidak ada masa jahiliyyah setelah diutusnya Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena senantiasa akan ada segolongan dari umatnya yang akan nampak di atas kebenaran sampai kiamat nanti.” (Iqtidha’ush-Shirathal-Mustaqim : 1/259).
  16. ^ Dr. Nashir bin Abdul-Karim al-Aql (pen-tahqiq buku diatas) mengomentari: “Atas dasar ini, maka menggunakan istilah Jahiliyyah dengan mutlak untuk kaum muslimin secara umum, atau untuk suatu negeri kaum muslimin, atau untuk suatu masyarakat muslim, tanpa perincian keadaan, perbuatan, tindakan atau individu tertentu, merupakan suatu kesalahan dan peremehan, yang sudah sepatutnya seorang muslim menjauhinya. Adapun yang disampaikan oleh beberapa penulis, penyusun dan pemikir bahwa semua atau semua masyarakat muslim adalah masyarakat jahiliyyah (tanpa perincian atau pengkhususan siapa yang menurut syari’at berhak menyandang istilah tersebut), maka itu bukanlah metode yang selamat, bahkan menyelisihi kaidah-kaidah syari’at dan manhaj as-Salaf ash-Shalih. (editor)
  17. ^ Jahiliyatul-Qarnil ‘Isyrin, halaman 328-329.
  18. ^ Idem, halaman 329-331.
  19. ^ Idem, halaman 337.
  20. ^ Idem, halaman 337 .
  21. ^ Idem, halaman 351.
  22. ^ Lihatlah fatwa larangan sebagian ulama masa kini dari membaca buku-buku tersebut, seperti dalam kitab “al-Ajwibah al-Mufidah an-Manahijid Dakwal al-Jadidah” oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, dikumpulkan oleh Jamal Furaihan al-Haritsi. Juga buku “Fatawa al-Akabir” dikumpulkan dan dikomentari oleh Syaikh Abdul-Malik bin Ahmad Rhamadhany (-pent).

SUMBER:

Majalah adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah edisi 24 tahun V Dzulqo’dah 1427 Hijriah yang diterbitkan oleh Penerbit Ma’had Ali al-Irsyad as-Salafy, Jl. Sidotopo Kidul No. 51, Surabaya.