Artikel Ke-6: ‘Asyura adalah Puasa, Bukan Berpesta atau Berkabung

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Islam menyodorkan konsep pendidikan yang utuh dan ajeg. Salah satu bentuknya adalah dengan berpuasa. Hikmah puasa, diantaranya, adalah sebagai proses penempaan kejiwaan. Karena itu puasa dianjurkan dilakukan secara rutin.

Bukan hanya yang bersifat wajib setiap bulan Ramadhan tiba. Puasa ada yang sunnah dilakukan setiap pekan, yakni puasa pada hari Senin dan Kamis. Harian juga ada seperti puasa Dawud. Kemudian ada pula yang rutin setiap tiga hari setiap bulan. Yang bersifat tahunan pun ada seperti Arafah dan ’Asyura.

Agungnya Bulan Muharram

Puasa ’Asyura dilaksanakan pada bulan pertama penanggalan hijrah, Muharram. Bulan ini adalah bulan yang agung dan diberkahi. Salah satu dari bulan haram (suci) yang Allah tegaskan dalam firman-Nya (yang artinya):

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian pada bulan yang empat itu.” (QS. at-Taubah:36)

Sementara itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“…satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya adalah empat bulan haram, yaitu tiga bulan yang berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang berada diantara bulan Jumada dan Sya’ban.1

Disebut bulan Muharram karena didalamnya diharamkan kezhaliman dengan penegasan yang kuat. Allah berfirman, (yang artinya):

“Jangan kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan tersebut.” (QS. at-Taubah:36)

Bukan berarti selain bulan tersebut boleh berlaku zhalim, tetapi pada bulan itu ditegaskan larangannya, sebagaimana perilaku zhalim ditegaskan larangannya di tanah haram. Ibnu Abbas menjelaskan tentang firman Allah tersebut; ”Allah mengkhususkan empat bulan yang haram dan menegaskan keharamannya. Allah juga menjadikan dosa pada bulan tersebut lebih besar. Demikian pula amal shalih dan pahala juga menjadi lebih besar.” Qatadah berkata; “Sesungguhnya Allah memilih beberapa pilihan dari makhluk-Nya, Allah telah memilih rasul (utusan) dari para malaikat sebagaimana Allah juga memilih rasul dari umat manusia, Allah memilih dzikir dari kalam-Nya, memilih masjid-masjid dari bumi-Nya, memilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram dari seluruh bulan, memilih hari Jum’at dari seluruh hari dalam satu pekan, memilih lailatul-qadr dari seluruh malam. Karena itu agungkanlah apa yang telah Allah agungkan, karena menurut para ulama segala sesuatu itu memiliki kedudukan agung jika memang telah Allah berikan kedudukan agung padanya.2

Puasa di Bulan Muharram

Diantara shalat sunnah, shalat malam adalah yang paling utama, begitu pun dengan puasa, setelah puasa wajib di bulan Ramadhan puasa sunnah di bulan Muharram adalah yang paling utama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah, Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah yang wajib adalah shalat malam.”3

Kata “bulan Allah” menunjukkan bahwa bulan tersebut memiliki keagungan karena disandarkan kepada Allah. Ada hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa satu bulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Jadi hadits ini merupakan anjuran untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram meski tidak satu bulan penuh.

Tidak seperti kaidah sembrono sebagaimana disodorkan oleh situs gelap yang mengaku sebagai SalafyIndonesia bahwa menetapkan keutamaan waktu dan tempat adalah bersifat ijtihadiyah. Karena itu tidak heran jika mereka sangat mengagungkan kuburan. Berbeda dengan para ulama, hak menetapkan tersebut adalah pada Allah kemudian Rasul-Nya. Imam al-‘Izz bin Abdis-salaam rahimahullah mengatakan; “Menetapkan keutamaan pada tempat dan waktu itu ada dua bentuk; Pertama: yang bersifat duniawi, Kedua: dieni (bersifat keagamaan) yang kembali pada kemurahan Allah terhadap para hamba-Nya untuk melipatgandahkan pahala bagi orang-orang yang beramal, seperti keutamaan puasa Ramadhan dari puasa pada bulan-bulan lain, demikian pula ‘Asyura. Keutamaan yang Allah berikan ini menunjukkan kemurahan dan kebaikan Allah terhadap hamba-hamba-Nya.”4

Puasa ‘Asyura dalam Sejarah

Sejarah puasa ‘Asyura digugat oleh agama Syi’ah. Wajar, sebab pada hari itu mereka punya gawe berupa hari berkabung dengan melakukan niyahah (ratapan) yang luar biasa. Gugurnya cucu Rasulullah, Husain, memang menyedihkan, sebagaimana gugurnya keluarga beliau lainnya, seperti Hamzah atau Ali yang ditikam kaum Khawarij. Hanya saja karena kematian Hamzah dan Ali tidak punya nilai jual bagi paham mereka, maka yang muncul hanyalah pesta peringatan kematian Husain radhiyallahu ‘anhu.

Mereka sempat mengklaim bahwa puasa ‘Asyura adalah palsu karena mengikuti orang Yahudi, sementara orang Yahudi punya kalender sendiri jauh sebelum penanggalan Hijriyah dicetuskan di zaman Umar. Klaim ini kemudian tidak populer, kini muncul anggapan (karena tidak ada bukti nyata berdasar ilmu hadits) bahwa hadits puasa ‘Asyura adalah buatan penguasa Bani Umayyah. Analisis mereka sekadar prasangka penuh duga ditambah dengan semangat ta’ashub (fanatik -ahlussunnah.info).

Salah satu yang mengabarkan hadits puasa ‘Asyura adalah Ibnu ‘Abbas, sepupu Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya: “Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya; ‘Hari apa ini?’ Orang-orang Yahudi menjawab; ‘Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa berpuasa pada hari ini.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; ‘Saya lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian!’ Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk melakukannya.5

Puasa ‘Asyura sudah dikenal bahkan pada masa jahiliyah sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi Rasul. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah beliau berkata; ’Sesungguhnya orang-orang jahiliyah dahulu sudah pernah mengerjakan puasa ‘Asyura.’ Imam al-Qurthubi mengatakan: ’Mungkin orang-orang jahiliyah melakukan puasa tersebut dengan alasan mengikuti syari’at umat terdahulu seperti Nabi Ibrahim.

Dalam suatu hadits dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengerjakan puasa ini di Makkah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Ketika beliau hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi memperingatinya. Maka beliau bertanya kepada mereka tentang sebabnya. Mereka menjawab sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits diatas. Beliaupun memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan perbuatan yang berbeda dengan mereka dimana mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari ‘Id. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits Abu Musa beliau mengatakan; ‘Hari ‘Asyura dijadikan sebagai hari ‘Id oleh orang-orang Yahudi.’ Dalam riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim;Hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan dan dijadikan sebagai hari ‘Id oleh orang-orang Yahudi.’ Dalam riwayat yang lain di Shahih Muslim disebutkan; ‘Penduduk Khaibar (Yahudi) menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari ‘Id, mereka memakaikan para wanita mereka dengan berbagai perhiasan.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya); ‘Puasalah kalian pada hari tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa faktor yang mendorong perintah puasa ini adalah keinginan Rasulullah untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi, agar kita berpuasa pada hari dimana mereka berbuka; karena pada hari ‘Id orang tidak puasa.6

Keutamaan Puasa ‘Asyura

Ibnu ‘Abbas berkata;

Aku tidak pernah mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ’Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan.7

Tentang puasa ’Asyura Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

…dan puasa di hari ’Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.8

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan maksud hadits tersebut mengatakan; “Thaharah, shalat, puasa Ramadhan, puasa Arafah, dan puasa ‘Asyura hanya dapat menghapuskan dosa-dosa kecil.9

Kapan ‘Asyura Itu?

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan; “Para ulama dalam madzhab kita mengatakan; ’‘Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharram sedang Tasu’a adalah hari kesembilan dari bulan yang sama… inilah pendapat mayoritas ulama… inilah yang dimaksud dalam hadits-hadits, yang sesuai dengan bahasa dan dikenal oleh para ahli bahasa…. Ibnu Sirrin melaksanakan hal ini (puasa pada hari ke-9, ke-10 dan ke-11) dengan alasan kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharram. Kita kira tanggal sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal sepuluh.10 Untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

Insya Allah pada tahun depan kita akan puasa pada hari kesembilan.

Ibnu ‘Abbas mengatakan; ’Sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.’”11

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya); “Berpuasalah pada hari ’Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”12

Keinginan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa pada hari kesembilan mengandung makna bahwa puasa ‘Asyura tidak hanya hari kesepuluh, namun ditambah dengan hari kesembilan. Hal ini bisa jadi untuk kehati-hatian atau menyelisihi orang Yahudi dan Nasrani. Inilah pendapat yang kuat sebagaimana ditunjukkan dalam beberapa riwayat hadits dalam Shahih Muslim.13

Oleh karena itu puasa ‘Asyura ada beberapa tingkatan; yang terendah adalah puasa pada hari kesepuluh saja, kemudian yang diatasnya puasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Diatasnya lagi adalah berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11. Semakin banyak puasa yang dikerjakan pada bulan Muharram adalah lebih baik dan lebih utama. Wallahu a’lam.

Hanya Mengerjakan Puasa ‘Asyura

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan; “Puasa ‘Asyura dapat menghapus dosa satu tahun dan bukan makruh jika hanya mengerjakan puasa ‘Asyura…14

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan; “Tidaklah mengapa kalau hanya mengerjakan ‘Asyura saja…15

Bertepatan dengan Hari Jum’at atau Sabtu

Ada larangan mengerjakan puasa pada hari Jum’at. Begitu pula puasa pada hari Sabtu kecuali yang fardhu. Namun larangan ini hilang jika berpuasa pada hari Jum’at atau Sabtu tersebut ditambah satu hari sebagai pasangannya atau bertepatan dengan ibadah yang disyariatkan seperti puasa Dawud, puasa nadzar, puasa qadha, atau puasa yang memang dianjurkan dalam syari’at seperti puasa ‘Arafah dan ‘Asyura…”16

Hal ini dilarang karena menyerupai orang-orang Yahudi jika mengkhususkan hari Sabtu… kecuali jika hari Jum’at atau Sabtu tersebut bertepatan dengan kebiasaan yang ada dalam syari’at seperti hari ‘Arafah dan ‘Asyura atau sudah menjadi kebiasaan puasa, hal ini tidak dilarang, karena kebiasaan tersebut punya pengaruh.17

CATATAN KAKI:

  1. ^ Shahih al-Bukhari nomor 2958.
  2. ^ Tafsir al-Quran al-Azhim Ibnu Katsir, II/356.
  3. ^ Shahih Muslim nomor 1982.
  4. ^ Qawa’idul-Ahkam I/38.
  5. ^ Shahih al-Bukhari nomor 1865.
  6. ^ Ringkasan penjelasan al-Hafzh Ibnu Hajar dalam Fathul-Bari, Syarh Shahih al-Bukhari IV/246-248.
  7. ^ Shahih al-Bukhari nomor 1867.
  8. ^ Shahih Muslim nomor 1976.
  9. ^ al-Fatawa al-Kubra jilid 5.
  10. ^ Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab VI/406.
  11. ^ Shahih Muslim nomor 1916.
  12. ^ Musnad Ahmad nomor 2047, disebutkan juga dalam Fathul-Bari IV/245.
  13. ^ Fathul-Bari IV/245.
  14. ^ al-Fatawa al-Kubra jilid 5.
  15. ^ Tuhfatul-Muhtaj jilid 3.
  16. ^ Tuhfatul-Muhtaj jilid 3 dan Musykil al-Atsar jilid 2.
  17. ^ Kasyful-Qina’ jilid 2.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari majalah Fatawa volume IV/Nomor 01, Muharram 1429/Januari 2008, halaman 18-21.

Artikel Ke-4: Cinta Palsu Syi’ah untuk Ahli Bait

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Sekelompok orang menamakan diri sebagai pecinta Ahli Bait. Setiap tahun, terutama di bulan Muharram, mereka mempunyai acara khusus terkait dengannya. Betulkah mereka mencintai Ahli Bait?

Istilah Ahli Bait bukanlah sesuatu yang asing di telinga umat Islam. Begitu disebut Ahli Bait, yang tergambar dalam (benak seseorang) adalah seseorang yang mempunyai tali kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Siapa Ahli Bait?

Ahlul-Bait adalah orang-orang yang sah pertalian nasabnya sampai kepada Hasyim bin Abdi Manaf (Bani Hasyim) baik lelaki (sering disebut dengan syarif) atau wanita (sering disebut syarifah) yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggal dunia dalam keadaan beriman.

Sebagian Ahlul-Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

  1. Para istri Rasul, berdasarkan (al-Qur’an) surat al-Ahzab : 33.
  2. Seluruh putra-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tidak khusus bagi Fathimah).
  3. ‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib dan keturunannya.
  4. al-Harits bin ‘Abdul-Muththalib dan keturunannya.
  5. ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya (tidak sebatas pada al-Hasan dan al-Husain saja).
  6. Ja’far bin Abi Thalib dan keturunannya.
  7. Aqil bin Abi Thalib dan keturunannya.

Rinciannya bisa dilihat dalam Minhajus- Sunnah an-Nabawiyyah.

Kedudukan Ahlul-Bait

Kedudukan Ahlul-Bait di sisi Allah dan Rasul-Nya amat mulia. Diantara kemuliaan itu adalah:

  1. Allah bersihkan Ahlul Bait dari kejelekan. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):“Hanyalah Allah menginginkan untuk membersihkan kalian (wahai) Ahlul-Bait dari kejelekan dan benar-benar menginginkan untuk mensucikan kalian.” (QS. al-Ahzab : 33)
  2. Perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpegang dengan bimbingan mereka.Dari Jabir bin ‘Abdillah, berkata; “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat haji pada hari Arafah, beliau berada diatas untanya, si al-Qashwa, sambil berkhutbah. Aku mendengar beliau berkata; ‘Wahai manusia sesungguh(nya) aku telah meninggalkan sesuatu untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan Ahlul-Baitku.’”Oleh karena itu tidaklah ragu lagi, bahwa Ahlul-Bait memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah dan Rasul-Nya.Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata; “Tidak diragukan lagi bahwa mencintai Ahlul-Bait adalah wajib.” al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata; “Termasuk memuliakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunannya.”Para sahabat sangat memuliakan Ahlul-Bait, baik yang dari kalangan Sahabat maupun Tabi’in. Demikianlah hendaknya sikap seorang Muslim. Wajib mencintai, menghormati, memuliakan, dan tidak menyakiti Ahlul-Bait.

    Tolok ukur kecintaan terhadap mereka semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa iman tidak akan bermanfaat kekerabatan seseorang terhadap Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

    Yaitu di hari (hari kiamat) yang harta dan anak keturunan tidak lagi bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Allah dengan hati yang lurus.” (QS. asy-Syu’ara` : 88-89)

    Bila ada Ahlul-Bait yang jauh dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, martabatnya di bawah orang yang berpegang teguh dengan Sunnah Rasul, walaupun bukan Ahlul-Bait. Allah berfirman (yang artinya):

    Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat : 13)

Ahlul-Bait Menurut Syi’ah

Syi’ah memang terpecah-belah dalam banyak kelompok. Yang termasuk ghulat (berlebihan dalam kesesatan, red) adalah Syi’ah Rafidhah. Mereka punya pandangan tersendiri tentang Ahlul-Bait, sangat bathil dan zhalim, yaitu:

  • Ahlul-Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbatas pada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.
  • Putra-putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain Fathimah didepak dari lingkaran Ahlul-Bait.
  • Didepak pula semua istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali Khadijah, dari lingkaran Ahlul-Bait.
  • Dua belas putra Ali, selain Hasan dan Husain, dan 18 atau 19 putrinya tidak diakui sebagai Ahlul-Bait.
  • Putra-putri Hasan, cicit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dianggap sebagai bagian dari Ahlul-Bait.
  • Hanya keturunan Husain-lah yang mereka akui sebagai Ahlul-Bait. Itu pun sebagian keturunan Husain dikeluarkan dari lingkaran Ahlul-Bait karena tidak mencocoki hawa nafsu kaum Rafidhah. Sebagian keturunan Husain dilemparinya dengan kedustaan, kejahatan dan kefasikan, bahkan vonis kafir dan murtad pun dijatuhkan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un!

Syi’ah mempunyai dua sikap yang saling bertolak belakang terhadap sesama Ahli Bait. Dalam satu sisi begitu berlebihan dalam mencintai (ifrath) Ahli Bait, sementara kepada sebagian Ahli Bait mereka sangat membencinya (tafrith).

Sikap Ifrath

al-Kulaini didalam al-Ushul min al-Kafi 19/197 membuat kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib, tulisnya; “Sesungguhnya aku diberi beberapa sifat yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku -sekalipun para Nabi. Aku mengetahui seluruh kenikmatan, musibah, nasab, dan keputusan hukum pada manusia. Tidaklah luput dariku perkara yang telah lampau dan tidaklah tersembunyi dariku perkara yang samar.

Didalam kitab al-Irsyad hal. 252 karya al-Mufid bin Muhammad an-Nu’man ditulis; “Ziarah kepada kubur Husain radhiyallahu ‘anhu bagaikan 100 kali haji mabrur dan 100 kali umrah.

Kedustaan mereka semakin menjadi-jadi saat menulis secara dusta sebuah ucapan yang mereka klaim sebagai perkataan Baqir bin Zainal Abidin rahimahullah; “Dan tidaklah keluar setetes air mata pun untuk meratapi kematian Husain, melainkan Allah akan mengampuni dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” Dalam riwayat lain ada tambahan lafal; “dan mendapatkan surga.” (Jala’ul’‘Uyun II hal. 464 dan 468 karya al-Majlisi al-Farisi)

Kecintaan kaum Syi’ah Rafidhah kepada beberapa Ahlul-Bait lebih bersifat kultus, bahkan menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai sekutu bagi Allah!

Sikap Tafrith

Diriwayatkan di dalam kitab Rijalul-Kasysyi hal. 54, karya al-Kasysyi, Allah berfirman (yang artinya);

Dialah sejelek-jelek penolong dan sejelek-jelek keluarga.” (al-Hajj:13) ayat ini turun tentang perihal ‘Abbas (paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Sementara salah satu anak ‘Abbas bin Abdul-Muthalib, ‘Abdullah, dicela dan difitnah. al-Qahbani dalam kitab Majma’ur-Rijal 4/143 mengatakan; “Sesungguhnya orang ini telah mengkhianati Ali dan telah mengambil harta (shadaqah) dari baitul-mal di kota Bashrah.

Kecurangan Syi’ah semakin kentara saat ingin mencela dan memfitnah Ummul-Mukminin ‘Aisyah, mereka secara dusta membuat pernyataan yang disandarkan kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas, orang yang sebelumnya dicaci. “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan Rasulullah…” (Ikhtiyar Ma’rifatur-Rijal karya ath-Thusi hal. 57-60)

Para Imam Ahlul-Bait Mencela Syi’ah Rafidhah

Orang-orang Syiah, mengklaim para imam Ahli Bait sebagai imam mereka. Klaim penuh dusta ini didustakan oleh para imam itu sendiri.

Ali bin Abi Thalib berkata; “Orang yang mengutamakan aku melebihi dua syaikh (Abu Bakar dan Umar) akan aku dera sebagai pendusta.

Muhammad bin Ali (al-Baqir) rahimahullah berkata; “Keluarga Fathimah telah bersepakat untuk memuji Abu Bakar dan Umar dengan sebaik-baik pujian.

Ja’far bin Muhammad (ash-Shadiq) rahimahullah berkata; “Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci siapa saja yang membenci Abu Bakar dan Umar.

Sungguh barangsiapa mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak Ahlul-Bait namun ternyata berlepas diri dari orang-orang yang dicintai Ahlul-Bait, maka yang ada hanya kedustaan belaka. Cinta mereka adalah cinta palsu. Ahlul-Bait mana yang mereka ikuti?! Sungguh indah perkataan penyair Arab:

Setiap lelaki mengaku kekasih Laila. Namun Laila tidak pernah mengakuinya.

Terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu tidak lepas dari penipuan Syi’ah Rafidhah, mereka beramai-ramai meninggalkan Husain dan keluarganya saat dikepung oleh pasukan Ziyad.

Ternyata Syi’ah Rafidhah menyimpan kebencian terhadap Ahlul-Bait. Kebencian itu tidak hanya berupa ucapan atau tulisan belaka. Mereka wujudkan dalam perbuatan, andilnya mereka dalam peristiwa terbunuhnya Husain. Terlalu panjang untuk mengungkap peristiwa menyedihkan itu, namun cukuplah tulisan para ulama mereka sendiri sebagai bukti atas kejahatan mereka.

Didalam kitab al-Irsyad hal. 241 karya al-Mufid diriwayatkan bahwa al-Husain pernah mengatakan; “Ya Allah jika engkau memanjangkan hidup mereka (Syi’ah Rafidhah) maka porak-porandakanlah barisan mereka, jadikanlah mereka terpecah-belah dan janganlah engkau ridhai pemimpin-pemimpin mereka, selama-lamanya. Mereka mengajak orang untuk membela kami, namun ternyata justru memusuhi dan membunuh kami.

Didalam kitab al-Ihtijaj 2/29 karya Abu Manshur ath-Thibrisi diriwayatkan bahwa Ali bin Husain, dikenal dengan Zainal Abidin, pernah berkata tentang kaum Syi’ah Rafidhah di negeri Irak, “Mereka menangisi kematian kami, padahal siapakah yang membunuh kami kalau bukan mereka?!

Hadits Palsu dan Lemah tentang Ahli Bait

Hadits yang disandarkan pada ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Perumpamaan Ahlul-Bait-ku seperti kapal Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya pasti dia selamat dan barangsiapa yang enggan untuk menaikinya, maka dia akan tenggelam (binasa).

Hadits ini dha’if (lemah) walaupun diriwayatkan dari beberapa jalan. Beberapa ulama pakar hadits seperti al-Imam Yahya bin Ma’in, al-Bukhari, an-Nasa’i, ad-Daruquthni, adz-Dzahabi, dan beberapa ulama lainnya telah mengkritik beberapa orang yang meriwayatkan hadits tersebut. (Silsilah al-Ahaditsi adh-Dha’ifah no. 4503 karya al-Albani)

Orang yang mengaku cinta memang belum pasti mencintai sesungguh hati, betapa banyak cinta bertebaran di dunia ini. Cinta palsu tidak akan terbukti selamanya. Begitu pula klaim kaum Syi’ah Rafidhah tentang cinta kepada Ahli Bait hanyalah klaim palsu. Tak lebih untuk mendapatkan keuntungan kelompoknya. Karena itulah mereka tidak bisa bersikap adil terhadap semua Ahli Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bish-shawab.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari majalah Fatawa, volume III, nomor 6, Mei 2007 M/Rabiul-Akhir 1428 H, halaman 24-26.

Artikel Ke-2: Ahmadiyah, Kelompok Pengekor Nabi Palsu

Oleh: Abu Asiah

Apa Itu Ahmadiyah?

Ahmadiyah adalah gerakan yang lahir pada tahun 1900M, yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Inggris di India. Didirikan untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama Islam dan dari kewajiban jihad dengan gambaran/bentuk khusus, sehingga tidak lagi melakukan perlawanan terhadap penjajahan dengan nama Islam. Gerakan ini dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani. Corong gerakan ini adalah “Majalah al-Adyan” yang diterbitkan dengan bahasa Inggris.

Siapakah Mirza Ghulam Ahmad?

Mirza Ghulam Ahmad hidup pada tahun 1839-1908M. Dia dilahirkan di desa Qadian, di wilayah Punjab, India tahun 1839M. Dia tumbuh dari keluarga yang terkenal suka khianat kepada agama dan negara. Begitulah dia tumbuh, mengabdi kepada penjajahan dan senantiasa mentaatinya. Ketika dia mengangkat dirinya menjadi nabi, kaum muslimin bergabung menyibukkan diri dengannya sehingga mengalihkan perhatian dari jihad melawan penjajahan Inggris. Oleh pengikutnya dia dikenal sebagai orang yang suka menghasut/berbohong, banyak penyakit, dan pecandu narkotik.

Pemerintah Inggris banyak berbuat baik kepada mereka. Sehingga dia dan pengikutnya pun memperlihatkan loyalitas kepada pemerintah Inggris.

Diantara yang melawan dakwah Mirza Ghulam Ahmad adalah Syaikh Abdul Wafa’, seorang pemimpin Jami’ah Ahlul Hadits di India. Beliau mendebat dan mematahkan hujjah Mirza Ghulam Ahmad, menyingkap keburukan yang disembunyikannya, kekufuran serta penyimpangan pengakuannya.

Ketika Mirza Ghulam Ahmad masih juga belum kembali kepada petunjuk kebenaran, Syaikh Abul Wafa’ mengajaknya ber-mubahalah (berdoa bersama), agar Allah mematikan siapa yang berdusta diantara mereka, dan yang benar tetap hidup. Tidak lama setelah ber-mubahalah, Mirza Ghulam Ahmad menemui ajalnya tahun 1908M.

Pada awalnya Mirza Ghulam Ahmad berdakwah sebagaimana para da’i Islam yang lain, sehingga berkumpul di sekelilingnya orang-orang yang mendukungnya. Selanjutnya dia mengklaim bahwa dirinya adalah seorang mujaddid (pembaharu). Pada tahap berikutnya dia mengklaim dirinya sebagai Mahdi al-Muntazhar dan Masih al-Maud. Lalu setelah itu mengaku sebagai nabi dan menyatakan bahwa kenabiannya lebih tinggi dan agung dari kenabian Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dia mati meninggalkan lebih dari 50 buku, buletin serta artikel hasil karyanya.

Di antara kitab terpenting yang dimilikinya berjudul Izalatul-Auham, I’jaz Ahmadi, Barahin Ahmadiyah, Anwarul-Islam, I’jazul-Masih, at-Tabligh dan Tajliat Ilahiah.

Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah

  1. Meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah al-Masih yang dijanjikan.
  2. Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur dan mendengkur, menulis dan menyetempel, melakukan kesalahan dan berjima’. Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka yakini.
  3. Keyakinan Ahmadiyah bahwa tuhan mereka adalah Inggris, karena dia berbicara dengannya menggunakan bahasa Inggris.
  4. Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana al-Qur’an.
  5. Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk mentaati pemerintah Inggris, karena menurut mereka pemerintah Inggris adalah waliyul-amri (pemerintah Islam) sebagaimana tuntunan al-Qur’an.
  6. Seluruh orang Islam menurut mereka kafir sampai mau bergabung dengan Ahmadiyah. Seperti bila ada laki-laki atau perempuan dari golongan Ahmadiyah yang menikah dengan selain pengikut Ahmadiyah, maka dia kafir.
  7. Membolehkan khamr, opium, ganja dan apa saja yang memabukkan.
  8. Mereka meyakini bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi terus ada. Allah mengutus Rasul sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Dan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.
  9. Mereka mengatakan bahwa tidak ada al-Qur’an selain apa yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan tidak ada al-Hadits selain apa yang disampaikan didalam majelis Mirza Ghulam Ahmad. Serta tidak ada nabi melainkan berada di bawah pengaturan Mirza Ghulam Ahmad.
  10. Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan (dari langit), bernama al-Kitab al-Mubin, bukan al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin.
  11. Mereka meyakini bahwa al-Qadian (tempat awal gerakan ini) sama dengan Madinah al-Munawarah dan Makkah al-Mukarramah; bahkan lebih utama dari kedua tanah suci itu, dan suci tanahnya serta merupakan kiblat mereka dan kesanalah mereka berhaji.
  12. Mereka meyakini bahwa mereka adalah pemeluk agama baru yang independen, dengan syarat yang independen pula, seluruh teman-teman Mirza Ghulam Ahmad sama dengan Sahabat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Akar Pemikiran dan Keyakinan Ahmadiyah

  1. Bermula dari gerakan orientalis bawah tanah yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad Khan yang menyebarkan pemikiran-pemikiran menyimpang; yang secara tidak langsung telah membuka jalan bagi munculnya gerakan Ahmadiyah.
  2. Inggris menggunakan kesempatan ini dan membuat gerakan Ahmadiyah, dengan memilih untuk gerakan ini seorang lelaki pekerja dari keluarga bangsawan.
  3. Pada tahun 1953M, terjadilah gerakan sosial nasional di Pakistan menuntut diberhentikannya Zhafrillah Khan dari jabatannya sebagai Menteri Luar Negeri. Gerakan itu dihadiri oleh sekitar 10 ribu umat muslim, termasuk pengikut kelompok Ahmadiyah, dan berhasil menurunkan Zhafrillah Khan dari jabatannya.
  4. Pada bulan Rabiul Awwal 1394H, bertepatan dengan bulan April 1974M dilakukan muktamar besar oleh Rabhithah Alam Islami di Makkah al-Mukarramah yang dihadiri oleh tokoh-tokoh lembaga-lembaga Islam seluruh dunia. Hasil muktamar memutuskan; “Kufurnya kelompok ini dan keluar dari Islam. Meminta kepada kaum muslimin berhati-hati terhadap bahaya kelompok ini dan tidak ber-mu’amalah dengan pengikut Ahmadiyah, serta tidak menguburkan pengikut kelompok ini di pekuburan kaum Muslimin.”
  5. Majelis Rakyat (Parlemen) Pakistan melakukan debat dengan gembong kelompok Ahmadiyah bernama Nasir Ahmad. Debat ini berlangsung sampai mendekati 30 jam. Nasir Ahmad menyerah/tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan tersingkaplah kedok kufurnya kelompok ini. Maka majelis parlemen mengeluarkan keputusan bahwa kelompok ini lepas dari agama Islam.

Hal-hal yang Mewajibkan Kafirnya Mirza Ghulam Ahmad

  1. Pengakuannya sebagai nabi.
  2. Menghapus kewajiban jihad dan mengabdi kepada penjajah.
  3. Meniadakan berhaji ke Makkah dan menggantinya dengan berhaji ke Qadian.
  4. Penyerupaan yang dilakukannya terhadap Allah dengan manusia.
  5. Kepercayaannya terhadap keyakinan tanasukh (menitisnya ruh) dan hulul (bersatunya manusia dengan tuhan).
  6. Penisbatannya bahwa Allah memiliki anak, serta klaimnya bahwa dia adalah anak tuhan.
  7. Pengingkarannya terhadap ditutupnya kenabian oleh Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan membuka pintu bagi siapa saja yang menginginkannya.

Penyebaran dan Aktifitas Ahmadiyah

  1. Penganut aliran Ahmadiyah kebanyakan hidup di India dan Pakistan dan sebagian kecilnya di Israel dan wilayah Arab. Mereka senantiasa membantu penjajah agar dapat membentuk/membangun sebuah markas di setiap negara di mana mereka berada.
  2. Ahmadiyah memiliki pekerjaan besar di Afrika dan pada sebagian negara-negara Barat. Di Afrika saja mereka beranggotakan kurang lebih 5.000 mursyid dan da’i yang khusus merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah. Dan aktifitas mereka secara luas memperjelas bantuan/dukungan mereka terhadap penjajahan.
  3. Keadaan kelompok Ahmadiyah yang sedemikian, ditambah perlakuan pemerintah Inggris yang memanjakan mereka, memudahkan para pengikut kelompok ini bekerja menjadi pegawai di berbagai instansi pemerintahan di berbagai negara, di perusahaan-perusahaan dan persekutuan-persekutuan dagang. Dari hasil kerja mereka itu dikumpulkanlah sejumlah dana untuk membiayai dinas rahasia yang mereka miliki.
  4. Dalam menjalankan misi, mereka merekrut manusia kepada kelompok Ahmadiyah dengan segala cara, khsusnya media massa. Mereka adalah orang-orang yang berwawasan dan banyak memiliki orang pandai, insinyur dan dokter. Di Inggris terdapat stasiun pemancar TV dengan nama “TV Islami” yang dikelola oleh penganut kelompok Ahmadiyah.

Pemimpin-pemimpin Ahmadiyah

  1. Pemimpin Ahmadiyah sepeninggal Mirza Ghulam Ahmad bernama Nuruddin. Pemerintah Inggris menyerahkan kepemimpinan Ahmadiyah kepadanya dan diikuti para pendukungnya. Di antara tulisannya berjudul “Fashlb al-Khithab.”
  2. Pemimpin lainnya adalah Muhammad Ali dan Khaujah Kamaluddin. Amir Ahmadiyah di Lahore. Keduanya adalah corong dan ahli debat kelompok Ahmadiyah.Muhammad Ali telah menulis terjemah al-Qur’an dengan perubahan transkripnya ke dalam bahasa Inggris. Tulisannya yang lain. Haqiqat al-Ikhtilaf an-Nubuwah fi al-Islam dan ad-Din al-Islami.Khaujah Kamaluddin menulis kitab yang berjudul Matsal al-A’la fi al-Anbiya serta kitab-kitab lain.Jamaah Ahmadiyah Lahore ini berpandangan bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujadid. Tetapi yang berpandangan seperti ini dan yang tidak, mereka sama saja saling mengadopsi satu sama lain.
  3. Muhammad Shadiq, mufti kelompok Ahmadiyah. Diantara tulisannya berjudul Khatam an-Nabiyyin.
  4. Basyir Ahmad bin Ghulam, pemimpin pengganti kedua setelah Mirza Ghulam Ahmad. Di antara tulisannya berjudul Anwar al-Khilafah, Tuhfat al-Muluk, Haqiqat an-Nubuwwah.
  5. Dzhafrilah Khan, Menteri Luar Negeri Pakistan. Dia memiliki andil besar dalam menolong kelompok sesat ini, dengan memberikan tempat luas di daerah Punjab sebagai markas besar Ahmadiyah sedunia, dengan nama Robwah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang diadopsi dari ayat al-Qur’an (yang artinya):“Dan Kami melindungi mereka di suatu Robwah Isti’aroh (tanah tinggi yang datar) yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (QS. al-Mukminun : 50)

Kesimpulan

Ahmadiyah adalah kelompok sesat yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Aqidah (keyakinan) mereka berbeda dengan keyakinan agama Islam dalam segala hal. Kaum Muslimin perlu diperingatkan atas aktifitas mereka, setelah para ulama Islam memfatwakan bahwa kelompok ini kufur.

Maraji’

  1. al-Mausu’ah al-Muyassarah fii al-Adyan wa al-Madzahib wa al-Ahzab al-Mu’ashirah, oleh DR. Mani’ Ibnu Hammad al-Jahani.
  2. Tabshir al-Adhan bi Ba’di al-Madzahib wa al-Adyan, oleh Muhammad as-Sabi’i.

SUMBER:

Artikel ini disalin dari Majalah Fatawa volume 06 tahun II, 1425H/2004M. Disusun dan dialihbahasakan oleh Abu Asiah. Alamat Redaksi; Islamic Center Bin Baz, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan, Bantul – Yogyakarta.